
Greyson menyeritkan keningnya mendengar perkataan ambigu menantunya.
"Maksudmu?" tanya Greyson cukup penasaran.
Livia diam tak bergeming. ia langsung menutup kedua mulutnya tidak mau menjawab pertanyaan Greyson.
Greyson melanjutkan interograsi-nya saat melihat Livia diam seribu bahasa dan menundukkan sedikit kepalanya.
"Apa kau mengenal pria itu?" tanya Greyson mengarahkan jari telunjuknya kearah layar komputer yang baru saja Rain tampilkan.
Livia terkejut melihat Steven digantung di tiang penyangga dengan kaki dan tangan diikat. Jika sebelumnya kepada Steven tidak ditutup. Maka sekarang kepala pria itu ditutup.
Lagi-lagi Livia diam tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer ruangan rahasia klan king.
"Apa yang pria itu lakukan padamu di masa lalu?" tanya Greyson menatap tajam kearah menantunya.
"Dia tidak melakukan apa-apa." jawab Livia menyembunyikan kesedihannya.
"Jika kau masih kekeh dengan kebohongan mu! maka aku tidak akan segan-segan membunuhnya sekarang juga!" ancam Greyson membuat tubuh Livia gemetaran.
Livia menautkan kedua tangannya mengurangi rasa takut dan khawatirnya.
"Baiklah. Aku tidak perlu lagi mendengar jawaban darimu. Diam mu semakin membuatku yakin, kalau pria itu sudah menyakiti mu." ujar Greyson melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Jack! cambuk Steven!" perintah Greyson tanpa mengalihkan pandangannya dari ekspresi wajah Livia.
Sementara Livia terkejut mendengar perkataan pria setengah baya di depannya. Ia belum tahu kalau Greyson adalah ayah mertuanya.
Pyarrrrrrrrrr
"Arghhhhh!!!!"
Suara erangan terdengar nyaring di pendengaran Livia hingga membuat wanita itu menutup kedua telinganya.
"Jangan--"
"Jangan lakukan itu!"
"Apa yang pria itu perbuat padamu lima tahun yang lalu! jawab!!" ucap Greyson meninggikan suaranya. Ia melakukan semua ini untuk kebaikan mereka bersama.
"Dia meninggalkan!! dan itu menyakitiku!!" teriak Livia tidak tahan ditekan dan dibentak Greyson.
"Dia-dia--"
Haykal membawa Livia kembali ke apartemen yang ditinggali gadis itu selama ini. Hatinya juga sebenarnya hancur saat mengetahui kekasihnya yang selama ini Ia jaga dan cintai, ternyata mengandung anak dari pria lain.
"Haykal--"
"Aku tidak sanggup merawat anak ini sendiri! aku harus bagaimana? apa aku harus melenyapkannya?" tanya Livia mengigit bibir bawahnya. Ia masih ingin melanjutkan kuliahnya dan kembali ke kota asalnya.
"Kehamilan ini tentu akan merepotkan ku. Apa lagi aku sudah berjanji kepada Mama dan Papa akan lulus dengan nilai yang memuaskan." sambung Livia sedikit cemas.
Sementara Haykal terkejut mendengar perkataan Livia. Bagaimana mungkin Livia bisa berpikir sampai sejauh itu pikirnya.
"Livia! anak itu adalah sebuah anugrah! kamu tidak bisa berucap seperti itu!" nasehat Haykal.
"Ta-tapi aku tidak bisa merawatnya! aku ingin mencapai impianku! aku belum siap menjadi ibu muda tanpa seorang suami!" ucap Livia menangis tersedu-sedu.
"Dia meninggalkan kami Haykal! aku hanya wanita yang Steven jadikan sebagai jalan balas dendam!!" teriak Livia luruh ke lantai.
Haykal menyeritkan dahinya mendengar perkataan Livia. "Apa maksudmu?" tanya Haykal menatap serius Livia.
"Dia mendekati ku, karena ingin balas dendam kepada keluargamu! apa salahku Haykal? aku bukan bagian dari keluarga mu! mengapa hal seperti ini harus aku alami!" lirih Livia menutup kedua wajahnya dengan telapak tangannya.
Haykal benar-benar tidak mengerti maksud dari perkataan Livia. Karena Ia tidak pernah bertanya mengenai masa lalu kedua orangtuanya.
"Aku yang akan membantumu merawat bayi mu." tawar Haykal membantu Livia berdiri.
"Bersihkan tubuhmu dan turunlah. Aku akan menunggu mu di parkiran mobil." ucap Haykal
"Aku akan membawa mu ke rumah sakit memeriksa kondisi kandungan mu." sambung Haykal berlalu dari sana.
...***Bersambung***...