My Name JOANA

My Name JOANA
92



Joana lanjut makannya dengan mood yang berubah buruk karna pikirannya sudah berantakan, ia memikirkan yang baru saja ia alami


ketika selesai makan, baik Joana dan Samuel sama sama tidak sadar karna kegemasan Samuel mengigit bibir Joana, bibir Joana malah sedikit membengkak dan memerah, dan ada bekas ciuman pada bibir atas dan bekas gigitan pada bibir bawa


ketika mereka keluar dan menyapa ketiga anak buah Samuel, kebetulan disana, Fabian tidak ikut, hanya Bastian, Ravansa dan Nico yang ikut


mereka bertiga menyadari bibir Joana berbeda dari awal mereka melihatnya sebelum masuk ruangan makan vvip bersama Samuel


langsung mereka semuanya paham, apa yang sudah terjadi dengan bibir Joana itu, padahal jika Fabian ada, Fabian adalah anak buah Samuel yang tau jika Samuel sebelumnya pernah mencium bibir Joana juga


"kalian kenapa melihatku?" tanya Joana kearah ketiganya


"emm" ucap Nico kaget


"bos, itu bibirnya" bisik Ravansa


"ssst, jangan bicara, nanti saja kujelaskan, tidak disini, dia tidak tau bibirnya merah" kata Samuel


"emm"


mereka semua diam dan mereka tau apa yang sudah terjadi didalam tapi karna Samuel meminta agar mereka diam, jadi ya diam


Joana pergi ke kampusnya lagi karna minggu itu adalah minggu terakhirnya mendapatkan kelas, minggu depan, sudah bebas


saat sampai kelasnya..


"Joana, kamu tadi kayaknya pergi kan sama bos Sam?" tanya Akeyla


"iya, baru sampai disini lagi"


"oh kemana?"


"makan siang saja"


"oh, kupikir kemana"


Akeyla duduk disamping Joana dan mulai belajar bersama Joana disana membaca materi akan dilakukan mereka bentar lagi, beberapa teman juga berdatangan termasuk Marcello, Marcello menyadari jika ada yang beda dengan bibir Joana


"Joana" sapa Marcello


"ya cell?"


"itu bibirmu kok merah? gak seperti biasanya"


"emm merah?"


"eh iya, aku baru sadar loh, kok merah, gak sama bawa bibirnya sama atasnya" jawab Akeyla


"kamu pakai lipstick?" tanya Marcello


"apa sih? coba aku pinjam kaca cermin" kata Joana


Joana meminta kaca cermin kecil yang sering dibawa oleh salah satu teman nya yang lain di kelas itu


melihat bibirnya seketika Joana ingat jika ini pasti karna ulah dari Samuel barusaja


"ya kan? kenapa?" tanya Marcello


"aduh, mau jawab apa lagi sama mereka" kata Joana dalam hatinya


"Joana? baik baik saja kan?" tanya Akeyla


"ahh jangan jangan keracunan makanan ya" sambar Marcello


"ceeeel" ucap Akeyla


"oh tidak, ini mungkin gara gara tadi pas aku jalan kesini, aku menepuk nyamuk di bibirku tadi tidak sengaja, karna itu kali" kata Joana


"ah pantas, iya itu bengkak dan merah, kompres sana"


"biar, nanti hilang kan"


"tapi kan gatal Joana"


"tidak, itu dosen datang juga"


mereka mengikuti pelajaran hari itu, lama kelamaan juga bekas itu menghilang dari bibir Joana, beberapa hari kedepan, Joana bersama dua temannya itu sangat sibuk dengan beberapa pekerjaan kelas


hingga tak terasa seminggu berikutnya, siang berikutnya, Joana sudah tidak ada kelas sama sekali sampai ia akan balik ke indonesia, tapi Joana tetap akan datang ke kampusnya dimana Joana akan menemui Carrabelle untuk membahas beberapa hal


"selamat siang bu" sapa Joana


"terimakasih"


mereka mulai membahas banyak hal, tentang nilai, komentar tertulis Carrabelle dan komentar lisan, bahkan Carrabelle menunjukkan ia sudah mengirim komentar dan beberapa masukan juga banyak pembahasan tentang Joana selama disana ke email kampus Joana


selesai pembahasan...


"terimakasih ya Joana, kamu sudah menjadi murid baik, meskipun kamu murid kilat"


"iya bu, sama sama, aku juga merasa, anda dosen baik, anda murah senyum kepada saya, padahal image anda tegas, ahh dosen paling cantik pula" jawab Joana


"ssst Joana, kau merayuku ya? haha, jadi malu"


"haha ibu bisa deh"


mereka mengobrol diluar pekerjaan kampus disana, yap, karna bagaimana memang Carrabelle menyukai cara kerja Joana, santai, lamban tapi hasil baik


Carrabelle belajar dari Joana, bahwa apapun dilakukan tidak perlu dengan keterburuan, bisa dikerjakan dengan pelan dan hasilnya akan baik


"oh ya bu, Tivano sudah kesini?" tanya Joana


"Tivano masuk tadi pagi kesini, jadi dia sudah balik asrama, mungkin dia membersihkan asramanya"


"emm, yasudah bu, terimakasih waktunya, saya pamit izin pergi"


"ya Joana, oh ya Joana, stay humble ya"


"ya bu, pasti" jawab Joana


Joana pun pergi meninggalkan ruangan itu, ia kembali ke asrama nya lalu membersihkan kamar itu, lalu ia membawa koper nya yang berisi baju bajunya untuk ia bawa ke rumah Lestari


ia pun pergi jalan kerumah Lestari, saat di tengah jalan, tepat dimana Joana akan melewati halte bis dimana ia pernah diculik oleh anak buah Motheo


Max ternyata mengikuti Joana sejak awal Joana keluar dari gerbang kampusnya, Joana berjalan, hingga tepat di halte itu, Joana duduk di halte untuk beristirahat


tapi saat Joana duduk, Joana mencium aroma yang ia kenal disana, dan dihalte itu hanya ada 2 orang yaitu Joana dengan seorang gadis


seketika Joana mengingat wangi itu..


"emm kak" sapa Joana kepada gadis berdiri di depannya


"ya?" jawab gadis itu


"kak Sherla ya?" sapa Joana


"ya, kamu tau saya?" tanya Sherla sedikit mundur


"saya tau nama kamu sejak saya diculik oleh anak buah kak Theo, yang dikira nya aku adalah kamu, kak Theo terus memaksaku mengakui keberadaan kamu, tapi aku benar benar tidak tau" kata Joana


"ahh kamu ini berarti gadis yang bertukar baju waktu itu denganku?"


"iya kak, aku Joana"


Sherla langsung melirik sekitarnya, ia meminta agar tidak disana mereka mengobrol karna takut jika ada yang mengetahui keberadaan Sherla apalagi anak buah Motheo


"bisa kita bicara ditempat lain? disini tidak aman" kata Sherla


"tidak aman?"


"iya, please bawa aku dulu pergi kemana, yang aman"


"kerumah ibuku kak, ayo" ajak Joana


"yaa"


mereka pun pergi berjalan kerumah Lestari lalu masuk kerumah itu, dan selama mereka bertemu sejak awal hingga masuk rumah Lestari, Max mengetahuinya ia bahkan merekam semuanya


sementara didalam rumah...


"duduk kak" sapa Joana


"iya, makasih"


baru mereka disana mengobrol, Sherla menjelaskan apa hubungannya dengan Motheo, yang ternyata Sherla adalah gadis yang memang diincar oleh Motheo untuk dibunuh, karna satu keluarganya sudah berhasil dibunuh satu persatu tanpa tersisa oleh Motheo dan anak buahnya berempat


mendengar itu, Joana kaget, ternyata memang Sherla memiliki masalah cukup besar dengan Motheo


dan sedikit dari yang diceritakan oleh Sherla karna kakek buyut Sherla dulu adalah musuh dari kakek buyut Motheo yang menghabisi keturunan awal awal keluarga Motheo yaitu keluarga pertama dari Sherla