IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Extra part 22



Seorang pria muda masuk ke dalam toko buku kakek Raul dengan wajah datar. Tak ada sedikitpun raut wajah ramah di wajah tampannya.


Pria itu lalu melangkah menuju barisan beberapa puluh rak buku. Ia terlihat mengamati sekitarnya sembari mencari keberadaan seseorang.


"Dimana gadis itu." gumam pria itu sembari pura-pura mencari-cari buku yang ingin Ia beli.


"Apa Anda membutuhkan bantuan, Tuan?" tiba-tiba suara lembut seorang wanita mengejutkan pria itu.


Amore tentu saja sangat familiar dengan pria yang ada di depannya ini. Ia merupakan pria yang sering menampakkan dirinya di depan rumahnya.


"Kau!" Amore terlihat cukup terkejut melihat pria itu.


"Apa yang kau lakukan disini! Apa kau berniat menguntit sampai disini!" ketus Amore meradang.


"Sial! Kenapa dia bisa tahu!" umpat pria itu dalam hati.


"Anda terlalu percaya diri Nona! Saya merupakan pelanggan tetap di toko buku Kakek Raul! Dan bukan hanya Anda saja penghuni rumah-rumah yang ada di perumahan itu. Saya juga memiliki rumah disana!" jawab pria itu dengan wajah datar. Ia tidak ingin Amore melihat raut wajah maling ketangkap basah di wajah tampannya.


"Ckckck! Aku tidak percaya kepada mu! Aku akan mengadukan perbuatan mu ke kantor polisi jika kau terus-menerus menguntit!" ancam Amore penuh peringatan.


"Silahkan saja! Saya tidak takut! Malahan saya yang akan menuntut Anda atas pencemaran nama baik!" kata pria itu membalas ancaman Amore.


Amore tentu saja langsung melotot mendengar keberanian pria itu.


"Cih! Kau pikir aku takut! Ini merupakan pertemuan terakhir kita! Jika aku melihat bertemu dengan mu untuk kesekian kalinya dilain waktu! Maka aku akan berteriak penguntit!"


Amore melangkah melewati pria itu begitu saja.


"Tunggu! Jangan pergi dulu!"


Tanpa sadar pria itu menarik tiga helai rambut panjang Amore dan langsung menyembunyikannya di dalam kepalan tangannya.


"Aw!"


Amore mendesis kesakitan. Ia merasa rambutnya seperti dicabut oleh pria yang sudah Amore cap sebagai penguntit.


"Apa yang kau lakukan!" ketus Amore sembari mengusap-usap kepalanya.


"Maaf. Aku hanya ingin meminta bantuan mu. Aku sedari tadi sedang mencari buku bisnis. Tapi tak kunjung kutemukan!" cicit pria itu pura-pura lemah.


"Cih! bilang kek dari tadi!" ketus Amore seketika melupakan sakit di kepalanya. Ia senang akhirnya pria itu akan menjadi pelanggan pertamanya setelah bekerja hari ini.


Kecanggihan teknologi zaman sekarang ini sangat mempengaruhi minat membaca para pelajar ataupun masyarakat umum. Banyak masyarakat yang kurang berminat membaca buku. Apa lagi harga buku cukup mahal apabila dibandingkan dengan membaca buku secara online. Terkadang membaca buku membuat orang-orang jenuh dan bosan.


"Jangan ketus-ketus! nanti wajah cantik mu cepat keriput." sindir pria itu mengikuti langkah Amore. Tapi, dibalik sindiran itu terdapat sebuah kata pujian.


Amore acuh saja dengan perkataan pria itu. Ia seakan menganggap perkataan pria itu sebagai angin lalu saja.


Setibanya di sebuah rak yang cukup besar. Amore menghentikan langkahnya.


"Ini merupakan rak khusus untuk buku-buku bisnis yang Anda butuhkan. Anda bisa mencari buku persis seperti yang Anda inginkan." kata Amore sembari melanjutkan langkahnya.


"Tunggu!" ucap pria itu menghentikan langkahnya.


"Hem." jawab Amore berdehem pelan sembari melanjutkan pekerjaannya merapikan buku-buku yang tercecer di beberapa rak di dekatnya.


Pria itu dengan cepat mengambil asal buku bisnis yang Ia inginkan. Setelah itu ia kemudian berlalu dari sana dan melangkah menuju meja kasir.


"Apa kau sudah menemukan buku yang kau inginkan?" tanya kakek Raul sembari membenarkan kaca matanya menatap pria itu dengan hangat.


"Sudah Kek." jawab pria itu tersenyum canggung.


"Cepatlah pulang! Kasihan kedua orang tuamu terlalu merindukan mu." ujar Kakek Raul sembari menyerahkan buku yang dibeli pria itu.


"Jangan beritahu mereka mengenai keberadaan ku, Kak! Aku masih ingin menyelesaikan misi ini!" kata pria itu dengan tegas sebelum berlalu dari sana.


Kakek Raul hanya bisa menghela napas panjang melihat kepergian cucunya.


"Dasar keras kepala." gerutunya sembari melanjutkan kegiatannya membaca buku.


Kakek Raul merupakan seorang Duda ditinggal meninggal istrinya. Ia hanya memiliki seorang putra yang berprofesi sebagai dokter. Untuk menghabiskan masa tuanya. Ia melanjutkan usaha keluarganya yang sudah lama berdiri. Selain untuk menghabiskan masa tuanya ditempat itu. Kakek Raul juga berharap bisa mengenang masa lalunya bersama istrinya di toko tersebut. Di usianya yang sudah menginjak 70 tahun. Kakek Raul masih kuat dan senang membaca buku-buku yang terlihat sudah jadul di meja belakang kasir.


Hari semakin sore. Namun, beberapa pengunjung terlihat masih sibuk mencari buku-buku yang mereka butuhkan.


Amore tentu saja sangat bahagia melihat para pengunjung semakin ramai. Apa lagi ini merupakan hari pertamanya bekerja setelah sembuh dari penyakitnya.


Hari semakin larut. Raut wajah Amore terlihat sangat lelah membantu kakek Raul melayani para pengunjung. Ia harus mencari beberapa buku yang diminta pengunjung hingga membuat tenaganya sedikit terkuras.


"Aku harus segera kembali ke rumah. Aku takut kakak khawatir saat tidak menemukan keberadaan ku." gumam Amore cepat cepat berpamitan kepada kakek Raul.


"Kek, seperti jam kerja ku telah usai. Aku mau berpamitan pulang." ucap Amore tersenyum ramah menatap pria paruh baya di depannya.


"Kau terlihat sangat kelelahan. Segeralah pulang. Besok jangan lupa datang tepat waktu." jawab kakek Raul tersenyum ramah menatap Amore.


Amore langsung keluar dari toko setelah berpamitan kepada kakek Raul. Ia berjalan cepat melewati beberapa toko yang berdiri di sepanjang jalan yang Amore lalui. Amore lalu melangkah menuju jalan kecil yang mengarah ke tempat tinggalnya.


Saat melewati gang kecil yang cukup sering Amore lalui. Ia melihat bayangan seseorang seperti mengikutinya dari belakang. Ia merasa bulu kuduknya merinding mengalami kejadian itu. Gadis itu semakin mempercepat langkahnya agar segera sampai di rumah.


"Jangan panik Amore. Tidak mungkin ada hantu di jalan terang seperti ini." gumam Amore memenangkan perasaannya.


Semakin Amore mempercepat langkahnya. Bayangan itu semakin mendekat kearahnya. Hingga Amore berjongkok dan berteriak ketakutan.


"Tidak! Tidak! Jangan ganggu aku! Aku hanya ingin lewat dan berjalan kembali ke rumah!"teriak Amore sembari memejamkan kedua matanya dan menutup kedua telinganya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya seorang pria menepuk pundak Amore.


"Suara ini terasa tidak asing." gumam Amore menghentikan teriakannya. Namun, tubuh wanita itu masih dalam keadaan bergetar karena ketakutan.


"Hey! Apa kau tuli? Aku sedang bertanya padamu?" ulang pria itu menyadarkan Amore.


Amore langsung melotot mendengar perkataan pria itu. Ia langsung berdiri dan menatap pria itu dengan tajam.


"Kau!"


Pria itu dengan muka polos tanpa dosa tersenyum bodoh menatap wajah marah Amore.