IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Extra Part 19



Gion tersenyum puas melihat gerakan bibir Arabella. Ia tahu, kalau gadis itu sedang mengeluarkan sumpah serapan padanya.


"Aku tidak akan membiarkan mu bertahan lama bekerja dengan ku." monolog Gion tersenyum puas.


Lima belas menit kemudian Gion tiba di perusahaan. Ia langsung bergegas masuk ke ruangan rapat. Karena sebentar lagi rapat akan dimulai dengan salah salah satu investor dari Indonesia.


Ceklek


Gion tersenyum tipis menatap seorang pria yang sedari tadi sibuk mengobrol dengan wanita di sampingnya.


"Mom, Dad."


Gion memeluk tubuh Stevenson. Saat ingin memeluk tubuh Sherina. Stevenson tiba-tiba menghentikan tindakan Gion.


"Ingat kau sudah dewasa, Son! Jangan suka peluk-peluk istri Daddy sembarangan!"ketus Stevenson tidak suka melihat tindakan putranya. Ia seakan tidak rela, jika pria lain bersentuhan dengan istrinya.


Melihat wajah cemburu Stevenson. Gion mengurungkan niatnya bermanja-manja dengan Sherina.


"Daddy terlalu posesif kepada Mommy. Padahal pria yang memeluk Mommy adalah putranya sendiri. kenapa Daddy harus cemburu?" Gion seakan tidak percaya melihat raut wajah cemburu Daddy-nya.


"Kau akan paham saat kau sudah menemukan seorang wanita yang membuatmu jatuh cinta, Son." celetuk Stevenson menyenderkan kepalanya di bahu Sherina. Ia terlihat sangat posesif memeluk Sherina.


Gion pada akhirnya mendengus kasar dengan sikap posesif Stevenson.


"Kenapa Mommy dan Daddy datang ke perusahaan? Apa ada masalah?" tanya Gion menatap kedua orangtuanya bergantian.


Stevenson langsung duduk tegap menatap wajah putranya dengan wajah malas.


"Apa kami tidak boleh mengunjungi putra kami?" dengus Pria itu menatap Gion dengan malas.


"Dad, mulailah bicara dengan serius dengan putramu. Mommy cukup lelah mendengar pertengkaran kecil kalian." tegur Sherina mencubit gemas lengan suaminya.


Stevenson langsung menatap putranya dengan serius setelah mendengar perkataan istrinya.


"Ini terkait perjodohan mu."


Gion mendengus kasar mendengar perkataan Stevenson. Ia benar-benar tidak menyangka jika kedua orangtuanya tetap kekeuh menjodohkannya dengan wanita yang tidak Gion cintai.


"Gion tidak akan menikah dengan wanita yang tidak pernah Gion cintai, Dad, Mom...." jawab Gion dengan suara lirih.


Sherina dan Stevenson terdiam mendengar perkataan Gion. Mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena semua itu sudah di sepakati dari jauh-jauh hari.


Gion merupakan pilihan Haykal. Haykal memilih Gion ketimbang Albi yang sudah ia anggap sebagai putranya sendiri. Karena Haykal yakin jika Gion akan menjaga putrinya dengan baik. Apalagi Gion merupakan pemuda yang tegas dan memegang kendali atas dunia bawah tanah warisan turun-temurun Douglas. Hanya orang terpilih yang bisa menjadi ketua klan king.


"Jika kamu tidak mau menikah dengan wanita yang tidak kamu cintai. Lalu mengapa sampai hari ini kau masih sendiri?" tanya Stevenson dengan serius.


"Karena aku hanya ingin sendiri Dad." celetuk Gion dengan cepat. Ia benar-benar tidak tertarik menjalin hubungan dengan wanita-wanita di luar sana. Karena Gion tahu, wanita-wanita di luar sana hanya jatuh cinta dengan harta dan kekuasaannya. Ia benar-benar jijik dengan wanita materialistis seperti itu.


Apa lagi Gion tidak ingin memiliki pendamping seorang wanita lemah. Karena Gion tahu, bagaimana kejamnya dunia mafia.


"Apa kamu gay? Atau kamu mengalami impoten sehingga tidak minat dengan lawan jenis?"


"Dad!" tegur Sherina menghentikan pertanyaan suaminya.


"Aku hanya bertanya kepada putra kita, Sayang. Bisa saja putra kita menyembunyikan sesuatu hal rahasia yang cukup sensitif dari kedua orangtuanya." celetuk Stevenson merangkul pinggang istrinya dengan lembut.


"Aku takut pertanyaan dan Daddy akan menyakiti putra kita." cicit Sherina dengan lirih.


Sementara Gion biasa saja dengan pertanyaan dari Stevenson.


"It's Okey, Mom. Don't worry. Aku tidak masalah dengan pertanyaan Daddy. Hanya saja Gion masih ingin sendiri dan menunggu wanita tepat yang akan menjadi pendamping hidup Gion."


Gion lalu menatap Sherina dengan sangat hangat. "Aku juga berharap suatu hari nanti aku bisa bertemu dengan wanita kuat dan sederhana seperti Mommy." lanjutnya tanpa menyadari raut wajah cemburu dari Stevenson.


"Hentikan gombal mu itu, Son!" dengus Stevenson penuh peringatan. Ia tidak suka pria lain menjadi alasan istrinya tersenyum.


Sementara Sherina tersenyum hangat mendengar perkataan putranya. Ia benar-benar bangga melihat putranya tumbuh dengan baik.


"Andaikan Xaviera ada disini. Keluarga kita pasti lengkap." celetuk Sherina tanpa sadar tiba-tiba merindukan putrinya.


"Sayang..."


"Biarkan putri kita bahagia dengan pilihannya. Kita hanya perlu mendoakannya agar ia tenang disana." kata Stevenson dengan suara lirih menenangkan hati istrinya.


"Sepertinya kita sudah lama tidak berlibur ke peternakan di Brazil. Apakah kita harus merencanakan honeymoon untuk kesekian kalinya ke sana?" tanya Stevenson mengalihkan pembicaraan Sherina. Ia tidak mau melihat Sherina bersedih dan merasa bersalah dengan kelalaiannya di masa lalu.


"Sepertinya aku harus secepatnya menyelidiki gadis itu. Tapi, bagaimana bisa Xaviera bisa bertahan hidup sampai sekarang. Bukankah dokter yang dulu membantu persalinan Mommy mengatakan bila Xaviera tidak bisa diselamatkan?"