IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Season 2 Albiano dan Gionino



"Abang mau membawa Albiano kemana?" tanya Albi mengikuti langkah Gion memasuki sebuah lorong.


"Sss.... diam-lah. Jangan berisik." bisik Gion menghentikan langkahnya.


"Apa kau tidak penasaran dengan suara tembakan tadi? atau jangan-jangan kau orangnya penakut?" ujar Gion melepaskan tangan Albi.


"Tidak, Albi tidak penakut sama sekali. Hanya saja lorong ini sangat gelap. Albi hanya bertanya, Abang mau membawa Albi kemana?" celetuk Albi tidak mau diejek penakut.


"Mengikuti suara tembakan itu, apa kau tidak penasaran?" tanya Gion. Karena anak itu sudah terbiasa mendengar suara tembakan. Malahan anak sekecil Gion sudah bisa menggunakan senjata api dan senjata tajam. Meyer juga mengajari sang cucu ilmu bela diri. Jadi jangan sekali-kali meremehkan kemampuan Gionino. Meskipun keturunan Stevenson tidak memiliki khodam pendamping, tapi keturunannya mewarisi bakat sang Daddy.


"Ayo, kau tidak perlu takut. Aku akan mengajarimu menggunakan benda itu, kalau kau tidak tahu cara menggunakannya." sambung Gion menarik tangan Albi, agar anak itu mengikuti langkahnya.


Tak beberapa lama, mereka tiba di ruangan penyiksaan musuh klan king. Mereka melihat tiga orang pria diikat kuat.


Gion tidak takut sama sekali melihat tubuh berdarah-darah ketiga pria itu. Lain halnya dengan Albiano, anak itu langsung muntah-muntah melihat darah membanjiri tubuh ketiga pria itu.


Jack membiarkan anggota klan king menghabisi nyawa mata-mata itu. Karena mata-mata itu tidak berguna sama sekali sebagai informan mereka. Jadi, suara tembakan tadi berasal dari ruangan itu. Karena posisinya tepat di bawah kamar yang Gion dan Albiano tempati. Biasanya mereka menggunakan pistol yang dibekali peredam suara. Namun karena yang mengeksekusi adalah anggota klan king. Jadi, mereka lupa menggunakan pistol peredam suara.


Huek


Huek


Huek


Suara muntahan Albiano menghentikan proses pengeksekusian tiga mata-mata itu. Mereka masih bisa bernapas, namun lama-lama darah segar itu akan habis juga. Mati secara perlahan mungkin lebih baik untuk kebungkaman mereka. Agar setiap musuh semakin berhati-hati mengusik klan king.


Anggota klan king membalikkan tubuhnya menatap Albiano dan Gion secara bergantian. Ia belum mengenal Gion dan Albiano sama sekali. Karena tugasnya di klan king sebagai pengeksekusi.


"Paman!" panggil Gion memanggil pria itu.


Dahi anggota klan king tiba-tiba berkerut mendengar panggilan Gion.


"Biarkan aku yang mengeskusi mereka bertiga, Paman." pinta Gion tersenyum lebar. Tiba-tiba aura menyeramkan keluar dari tubuhnya. Tubuh anggota klan king itu tiba-tiba merinding mendengar perkataan Gion.


"Kalian keluarlah dari ruangan ini. Tempat ini tidak bagus untuk kalian." ucap pria itu. Ia tidak mengindahkan permintaan Gion. Kemungkinan kedua anak kecil ini lagi kesasar pikirnya. Karena mansion klan king memang benar-benar megah.


"Ayo, Abang.... kita keluar dari sini. Apa kamu tidak mual melihat darah megenang dimana-mana?" ujar Albiano menarik tangan Gion. Namun Gion tidak bergeming sama sekali. Terselip senyum menyeringai di wajah polosnya.


"Apa kau tidak mempercayai ku, Paman? apa kau meremehkan kemampuan ku?" tanya Gion melangkah mendekati pria itu.


Pria itu menyeritkan keningnya mendengar nada serius di ucapan Gionino.


"Bagaimana caramu membuktikannya?" tanya pria itu.


Albiano membulatkan matanya mendengar ucapan Gion. Apa anak ini sudah gila pikirnya.


"Abang, jangan bermain-main dengan senjata api itu. Kau pasti akan dimarahi Daddy mu, kalau sampai menggunakan senjata itu." tukas Albiano.


"Tenanglah Albiano.... kau tidak perlu takut akan hal itu. Daddy ku cukup tahu bagaimana kemampuan putranya." sahut Gion.


"Bagaimana, Paman? apa kau mau menyerahkan pistol itu padaku?" tanya Gion menatap tajam kedua mata pria itu.


"Ambillah dari tanganku kalau kau bisa." ujar pria itu tersenyum meremehkan Gion.


"Cih! syarat yang kau berikan terlalu simpel, Paman." ujar Gion tersenyum menyeringai.


Dengan cepat dan gesit Gion melompat mengambil pistol dari tangan anggota klan king. Kecepatan langkah Gion mengelabui anggota klan king.


"Bagiamana mungkin anak sekecil ini bisa melangkah secepat itu?" ucapnya dalam hati. Ia sangat terkejut melihat pergerakan cepat Gion.


"Siapa kau?" tanya anggota klan king menatap intens wajah Gion. Namun Gion tidak menjawab pertanyaan pria itu. Ia malah menembak dahi ketiga mata-mata itu hingga tewas.


DOR


DOR


DOR


"Huff.... gitu aja kok repot." celetuk Gionino tersenyum lebar. Entah mengapa Ia sangat senang mempraktekan senjata itu secara langsung


"Siapa kau?" tanya pria itu kembali.


"Nanti kau juga akan tahu, Paman." ujar Gion tersenyum menyeringai.


Suara langkah kaki dari pintu lorong menghentikan pembicaraan mereka.


Tap


Tap


Tap


BRAK


...***Bersambung***...