IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Season 2 Part 12



Sementara Papa dan Mamanya ikut sedih melihat tubuh bergetar putrinya. Mereka tahu putrinya dalam suasana hati terluka.


"Sayang.... Makan yuk. Mama sudah belikan pie daging sapi kesukaan kamu." bujuk Dena melangkah mendekati putrinya.


"Sherin tidak lapar ma." sahut Sherin dengan suara bergetar.


Tak beberapa lama dokter yang memeriksa keadaan putrinya masuk ke dalam kamar inap.


"Bolehkah kita bicara sebentar?" tanya Tuan Lendsky menatap serius dokter itu.


"Apa yang ingin Anda sampaikan Tuan?" tanya dokter paruh baya itu.


"Bisakah Anda.... " bisik Tuan Lendsky panjang kali lebar.


"Saya tidak mungkin melanggar sumpah saya sebagai seorang dokter Tuan." ujar dokter itu membungkukkan kepalanya. Siapa yang tidak kenal dengan pria di hadapannya ini. Semua orang tahu pria ini merupakan salah satu penguasa yang paling ditakuti dan disegani.


"Saya melakukan ini semua untuk kebaikan putri dan menantu saya. Saya akan menjamin semuanya." ujar Tuan Lendsky penuh harapan.


Ini juga sebenarnya saran dari menantunya. Pria itu juga cukup khawatir dengan keadaan istrinya. Tapi keadaan memaksa mereka untuk berpisah sementara waktu.


"Baiklah Tuan...." ujar dokter itu menghembuskan napasnya.


Dokter itu kemudian menyuntikkan sesuatu ke tubun Sherin. Tak beberapa lama Sherin memejamkan matanya.


Cklekk


"Anda memanggil saya Tuan?" tanya pengawal bayangan yang selama ini menjaga putrinya.


"Di mana menantuku?" tanya Tuan Lendsky menatap serius anak buahnya.


"Tuan sudah kembali ke apartemen yang selama ini mereka tempati Tuan." jawab pengawal itu.


"Suruh Stevenson datang ke bandara menemui kami untuk terakhir kalinya!" perintah Tuan Lendsky kepada anak buahnya.


#


#


Di Bandara


Sherina sudah di angkat masuk ke dalam jet pribadi Lendsky begitupun istrinya.


"Pa.... Aku titip istriku." ujar Stevenson penuh harapan.


"Ya.... Jaga dirimu. Papa akan menjaga mereka dengan baik" ujar Tuan Lendsky menepuk bahu menantunya.


"Cepat selesaikan kuliahmu dan jemput mereka ke kolombia." ujar Tuan Lendsky lagi sebelum naik ke jet pribadi miliknya.


Stevenson menghembuskan napasnya menatap pintu jet milik mertuanya mulai perlahan menutup.


"Sampai jumpa lima tahun lagi. Aku mencintaimu...." ucapnya menatap sendu kearah jet pribadi keluarga Lendsky mulai lepas landas. Untuk pertama kalinya ungkapan cinta itu keluar dari mulutnya.


"Untuk kecupan terakhir pun aku tidak bisa memberikannya." lirihnya membalikkan tubuhnya.


#


#


Sherina tidak pernah tahu apa yang di rencanakan Papa dan suaminya dibelakangnya. Yang Ia tahu Stevenson tidak pernah lagi kembali muncul di hadapannya karena pria itu tidak sanggup menerima kenyataan. Kalau mereka harus kehilangan salah satu dari bayi mereka.


6 bulan setengah kemudian. Ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat mirip dengan Stevenson. Bayi yang memiliki mata biru dan tatapan tajam.


Berbulan-bulan Sherin mengharapkan kehadiran Stevenson namun lagi-lagi Ia harus dikecewakan dengan kenyataan. Bahwa pria itu tidak akan pernah kembali menemuinya.


Sherin terdiam lama duduk di halaman mansion-nya sembari memangku anaknya yang sudah berusia 2 tahun.


"Aku harus kembali ke sana. Aku sangat merindukannya." monolognya. Ia mengelus lembut kepala putranya.


Tak beberapa lama Tuan Lendsky dan Dena melangkah mendekati putri dan cucu mereka


"Sayang apa kalian akan berjemur seharian disini?" tanya Dena tersenyum tipis melihat putri dan cucunya.


"Ma.... Pa...."


"Bolehkah Sherin menitipkan putra Sherin Kepada kalian. Sherina mau menemui Neymar di London." ujar Sherin tiba-tiba tanpa menjawab pertanyaan Mamanya.


"Apa kamu yakin?" tanya Papanya datar. Tidak ada lagi senyuman di wajahnya.


"Pergilah kalau itu keinginan kamu." ujar Tuan Lendsky berlalu dari sana.


Sherin menatap sendu punggung bidang papanya. Ia heran mengapa papanya tidak mengijinkannya kembali ke London.


"Sayang.... Apa kamu tidak mau tinggal disini beberapa tahun lagi? apa kamu tidak akan merindukan si tampan ini?" ujar Dena berusaha mengurungkan niat putrinya.


"Baiklah...."


"Mama akan membujuk Papa kamu." pasrah Dena.


"Ma dong dong." ujar pria kecil itu merentangkan tangannya kearah Dena.


"Apa kamu mau Oma gendong?"


"Cup cup cup...."


"Sayangnya Oma dan Opa"


Dena mengambil cucunya dari pangkuan putrinya.


"Pikirkan lagi keputusan kamu. Mama akan berusaha membujuk Papa kamu." ujar Dena sebelum masuk ke dalam mansion.


#


#


Di kamar


Meyer menatap lama foto seorang wanita muda. Dimana wanita itu sedang memangku seorang bayi perempuan berusia 2 bulan.


Cklek


"Apa foto itu sangat berharga untukmu?" ujar Dena datar sembari menggendong cucunya.


"Sayang.... Kita sudah membicarakannya beberapa tahun yang lalu." sahut Meyer Lendsky menatap hangat Istrinya.


"Tapi anak itu sudah melukai putri kita? apa kau akan diam saja melihat penderita putri kita?" tanya Dena menatap dingin Meyer.


"Jika kau tidak mengijinkan putriku kembali ke London. Sebaiknya kita bercerai saja. Aku tidak mau hidup bersama pria yang belum selesai dengan masa lalunya." lirih Dena membalikkan tubuhnya.


"Dia juga anak kandungku Dena!!" teriak Meyer frustasi.


"Aku sangat mencintaimu dan putri kita. Tapi kita tidak bisa melupakan kenyataan kalau anak itu juga adalah anak kandungku." sambung Meyer menurunkan intonasi suaranya.


"Aku tahu anak itu adalah anak kandungmu. Tapi apa kau akan merasa bahagia bila anak kandungmu yang lain harus menderita karena ambisi anak kandungmu itu?" ujar Dena menahan air matanya.


"Lain kali pelan-kan suaramu saat berbicara di depan cucuku." sambungnya lagi mengelus pelan kepala cucunya. Ia melihat sedari tadi air mata sudah menggenang di bola mata cucunya. Dena lalu melangkah menuju pintu keluar meninggalkan suaminya.


"Dia juga cucuku Dena." lirihnya setelah melihat pintu kamar mereka tertutup kembali. Meyer menyenderkan tubuhnya di atas tempat tidur mengingat perkataan menantunya 3 tahun lalu.


#


#


Flashback 3 tahun lalu


Saat sedang melatih anak buahnya, tiba-tiba ponsel Meyer berbunyi. Pria itu langsung mengangkat panggilan itu.


[Hallo?]


"Iya dengan siapa?" tanya Meyer


[Saya Stevenson Neymar Lorens] ujar Stevenson dari seberang sana.


"Apa kau putra Greyson?" tanya Meyer. Pria itu sering kali mendengar nama pria muda itu dari mulut putrinya.


[Benar. Hari ini saya berniat menikah dengan putri Anda. Apa Anda merestui Pernikahan kami?] ujar Stevenson tanpa basa-basi.


"Apa kau mencintai putriku?" tanya Meyer serius


[Saya tidak tahu....]


[Yang saya tahu.... Saya merasa cemburu dan kesal melihatnya dekat dengan pria lain. Saya juga terkadang marah kalau putri Anda tersenyum kepada pria lain.] ujar Stevenson serius.


Meyer tersenyum tipis mendengar ucapan pria itu. "Sebagai seorang Papa, aku merestui pernikahan kalian. Namun satu yang Papa pinta...."


"Jaga putri Papa dengan baik. Jangan pernah menyakiti hatinya. Papa tahu Sherina sangat mencintaimu." ujar Meyer menghapus air matanya. Pria itu cukup terharu mendengar permintaan restu calon menantunya.


"Maafkan kami tidak bisa datang. Dan juga panggil aku Papa." sambung Meyer.


"Semoga Tuhan selalu melimpahkan berkat dan kebahagiaan untuk pernikahan kalian." pesan Meyer.


[Baiklah Papa mertua. Terima kasih untuk restunya. Titip salam untuk Mama mertua. Sebentar lagi acara pemberkatannya akan dimulai. Aku tutup teleponnya.] ujar Stevenson menutup panggilannya.


...***Bersambung***...