IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Extra Part 30



"Kau harus tanggung jawab, Al!" ujar Gion dengan tegas setelah mendengar cerita Albiano.


"Tidak bisa! Aku tidak mau menyakiti hati papi dan keluarga kita!" ujar Albiano dengan cepat.


"Lalu bagaimana dengan bayi yang ada di kandungan Gefanny! Apa kau akan meminta Gefanny mengugurkan kandungannya! Apa kau tidak kasihan dengan Gefanny yang harus hamil di usia muda!" bentak Gion menatap tajam adiknya.


"Ini semua salahnya! Harusnya dia tidak menjebak ku dengan cara licik!" sahut Albiano tetap kekeuh dengan perkataannya sebelumnya.


Sementara Gefanny tiba-tiba sedih mendengar perkataan Albiano. Dua Minggu yang lalu Gefanny pikir cara licik yang dia lakukan akan membuatnya memiliki Albiano seutuhnya. Namun, ternyata Albiano kekeuh dengan amanah Haykal beberapa tahun yang lalu.


"Aku sudah menganggap mu sebagai putraku. Aku juga akan memasukkan namamu sebagai salah satu ahli waris ku. Aku tahu, harta keluarga Douglas sangat berlimpah. Namun, jauh di lubuk hatiku. Kau merupakan salah satu belahan jiwaku. Putra yang dari bayi sudah aku rawat dengan penuh kasih sayang. Posisi tersebut tidak akan pernah bisa digantikan oleh sosok lain ataupun status lain."


"Posisimu akan tetap sama! Sebagai putra pertama yang dari lahir aku rawat hingga usiamu menginjak 4 tahun."


"Papi harap kau akan menjaga adikmu dengan baik. Jangan terlalu memanjakannya saat aku tidak ada." lanjut Haykal tersenyum hangat menatap Albiano.


"Al! Dari matamu aku melihat sesuatu hal yang spesial. Aku tahu kau mencintai Gefanny. Tapi, kau terlalu keras kepala. Aku tidak mungkin menikahi orang yang tidak ku cintai. Karena aku sudah memiliki wanita lain yang aku cintai." ujar Gion sedikit lembut dengan saudaranya.


Albiano tentu saja terkejut mendengar perkataan Gion. Ia belum pernah melihat Gion dekat dengan wanita lain selain saudari-saudarinya.


"Aku tahu kau pasti terkejut dengan perkataan ku. Tapi, aku serius dengan perkataan ku. Aku yang akan bertanggung jawab terhadap semuanya." lanjut Gion menyakinkan adiknya. Ia tahu kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah yang sudah terjadi.


"Aku hanya mau kau bertanggung jawab dengan kehamilan Gefanny dan segera menikahinya. Bukankah tiga hari lagi kau akan berangkat ke Paris melanjutkan pendidikan mu? Aku akan mengatur keberangkatan kalian. Aku yang akan menyelesaikan masalah disini." tambah Gion lagi menyakinkan adiknya.


"Kau hanya bisa menuruti perkataan ku Al. Dan kumohon percayalah padaku."


Albiano menatap wajah serius Gion. Ia tidak percaya Gion akan berkata sejauh itu. Ia juga tidak percayalah Gion bisa bersikap sedewasa itu dalam keadaan seperti itu.


"Tapi, bagaimana dengan perkataan terakhir papi sebelum tragedi beberapa tahun lalu?" tanya Albiano mengungkit masa lalu.


"Jangan ungkit masa lalu, Al." tegur Gion saat tanpa sengaja melihat raut penasaran di wajah Gefanny.


"Kau tidak akan membuang anak mu kan? Apa kau ingin melihat anak itu tumbuh seperti Xaviera?" ujar Gion menakut-nakuti saudaranya.


Albiano menghela napas mendengar perkataan Gionino.


"Baiklah. Aku akan menikahi Gefanny dan bertanggung jawab atas kehamilannya. Aku juga akan membawanya ke Paris bersama ku. Tapi, aku ingin bertemu dengan wanita yang sudah Abang cintai sejak lama." ujar Albiano dengan wajah serius.


Deg


Gion tiba-tiba terkejut mendengar perkataan terakhir Albiano. Ia tidak menyangka kalau adiknya akan bertanya sejauh itu.


"Anu, dia sedang ada di luar negeri." cicit Gion cengengesan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Abang tidak bohong, Al." balas Gion dengan wajah datar.


"Aku tidak akan menikahi Gefanny sebelum Abang memperkenalkan gadis itu dengan ku!" tegas Albiano sedikit keras kepala.


Saat sedang berdebat seperti itu. Tiba-tiba Arabella masuk ke dalam ruangan CEO sembari membawa beberapa dokumen.


"Mohon maaf menganggu waktunya. Saya ingin menyerahkan dokumen yang harus ditandatangani. Dan saya juga mengingatkan bapak untuk bersiap mengikuti rapat 20 menit lagi." ujar Arabella takut-takut melanjutkan langkahnya.


Perkataan Arabella menghentikan perdebatan mereka. Gion lalu mengubah raut wajahnya menjadi datar dan angkuh.


"Tunggu aku di ruang tamu. Aku akan menyelesaikan dokumen tersebut beberapa saat". ujar Gion sebelum melangkah ke kursi kebesarannya.


Saat memutar tubuhnya kearah sofa. Albiano terkejut melihat Gefanny menatapnya dengan tatapan sendu. Ia tidak menyangka jika Gefanny sudah mendengar semua obrolan mereka.


"Ge..." lirih Albiano membatu ditempatnya. Ia merasa mulutnya tertutup rapat dan tak bisa berkata-kata.


Gefanny langsung menunduk saat melihat Albiano menatap kearahnya. Ia tidak tahu harus berkata apa kepada pemuda itu. Jujur saja jauh di dalam lubuk hatinya. Ia sedikit kecewa mendengar perkataan Albiano.


"Mengapa kau masih berdiri disitu, Al! Tunggu aku di ruang tamu! Gefanny juga sudah ada disitu." ujar Gion dengan dahi berkerut menatap kearah Albiano.


"Dan kau kemari lah." ujar Gion mengalihkan pandanganya ke arah Arabella dengan sedikit tajam.


"Aku ingin membicarakan sesuatu dengan mu."


Arabella sedikit takut melihat tatapan tajam Gion yang seakan berniat membunuhnya.


"A-ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?" tanya Arabella dengan terbata-bata. Untuk pertama kalinya gadis itu takut dengan tatapan tak biasa Gion.


"Nanti aku akan memberitahunya! Kau bisa keluar sekarang juga dari ruangan ku! Jangan lupa buatkan segelas jus dan cangkir kopi 1 dan antar ke ruanganku." ujar Gion tanpa mengalihkan pandanganya dari wajah Arabella.


"Kalau begitu saya permisi, Pak." jawab Arabella ingin cepat-cepat keluar dari ruangan itu. Ia merasa tatapan pria itu seperti ingin mengulitinya.


Setelah kepergian Arabella, Gion menandatangani beberapa berkas yang diantar gadis itu. 15 menit kemudian, Gion terkejut melihat Gefanny menangis tersedu-sedu keluar dari ruangannya. Meskipun jarak ruangan tamu dan kursi kebesarannya tidak terlalu jauh. Namun, pria itu tidak terlalu fokus dengan sekitarnya karena terlalu sibuk memeriksa beberapa dokumen sebelum menandatanganinya.


"Ge!" teriak Albi mengejar langkah Gefanny. Sementara Arabella juga ikut terkejut melihat Gefanny menangis tersedu-sedu keluar dari ruangan Gion saat tanpa sengaja mereka berpapasan.


"Apa yang terjadi?" gumam Arabella terpaku dengan situasi itu. Tak beberapa lama, ia melihat atasannya juga berlari keluar mengejar langkah Gefanny dan Albi.


"Pak, jangan pergi! Sebentar lagi kita akan rapat!" teriak Arabella berniat menghentikan langkah atasannya.


"Tunda rapat hari ini! Dan atur ulang jadwalku sampai besok!" tegas Gion keluar dari perusahaan dengan buru-buru.