
"Pangeran kutub Sherina, jangan ngambek ya...." lirih Sherina. Ia mengerjakan matanya berulang-ulang meluluhkan hati sang suami. Stevenson yang ikut membalas tatapan berbinar istrinya, langsung luluh.
Stevenson tidak membalas ucapan istrinya, namun pria itu meninggalkan satu kecupan manis di dahi sang istri.
"I love you"
"Me too" balas Sherina tersenyum manis.
Suasana di mobil itu tiba-tiba berubah menjadi hangat. Sang sopir tidak akan bisa melihat atau mendengar obrolan sepasang suami-istri itu. Karena ada sekat antara bangku penumpang dan bangku pengemudi.
Sementara Gion tidak terusik sama sekali mendengar curhatan hati sepasang suami istri itu. Lain dengan anak kecil yang sedari tadi mendengar obrolan sepasang suami-istri itu. Ia cukup terharu mendengar kalimat demi kalimat yang terucap dari bibir kedua orangtuanya.
"Mom, Dad. Meskipun aku tidak terlihat, tapi percayalah. Aku akan selalu ada di hati kalian. Sebenarnya, aku ingin merasakan apa yang dirasakan anak kecil lainnya. Tapi takdir seakan tidak menghendakinya." lirihnya menurut kedua wajahnya.
Iya sedih, karena hanya Gionino yang bisa melihat wujudnya. Sementara kedua orangtuanya tidak bisa melihatnya.
Tak beberapa lama mereka tiba di depan apartemen.
"Sayang.... kalian tidak usah turun. Aku cuma mau mengambil pot bunga dan juga dokumen perusahaan." pinta Stevenson.
"Jangan turun dari mobil, karena hari sudah mulai gelap." sambung Stevenson.
Sherina menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan suaminya.
Stevenson lalu meletakkan tubuh putranya di pangkuan istrinya. Sherina menatap sekeliling parkiran apartemen sembari menunggu suaminya.
Sherina melihat seorang pria sedang mengawasi mereka. Ada sedikit rasa cemas dihati Sherina. Namun sebisa mungkin wanita itu berusaha berpikir positif.
Tak beberapa lama Stevenson membuka pintu penumpang. Suaminya membawa satu pot bunga mawar putih dan satu map coklat. Stevenson lalu duduk di samping istrinya sembari memangku pot tersebut.
Mobil yang mereka tumpangi melaju menuju bandara. Suasana di dalam mobil terasa hening. Stevenson masih sibuk dengan rencana dan pikirannya. Sementara Sherina masih penasaran dengan pria yang dilihatnya tadi.
#
#
Di mansion Klan King
Tepatnya di ruangan komputer, Livia masih bergelut dengan pikirannya. Ia sama sekali tidak tahu, hukuman seperti apa kira-kira dimaksud Greyson. Rain tersenyum kecil melihat ekspresi berubah-ubah Livia. Ia tahu wanita di depannya ini masih polos dan tidak mengerti mengenai dunia mafia.
Sebenarnya Greyson sudah menyiapkan rencana besar untuk putra dan menantunya. Namun rencana itu harus dilalui dengan sebuah sandiwara. Karena Greyson tahu, hanya cinta putranya yang bisa mengobati luka sang menantu. Greyson juga tidak mau, kalau suatu hari masih ada dendam yang tertinggal di hati menantunya. Dibalik semua itu, Greyson juga sudah menyiapkan hadiah untuk kedua putranya.
"Nona waktunya sudah habis. Jika Anda belum mendapatkan hukuman yang pas untuk Tuan muda. Lebih baik Anda ikuti saya." ucap Rain. Sebenarnya pria itu tidak tega melihat wajah sedih Livia. Namun dipikirkannya, Rain berpikir setelah kesedihan hari ini, seterusnya mereka berdua akan bahagia.
Air mata mulai menggenang di kedua bola mata Livia. Ia mengalihkan pandangannya kearah Rain, meskipun Ia masih khawatir dengan keadaan Steven. Livia memberikan diri berbicara kepada Rain." Bisakah paman memberikan waktu kepadaku berpikir kembali? aku benar-benar tidak paham dengan maksud pria tadi." tutur Livia. Ia tidak ingin Steven dihukum. Karena Steven merupakan pria kedua dalam hidupnya setelah ayahnya.
"Ini keputusan dari Daddy tuan muda." jawab Rain.
"Dad-daddy?" gumam Livia terbata-bata.
"Pria tadi yang kau maksud merupakan ayah dari suamimu. Percayalah, keputusan ini merupakan keputusan yang terbaik untuk kalian." sambung Rain. Ia tersenyum tipis menatap wajah risau Livia.
"Mari, Nona. Ikut saya keluar dari ruangan ini. Saya akan menunggu Anda di depan pintu." ucap Rain lagi. Pria setengah baya itu lalu melangkah keluar dari ruang komputer.
...***Bersambung***...