
Albiano langsung terdiam, ketika mendengar pertanyaan Daddynya.
Alih-alih menjawab pertanyaan Steven, Albiano malah mengajukan sebuah pertanyaan kepada Steven. "Apa aku boleh bertemu dengannya?"
"Apa kau merindukannya?"
"Iya, Albi ingin bertemu dengan Papi." gumam Albi dengan suara pelan.
Steven terdiam sebentar saat mendengar perkataan putranya. Ia merasa Albi benar-benar menyayangi pria yang selama ini Ia panggil Papi.
"Kita akan menemuinya setelah usia adikmu cukup stabil di dalam perut Mommy. Kita juga bisa liburan disana beberapa hari. Apa kau senang mendengar perkataan Daddy?"
"Ya, Albi senang."
"Jangan pendam apapun yang kamu inginkan. Minta saja kepada Daddy dan Mommy. Kami pasti memberikan apa yang kamu inginkan."
"Benarkah? apa Albi boleh minta satu kamar dengan Abang Gion? dan kamar satunya lagi dijadikan kamar pribadi Xaviera?" celetuk Albiano tiba-tiba membuat langkah Steven terhenti.
"Xaviera? siapa dia?" Steven terlalu sering mendengar nama itu disebutkan oleh putra dan keponakannya.
"Saudari kembaran Abang Gion." sahut Albiano dengan singkat menatap kebelakang.
"Apa Albiano punya Indra keenam juga?" gumam Steven dalam hati.
"Apa kau bisa melihatnya?"
"Ya, Albi dan Abang Gion bisa melihatnya." sahut Albiano tersenyum lebar.
"Xaviera sangat cantik, jika dia besar nanti, kemungkinan banyak pemuda yang jatuh cinta padanya." sambung Albiano memuji saudarinya itu.
"Benarkah? secantik apa keponakan Daddy itu?" tanya Steven ketika pria itu merasakan aura teduh di sekitar mereka.
"Xaviera sangat cantik seperti Barbie. Dia memiliki bola mata sebiru laut. Dan rambutnya sedikit pirang." ujar Albiano meneliti penampilan Xaviera kecil.
"Wow.... apa sorotan mata keponakan Daddy juga memikat?"
"Bilang padanya tumbuhlah menjadi gadis yang cantik, agar suatu hari nanti datang pangeran berkuda putih mengenggam tangannya." seru Steven setelah tiba di ujung lorong tak jauh dari tangga.
"Dia tersenyum lebar mendengar pujian Daddy." sahut Albiano tersenyum lebar menatap Xaviera.
"Apa orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali?" tanya Albiano memperhatikan raut wajah Steven.
"Orang yang sudah meninggal tidak akan bisa hidup lagi. Karena mereka sudah memiliki dunia sendiri. Kita dan orang yang sudah meninggal memiliki alam yang berbeda. Meskipun ada beberapa orang yang memiliki kemampuan istimewa dapat melihatnya."
"Namun tak menutup kemungkinan, kalau orang yang sudah meninggal bisa terlahir kembali." terang Steven mengelus kepala putranya.
"Nanti sampaikan permintaan mu itu kepada Opa dan Oma. Daddy takut mereka kecewa mendengar keputusan mu. Kamar itu merupakan hasil karya tangan Opa dan Oma mu. Atau Kau meminta Opa membuatkan satu kamar lagi untuk Xaviera." saran Steven membuat Albiano terdiam sebentar sebelum menyetujui saran Daddynya.
"Baiklah." sahut Albiano tersenyum tipis melihat Xaviera bahagia.
"Dad! Xaviera terlihat bahagia mendengar saran dari Daddy."sambung Albiano tersenyum lebar.
"Ya! dia harus bahagia! hidup di dunia ini dengan dunia mereka tidak jauh berbeda. Katakan padanya jangan iri dengan dunia fana ini. Karena hidup di dunia ini sangat keras." terang Steven. Tak beberapa lama mereka tiba di depan kamar yang di tempati Livia.
Cklek
Albiano dan Steven masuk ke dalam kamar, mereka mendengar suara muntah-muntah Livia dari luar kamar mandi.
Hoek
Hoek
Hoek
Suara muntah-muntah dari kamar mandi terdengar berulangkali.
...***bersambung***...