
Livia mencakar kuat punggung keras Steven untuk melampiaskan rasa sakit dan sesak akibat penyatuan tiba-tiba adik kecil pria itu. Steven dengan kuat mendorong adik kecilnya agar semakin masuk ke dalam sarangnya.
"Aku harus mendapatkan mu dan membuatnya merasakan bagaimana rasanya di khianat." monolognya dalam hati sembari mempercepat gerakannya.
"Ternyata begini rasanya melakukannya." lirihnya pelan menikmati rasa hangat cengkraman sarung adik kecilnya dari dalam sana. Steven menyemburkan bibit unggulnya berulang kali di rahim Livia.
Sementara Livia tanpa sadar menikmati aktivitas mereka. Gadis itu ikut merem melek saat adik kecil Steven masuk ke dalam sarangnya.
#
#
Di pagi harinya
Saat terbang, Livia menemukan dirinya sudah ada di kamar asing tanpa mengenakan busana. Ia masih belum mengingat kejadian tadi malam. Ia menangis sesenggukan melihat bercak darah segar sudah menempel diatas seprai ranjang yang di tempati-nya.
Hiks hiks hiks
#
#
Sebelumnya
Steven merasa bersalah setelah meniduri Livia dalam keadaan mabuk. Pria itu lalu melangkah menuju kamar mandi membersihkan diri. Setelah membersihkan diri, Steven melangkah keluar dari kamar membuatkan sarapan untuk mereka.
Setelah 30 menit bergelut dengan aktivitasnya di dapur. Steven membawa napan berisikan satu sandwich dan segelas susu menuju kamar tamu.
Namun suara tangis Livia mengehentikan langkahnya. Suara tangisan gadis itu terdengar jelas di pendengarannya saat tiba di depan pintu kamar tamu. Steven terdiam dan berdiri lama di depan pintu kamar itu.
"Jangan salahkan aku membawamu masuk ke dalam rencana balas dendam ku. Salahkan dirimu yang memiliki hubungan dengan keturunan penghianat itu." gumam pria itu dalam hati. Ia meninggalkan apartemennya bergegas pergi ke kampus.
#
#
Sepanjang berjalan menuju jalan raya, banyak pasang mata yang menatap aneh sekaligus sinis dengan penampilannya. Livia berusaha menahan gerumuh di hatinya.
Sepanjang perjalanan di dalam taksi, Livia mulai mengingat apa yang terjadi kemaren malam. Ia menangis tersedu-sedu menutup wajahnya mengingat kekejaman Steven.
Supir taksi cukup prihatin mendengar suara tangisan Livia.
"Anda membutuhkan tisu ini menghapus air mata Anda nona." ujar supir taksi itu menyerahkan dua lembar tisu kepada Livia.
"Saya tahu Anda sedang dalam keadaan tertekan. Tapi jangan putus asa, kebahagiaan akan selalu menghampiri Anda." hibur supir taksi itu tanpa tahu apa yang sudah Livia alami.
"Apa yang akan bapak lakukan jika seseorang yang sangat bapak cintai tega melukai hati bapak?" tanya Livia menghentikan tangisnya. Ia menghapus jejak air matanya.
"Satu kali orang itu menyakiti saya, maka saya berpikir orang itu sedang khilaf. Namun jika untuk kedua kalinya orang itu menyakiti saya, maka menurut saya orang itu benar-benar tidak akan pernah bisa berubah untuk tidak melukai saya. Saya memutuskan akan meninggalkannya." ujar supir taksi itu menatap sekilas wajah pucat sekaligus mata sembab Livia.
Livia termenung mendengar perkataan sopir taksi itu hingga Ia taksi itu berhenti di depan lobi apartemennya.
"Terima kasih untuk obrolan singkatnya pak."
"Dan sisanya tambahan rejeki untuk bapak." ujar Livia memberikan ongkos lebih kepada supir taksi itu.
Sementara seorang pria muda sedang menunggu kepulangan Livia di pos penjaga apartemen itu. Sudah satu jam lebih pria itu duduk disana menunggu kepulangan kekasih yang sudah dua tahun Ia pacari.
Sebentar lagi pria itu akan lulus S1, dan Ia berniat melanjutkan studi spesialisnya di California. Pria itu langsung berdiri dari duduknya saat melihat taksi berhenti di depan lobi apartemen kekasihnya. Ia tersenyum tipis melihat sekilas wajah kekasihnya dari jendela kaca supir taksi yang setengah terbuka.
Namun senyuman itu langsung memudar melihat pakaian compang-camping Livia. Ia menyeritkan keningnya sembari memperjelas pengelihatannya
"Dari mana? mengapa pakaianmu berubah compang-camping seperti ini?" tanya pria itu meneliti mimik wajah Livia.
"Apa kau melakukan sesuatu yang salah di luar sana?" tanyanya tiba-tiba. Matanya semakin membesar melihat beberapa bekas gigitan di kulit leher Livia.
Pria itu langsung berlalu dari sana tanpa menunggu penjelasan dari mulut Livia. Pria itu bukanlah laki-laki yang bodoh dan masih lugu.
...***Bersambung***...