IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Season 2 Drama Albiano



"Ucapan Grace jangan dimasukkan ke dalam hati, Kak. Karena, Grace mungkin hanya bercanda."ujar Alexa merasa bersalah melihat wajah sedih Vania.


Vania tersenyum lebar mendengar perkataan Alexa. "Tidak apa-apa, Alexa. Lagian benar kok yang di ucapkan, Grace. Kan, Grace sudah punya pacar." seru Vania. Grace memang akhir-akhir ini suka posting foto kebersamaannya dengan Albara di Instagram. Jadi, Vania memaklumi sikap Grace barusan.


"Kak, apa kakak tidak mau mencari pria lain saja?" tanya Alexa takut menyinggung perasaan Vania. Usia Vania sudah cukup matang untuk menikah. Apa lagi Vania seorang wanita. Usianya setara dengan Steven.


Vania hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Alexa. "Lebih baik kita makan, aku sudah sangat lapar." ujar Vania. Karena di Indonesia keluarga mereka biasa makan siang dengan nasi. Sementara di mansion klan king, mereka disuguhi dengan makanan yang terbuat dari roti dan keju.


Alexa mengenggam tangan Paskal, pemuda yang sudah sah menjadi suaminya. Nathan dan Jordan melihat mereka dari kejauhan.


"Apa kau tidak ingin menyerah?" tanya Nathan menatap Jordan. mereka sudah akrab sejak perayaan ulang tahun Steven, setahun setelah Stevi, Stevenson dan Alexa kembali.


"Apa kalian tidak makan? ayo ke ruangan makan." ajak Greyson kepada kakak ipar, adik iparnya dan besan nya.


Mereka semua melangkah menuju ruang makan. Para orang tua yang sudah berusia senja juga langsung melangkah menuju ruang makan.


Stevi dan Greyson saling menatap satu sama lain. Betapa bahagianya mereka melihat semua keluarga besar mereka berkumpul. Kebahagiaan singkat itu, tidak dapat diukur dengan uang ataupun waktu.


Albiano terlihat sudah mulai welcome dengan Steven dan Livia. Hanya membutuhkan waktu beberapa jam, Albiano sudah mulai memperlakukan Steven dan Livia seperti kedua orangtuanya. Ia tidak segan-segan menolak ataupun menerima pemberian Livia. Seperti sekarang ini


"Apa kamu menyukai seafood?" tanya Livia menatap putranya.


"Albi, alergi seafood." seru Albi menatap kearah kukis kesukaannya.


Livia dan Steven mengarahkan pandangan mereka, mengikuti pandangan Albiano.


"Apa kamu mau makan kukis di siang bolong seperti ini?" tanya Steven menatap aneh wajah berbinar putranya.


Albiano menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Steven.


Livia menyentuh kedua bahu putranya. "Apa kamu tidak takut gigi kamu berlubang? kukis itu mengandung banyak glukosa."


"Atau mau yang lain?" tanya Livia menawarkan makanan vegetarian kepada putranya.


"Come on, Mom. Albiano bukan sapi." kata Albiano tiba-tiba berdiri di atas kursi.


Semua orang mengalihkan pandangan mereka menatap kearah drama keluarga baru itu. Greyson dan Stevi langsung menghampiri menantu dan cucu mereka.


"Ada apa sayang? apa cucu Oma tidak suka dengan makannya?" tanya Stevi mengelus punggung Albiano.


Bibir Albiano tiba-tiba mengerucut ke depan, namun atensinya belum beralih dari kukis buatan Stevi. Greyson tiba-tiba tersenyum tipis melihat tatapan cucunya.


"Apa kamu mau kukis buatan, Oma?" tanya Greyson menyodorkan toples kukis kearah Albiano.


Alih-alih mengambil kukis itu, Albiano malah menatap Livia. Ia seakan-akan meminta persetujuan "Apakah Albi, boleh mengambil kukis itu?" kepada Livia.


Sementara Livia menaikkan sebelah alisnya melihat tatapan putranya. "Kenapa, Hem?"


Livia sama sekali belum peka dengan tatapan putranya. Karena Livia hanya peka dengan gombalan suaminya.


"Sayang... belajarlah peka mulai dari sekarang." ujar Stevi tersenyum hangat menatap menantunya.


"Sepertinya putramu masih menunggu persetujuan mu. Kamu saja yang kurang peka."


Livia tersenyum kikuk mendengar sindiran halus ibu mertuanya. Meskipun sebenarnya perkataan hangat mertuanya, bukan sebuah sindiran. Namun, tetap saja, Livia merasa tidak enak hati. Livia pada akhirnya membiarkan putranya memakan kukis buatan ibu mertuanya.


"Ambilah... tapi jangan banyak-banyak."


...***Bersambung***...