My Name JOANA

My Name JOANA
110



"kenapa dah, masak gak bisa, biasa juga gitu" kata Sahid


"males dong pergi nya pagi, cuma se encrit nunggu siangnya, bolak balik gue"


"ya gakpapa kan dong, kontrakan deket ini"


"iya sih"


"yaudah gue tidur, ngantuk ini, enak chat pake telfon lu"


"iya iya ah"


esoknya saat Elva berangkat pagi ke kampus, saat akan berpamitan kepada Elyas, Elyas masih tidur jadi ia menutup kembali pintu kamar abangnya dan pergi tanpa berpamitan


sesampainya dikampusnya, ia berjalan kekelasnya, mengecek dulu beberapa folder garapan kelompok kelompok lain yang dikumpulkan kepada nya


saat selesai, ia berjalan kearah ruang rapat fakultas, dan saat masuk, ia melihat ada dosen disana, ia menunggu setelah dosennya mengurus kelas lain karna ada perwakilan kelas lain juga disana


selesainya..


"pak ini buat folder nya yang minggu lalu" kata Elva


"kelas nya siapa?"


"kelas nya Sahid"


"oh iya, coba saya cek dulu, berapa kelompok kemarin"


"lima pak"


dosen mengecek, lalu selesai, tapi dosen itu mau menitip kan untuk tugas baru dikelas buat minggu ini dikumpul minggu depan dengan kelompok masih sama


"tunggu, saya ambil dulu di ruangan saya" kata dosen


"baik pak" kata Elva


tak lama 2 dosen lainnya datang, mereka menyiapkan untuk rapat sebentar lagi, tapi dosen Elva belum juga kembali, karna dosen 2 ini salah satu nya adalah Feris


setelah menunggu beberapa detik, dosen lainnya yang tadi masuk, ia keluar, lalu Feris mendekati arah mesin fotokopi yang ada diruangan meeting itu, dan ketika menyalakannya ia bingung mencari apa yang membuat tidak mau menyala


saat melihat kearah samping kiri membuat dasi yang dipakai Feris malah tersedot oleh mesin, seketika itu Feris bingung melepaskan dasinya tapi Elva malah reflek membantu untuk menarik dasi milik Feris disana


dan akhirnya bisa lepas, tapi dasi Feris lecet, berlubang lubang tak beraturan karna tersedot tadi


"aduh, sial, kenapa pakai tersedot" gerutu Feris


"memang nya butuh pakai dasi pak?" sapa Elva


"iya lah, ini saya mau rapat bentar lagi di fakultas ini, kalau penampilan saya buruk saya yang malu" jawab Feris


"perkara dasi doang?"


"iya karna dasi ini penentu rapi tidaknya, dimana ada pakai jaz tapi tidak memakai dasi"


"sini biar saya bantu" kata Elva


Elva melepaskan dasi di leher Feris itu, membuat Feris seketika melihat wajah Elva cukup dekat dan itu membuatnya merasa jantungnya seperti berdegub


"kalau perkara ini, bisa kali di manipulasi saja, apalagi ini 2 layer bahannya, tinggal balik saja, lalu pakainya di balik, ini dibelakang, nah, tidak terlihat kan" kata Elva


Feris hanya diam disana, Elva membenarkan dasi Feris disana dan membantu memakaikannya tapi Feris menahan tangan Elva, Elva kaget seketika melirik dan menatap kedua mata Feris disana


"kamu kenapa sembarangan menyentuhku? kamu pikir aku temanmu?" tanya Feris


"oh maaf pak" kata Elva melepaskan tangan Feris dari tangannya


"lain kali hati hati, bicara sama saya, saya bukan teman anda, saya dosen anda"


saat Feris mendekati arah Elva akan menarik tangannya untuk menatap kembali kedua matanya sayang dosen kembali datang..


"nah, ini, Elva, ini di flash ini ada dokumen, 1 dokumen saja, nanti bilang ke sahid untuk tugas minggu depan dan berikan hari ini" kata dosen


"baik pak, terimakasih, apa ada lagi?"


"tidak, sudah terimakasih ya"


"ya pak"


Elva berjalan melewati Feris, saat beberapa dosen mulai masuk untuk rapat, Feris memulai rapatnya, hingga selesai, tapi ia masih kepikiran tentang ucapan Elva tadi memang membuatnya seperti tertusuk pisau tajam


ia pun memutuskan mencari Elva dikelasnya, dan saat melihat Elva bersama teman temannya, ia membatalkan mengatakan itu


beberapa hari kemudian...


persiapan demi persiapan dilakukan oleh Elyas, dan ia benar akan kembali ke amerika, disana ia memiliki pekerjaan dimana ketika ia berpamitan saat berhentoli bekerja, bosnya mengatakan menunggu kembali kedatangan Elyas


juga soal Erisa, Erisa terakhir mengatakan memang jika ia menunggu waktu untuk Elyas kembali kepadanya, itu semua membuat Elyas yakin meninggalkan indonesia


hari itu tiba, siang hari, saat akan pergi ke amerika, Elyas mendatangi kontrakan adiknya


"ya, cari siapa kak?" sapa teman Elva


"Elva ada? saya Elyas. kakaknya"


"oh, masuk kak, saya panggil"


tak lama Elva keluar..


yang tadi nya Elva senang karna mendengar temannya bilang kakaknya datang dikira ia Elyas mulai memberikan perhatiannya tapi saat ia keluar dan melihat banyak koper dalam taksi diluar


"kak?" sapa Elva


"Elva. ini kunci rumah nenek, aku berikan kepadamu"


"kak, kamu benar benar akan pergi?"


"iya, hati hati disini, jaga diri, kakak tau kamu sudah bisa menjalani kehidupan kamu yang keras, jangan jadi lemah ya, dunia tidak membutuhkan manusia lemah" kata Elyas


Elva menangis, disana biasanya dimana Elyas tidak pernah suka melihat Elva menangis, ia akan membentaknya memarahinya tapi kali ini...


"maafkan segala sikap kakak, kalau kamu mau temui kakak di amerika, kakak akan menyambutmu, kakak juga akan sering mengabari kamu" kata Elyas memeluk Elva


"kak" ucap Elva sedih


"Elva, aku tau kamu bisa kan? kakak janji kakak setiap bulan akan kirim setengah gaji kakak buat kamu, buat sekolah, buat makan dan semua kebutuhan kamu ya" tanya Elyas


Elva memeluk lagi lebih erat kakaknya, dan mereka pelukan terakhir sebelum kepergian Elyas ke amerika, disini bukan Joana melepaskan hubungan antara mereka, tapi memang kehidupan harus berjalan, dan Elyas memiliki jalan sendiri menjalani kehidupannya


hari berlalu, malam itu juga, Elva pergi menuju rumah Joana, ia tidak mood tinggal dan menginap di kontrakannya karna ia tidak berhenti menangis


bagaimana mau berhenti, Elyas adalah keluarga satu satunya yang dimiliki oleh Elva, meskipun Elyas berjanji selalu ingat adiknya disini, mengabarinya, mengirimi nya uang tapi Elva sama dengan gadis lainnya dimana wanita lebih butuh waktu kebersamaan dibandingkan uang dan harta


"Elva" sapa teman temannya


"yang sabar ya Elva. kan kakakmu pergi bukan meninggalkanmu" kata temannya yang lain


"iya, dia janji tadi kan akan kabari dan sering mengirim" kata lainnya lagi


semua menenangkannya tapi itu tidak membantunya untuk jauh lebih tenang


disituasi ini, hal dialami oleh Elva sama dengan yang perna dialami oleh Sherla dan Lestari, tidak ada lagi keluarga yang bisa ia datangi untuk sekedar menceritakan rasa yang ia alami, akhirnya malam memutuskan pergi ke rumah Joana


"kamu mau pergi kemana Elva?" tanya teman kontrakannya disana