
Sementara Stevenson mendengar apa yang diucapkan saudaranya di dalam batinnya. Ia juga merasakan aura kemarahan yang cukup mencekam, yang berasal dari tubuh saudaranya.
"Tenanglah.... Aku bukan anak pria lain. Kita punya orang tua yang sama." ujar Stevenson melihat raut terkejut sekaligus amarah di wajah saudaranya.
Steven meneliti lagi wajah Stevenson "Benar, kami memiliki sedikit kemiripan" batinnya
"Tentu saja mirip, namun aku lebih tampan dari mu." ucap Stevenson narsis.
"Jangan salah paham dengan mommy. Dia cukup menderita ketika ingatannya kembali." sambung Stevenson dengan serius. Setiap malam Stevenson diam-diam keluar dari kamar untuk mencoba kemampuannya. Namun apa yang dia lihat dan dia dengar selama satu tahun ini membuatnya sadar, jika ibunya juga tersiksa menahan kerinduannya.
"Apa maksudmu?" tanya Steven penasaran
"Apa selama ini mommy amnesia? Jadi beberapa tahun lalu mommy datang ke Indonesia bukan karena tidak mau mengunjungi ku dan daddy. Tapi karena dia mengalami amnesia." batin Steven penasaran
"Iya.... Seperti kata batin mu." ujar Stevenson mengamati ekspresi wajah Steven.
"Senang bertemu denganmu saudaraku." sambung Stevenson merentangkan tangannya menyambut pelukan Steven.
Steven cukup terpukau dengan tingkah dewasa saudaranya. "Bagaimana dia bisa bertingkat dewasa seperti ini?" batinnya bertanya-tanya. Ia menatap intens wajah datar dan dingin Stevenson.
"Kau membuang-buang waktu ku hanya untuk mendengarkan suara batin mu." ucap Stevenson merasa bosan mendengar suara batin Steven.
Karena terlalu bosan menunggu pergerakan saudaranya, Stevenson berinisiatif melangkah mendekap saudaranya.
"Aku cukup penasaran bagaimana cara berburu di malam hari." bisik Stevenson. Ia kemudian melepaskan pelukannya.
"Apa kau mau mencobanya dengan ku?" tanya Steven menatap keantusiasan adiknya.
"Tentu saja. Aku ingin mencoba hal-hal baru." seru Stevenson.
"Dan ingat, kau adalah kakak laki-laki paling tua. Jadi sudah sepatutnya, kau meminta maaf kepada mommy atas sikapmu tadi sore." sambung Stevenson. Ia menatap serius kearah Steven.
"Baiklah...." lirih Steven mengalah. Entah mengapa dia merasa tidak bisa berkutik, jika berbicara dengan Stevenson.
#
#
Sementara di mansion klan king, Greyson melangkah menuju kamar putranya. Ia ingin bicara empat mata dengan putra sulungnya.
Cklek
Greyson membuka pintu, lalu menutupnya kembali. Ia melangkah mencari keberadaan putranya.
"Kemana dia?" gumam Greyson sembari melangkah mengitari kamar Steven, namun Ia belum juga menemukan keberadaan putranya.
CKLEKK
DUG
Tiba-tiba pintu kamar Steven dibuka dengan sangat kuat, sehingga suara benturan pintu ke tembok terdengar nyaring.
Greyson membalikkan tubuhnya menghadap pintu masuk kamar putranya. "Sayang.... Apa yang terjadi?" tanya Greyson menghentikan langkahnya, mencari keberadaan putranya. Ia melihat pipi putih istrinya sudah dibasahi air mata.
"Sayang.... Stevenson tidak ada di kamar...." lirih Stevi dengan mata sembab
"Mungkin dia sedang mengitari mansion klan king." ujar Greyson dengan tenang.
"Tapi ini sudah lebih dari 2 jam, Grey." seru Stevi. Ia belum pernah melihat putranya kepo dengan hal-hal baru yang baru dilihatnya. Dari pengamatannya selama ini, putranya tipikal orang yang datar dan dingin. Stevenson suka menyendiri, mendengar musik melalui earphone dan tidur tepat waktu bila di malam hari.
"Baiklah.... Aku akan menyuruh Jack mencari keberadaan putra kita. Steven juga tidak ada di kamarnya. Kemungkinan dia berada di tempat biasa." ujar Greyson melangkah keluar kamar sembari merangkul pinggang ramping istrinya.
...***Bersambung***...