
"tidak, aku tidak mengatakannya" kata Joana
"aku tau, arah pembicaraanmu kesana Joana" jawab Motheo
Samuel mendekati mereka berdua..
"kenapa masalah? kan bukan kita yang merusuh pertama?" kata Samuel
"iya, aku tau, tapi berapa kali kak aku bilang, aku yang salah" kata Joana
"gini ya Joana ya, sekarang tau kita kasar begini, jangan ada yang menyakitimu sedikit saja, karna taruhan nyawa mereka, jadi diingat saja, kamu disakiti setitik saja, aku tidak akan diam" kata Samuel
"hemm, terserah kalian saja sudah" kata Joana
baru setengah jam berlalu, Bams menelfon Motheo karna ada urusan ia membutuhkan kedatangan Motheo, Motheo pun memutuskan untuk pergi..
"emm aku pergi dulu, aku ada urusan" kata Bams
"bos? kita perlu ikut?" tanya Max
"kalian jaga Joana, saya kuatir dia (Samuel) membawa kabur Joana" kata Motheo
"kalau ada kesempatan membawa nya kabur, ya bakalan aku lakukan lah" kata Samuel
"jangan macam macam, kmu tau urusan dengan siapa kan" jawab Motheo
tinggallah, Max dan Delvin disana, sebenarnya masih ada Samuel sih, bahkan ada tiga anak buah Samuel yaitu Morza, Ravansa dan Nico
Samuel duduk disamping Joana menggantikan Motheo, lalu menatap wajah Joana disana, Joana tidak bisa memalingkan kepalanya apalagi untuk membuang muka karna risih diperhatikan dengan jelas oleh orang
karna Samuel terus menatap wajah Joana dengan tersenyum dan menggenggam tangan Joana
Joana mencoba melepaskan tangan Samuel, tapi tidak hentinya Samuel terus memaksa untuk menggenggam tangan Joana, akhirnya Joana menyerah dan membiarkannya
"kenapa kamu melihatiku?" tanya Joana
"kamu cantik"
"hemm" jawab Joana menarik napasnya
"kamu tau tidak aku beruntung ketemu sama kamu, karna aku merasa aku mendapatkan wanita idaman semua ada kepadamu, kamu cantik, baik, pintar, dokter juga, wangi pula, idaman deh" kata Samuel
"aku tidak se-beruntung itu" kata Joana
"kenapa?"
"karna aku tidak bahagia?"
"aku tidak peduli, tapi yang pasti kamu tau, aku akan bahagiakan kamu dengan caraku, dan aku akan memilikimu nanti, pada saatnya" kata Samuel
"hemm" ucap Delvin
Delvin mendengar ucapan Samuel langsung berlagak batuk untuk dan mengatakan ia ada disana
"aku masih disini kali" jawab Delvin
tapi Samuel tidak meresponnya walaupun ia tau itu sindiran untuknya
beberapa menit berlalu Nico juga berpamitan pergi, ia ada janjian dengan orang lain alias pacarnya..
"bos, kalau saya pergi duluan boleh kan? ada urusan ini" kata Nico
"oh, ada masalah dari markas?"
"oh bukan bos, bukan, ini beda, urusan biasa lah bos" ucap Nico mengedipkan matanya memberikan kode
"ahh, ya sana dah pergilah" kata Samuel memahami maksudnya
Samuel tinggal bersama dua anak buahnya yaitu Morza dan Ravansa, tapi Samuel dapat kabar dari salah satu anak buah nya diluar, jika ada yang meninggalkan rumah ketika waktu tempo pelunasan hutang
"Morza" panggilnya
"ya bos?"
"ikut saya keluar, Vansa, tunggu disini" kata Samuel
"ya bos" jawab Ravansa
Samuel membawa Morza keluar tinggalkan Ravansa sendirian bersama dua anak buah Motheo yang tersisa yaitu Delvin dan Max
Samuel diluar menjelaksan kabar dari anak buahnya yang lain dan meminta untuk Morza mengurusnya
"bisa ya? kamu urusan ini selesaikan, sebisa kamu, saya tidak bisa diganggu untuk penjagaan Joana" kata Samuel
"siap bos"
Samuel langsung memanggil kepercayaannya yaitu Morza untuk masalah ini, karna Ravansa sudah Samuel tetap kan untuk penjagaan Joana ketika ia ada urusan mendadak dan tak bisa menemaninya
Samuel masuk kembali keruangannya dan duduk lagi disamping Joana
tak lama dokter memeriksa, Samuel menghindarkan diri sementara duduk bersama Ravansa dan dua anak buah Motheo
"dokter, saya mau tanya, apa ini rumah sakit besar kan?" tanya Joana dengan nada pelan
"iya nona, ada apa ya?" tanya Randy
"wooh? atas nama siapa?"
"aduh saya tidak tau, tapi bilang saja kalau cari pria korban dari kekerasan Theo dan Sam ditaman hiburan"
"oh, dia? iya saya tau, beritanya ramai itu di media, kamu kenal?"
"emm tidak, tapi saya merasa bersalah karna dia dihajar karna saya" kata Joana
"oh jadi gadis itu adalah kamu?"
"iya dokter itu saya, bisa kan bantu saya?"
"bisaa, dia ada dirawat di rumah sakit ini juga nona"
"kamar?"
"lantai 8 kamar 300"
"okeh deh, coba minta tolong rawat dia ya dokter, sebisa kalian, saya mohon"
"iya bisa kok, tapi bisa saya minta satu hal juga?" tanya Randy
"apa dok?"
"lindungi saya kalau ada apa apa dengan saya dan bos Theo dan bos Sam"
"tenang, itu biar urusan saya, saya akan jamin keselamatanmu" kata Joana
"serius? kamu sendiri saja begini?"
"kan aku juga akan sembuh"
"iya juga"
setelah Randy pergi, satu jam berikutnya dokter datang lagi, berpura pura memeriksa, Samuel sempat curiga karna baru sejam tadi dokter datang memeriksa
"permisi, saya memeriksa pasien dulu" kata Randy
"bukannya sejam tadi sudah kah?" tanya Samuel
"oh iya tapi ini..." ucap Randy terhenti
"kak" jawab Joana
"yaaa oke" kata Samuel
Randy disini melihat itu membuatnya percaya jika Joana memiliki pengaruh besar kepada Samuel
setelah Randy menjelaskan dan ia pergi..
diam dulu beberapa menit, agar ada jedah saja, baru Joana mengatakan kepada Samuel..
"kak" kata Joana
"apa sayang?" jawab Samuel
"aku boleh minta sebuah hal?"
"apa saja aku turuti, katakan saja"
"dirumah sakit ini, ada pasien kemarin yang kalian pukuli" kata Joana
"ahh lalu?"
"aku minta kamu datangi, bayar semua biaya nya dan rawat dia sampai sembuh"
"ehh gimana ceritanya? apa dokter itu yang bilang kan?" tanya Samuel
"jangan mengurus dokter Randy, aku yang menyuruhnya, sampai kamu mengusiknya, lihatlah, aku benar akan mati"
"Joana kenapa ancamanmu itu?"
"kamu mau melihatku mati?"
"ya gak gitu juga Joana, masak kamu suruh aku mengurus rumah sakit dia? kan aku yang membuatnya begitu"
"kaaak" ucap Joana merengek
"lagian bukan aku saja kan? si Theo juga"
"iya aku akan bilang nanti"
"gini deh, biar Ravansa yang mengurusnya" kata Samuel
"yaa, perwakilan dari kak Theo, kalian berdua" ucap Joana pada Max dan Delvin
"biar aku saja, tapi ini permitaan mu kan? awas saja kamu tidak bilang pada bos Theo" jawab Delvin
"iya iya" jawab Joana
jadi karna yang mengurus itu adalah Ravansa, dan Delvin cukup dekat dengan Ravansa selain sering tugas dari bos mereka mengharuskan mereka sering bersama tapi karna dulunya mereka juga satu kelas di kampus sama