
karna paham, Samuel pun mengeluarkan uang nya lalu memberikan nya segepok, lalu pergi lagi
"wuuuh kereeeen" ucap Ranya
Ranya langsung memasukkan uangnya kedalam tas nya dan pergi juga..
hari berlalu, dimana semua diketahui Samuel, antara lanjut atau berhenti untuk menjadikan Joana mangsa nya, Samuel bingung, ia suka kepada Joana, tertarik karna sikapnya tapi sisi lain, ia merasa Joana sangat polos, masih anak sekolahan (diluar negri, kuliah juga disebut sekolah)
sementara Joana, esok malamnya, ia mendapatkan undangan makan dirumah Ranya, ia menepati untuk datang kerumah nya lalu ia datang, bersama juga dengan Akeyla dan Marcello
sesampainya, ia makan bersama dengan teman teman dari kelas Ranya juga, dan semua menyambut Joana dengan baik, tapi sesekali Ranya memerhatikan Joana, ia memerhatikan karna ia antara bingung dan juga heran, bagaimana bisa kemarin seorang Samuel mencari tau soal Joana...
"oh iya Ranya, aku ambil makanan yang ada dimeja itu boleh kah?" tanya Akeyla
"ambil saja Akey, kamu Joana ambil juga" jawab Ranya
"iya"
"makan deh apa yang mau kalian makan selama malam ini" jawab Ranya
Joana pergi bersama Akeyla, tersisa beberapa teman lainnya tapi sibuk masing masing, dan disini Marcello menyapa Ranya, karna memerhatikan Joana sejak tadi, Marcello menyadari sikap Ranya memerhatikan Joana
"udah Ranya, bilang saja kepadaku, kamu sedang menutupi apa, kenapa mendekati Joana?" tanya Marcello
"Cello, apa kamu bicara?" tanya Ranya
"aku sejak awal curiga, kamu memeehatikan Joana diam diam, kamu memiliki sikap buruk kan mendekati Joana" kata Marcello
"hei Cello, serendah itu aku kah? aku gak ada loh niat apapun, murni aku mau berteman karna terkesan"
"lalu kenapa tiba tiba menyapa Joana, dekati Joana, aku tau siapa kamu Ranya"
"Cello udah deh, jangan pikiran kotor"
"lalu kenapa sejak tadi memerhatikan dia?"
dalam hati Ranya bingung mau bicarakan ini atau tidak, ia ragu jika mengatakan kepada Marcello tentang Samuel, tapi keburu Joana dan Akeyla datang jadi batal untuk mengatakan, juga Marcello berhenti menginterogasi Ranya
hari berlalu, dimana ketika Joana sedang tidak ada jadwal kelas, ia memutuskan pulang saja kerumah Lestari, besok biar bisa jalan pagi bersama karna besok juga baru ada kelas nya sore hingga malam saja
saat Joana siap, ia pergi, lalu berjalan, didepan tunggu busway, ketika itu Joana hanya menumpang teduh, karna cuaca sangat panas
tapi seseorang disana melirik arahnya, ia merasa jika memakai baju Joana, tidak akan dikenali, karna gadis itu tau jika dirinya sudah dikenali oleh mata mata atas beberapa urusannya
"dek, boleh saya minta bantuan?" tanya gadis itu
"iya kak, ada apa ya kak?" tanya Joana
"saya boleh pinjam baju itu yang kamu pakai?"
"baju ini kak? loh kenapa ya kak?"
"saya kedinginan, juga karna saya rasa kurang cocok mau saya pakai buat acara bentar lagi saya datangi, bisa tukar?"
"bisa sih kak, tapi gantinya?"
"didekat sini ada toilet, mau kesana?"
"boleh deh"
mereka pun pergi ke toilet dan bertukar baju, Joana memberikan saja, karna ia merasa jika mungkin gadis itu membutuhkan sekali, lagipula memang baju itu hanya rok mini tapi tidak terlalu pendek, juga kaos oblong perempuan saja, sementara baju Joana kan rok tiga perempat dan lengan tiga perempat juga
Joana tidak curiga sama sekali, padahal jika dipikir, ini cuacanya panas, mana bisa malah gadis itu kedinginan tapi yang dipikiran Joana kan karna gadis itu butuh untuk pergi acara berikutnya
setelah keluar toilet dan berjalan ke tempat halte tadi, gadis tadi langsung naik busway
"iya kak sama sama, hati hati ya dijalannya"
"iya kak"
gadis itu pergi dengan santai tanpa peduli Joana disana, sementara Joana lanjutkan jalannya kearah rumah Lestari dengan santainya
tapi selang beberapa detik jalan menjauhi halte, ada satu pria yang menutupi mata Joana, lalu menutup mulutkan dengan kain, dan dua lagi membawa Joana masuk kedalam mobil
yap, Joana diculik, tapi Joana tidak gugup, ia hanya bingung apa yang terjadi, kenapa tiba tiba gelap, ia terbiasa dengan gelap, makanya mengapa Joana santai
sesampainya di markas, para penculik itu membawa paksa Joana, setelah duduk dikursi dan mengikatnya, Joana masih saja tenang, itu membuat 3 pria disana bingung, bagaimana gadis itu bisa tenang padahal diculik dan harusnya berontak
"hei" ucap salah satu orang disana
"emm ya? ini kenapa ya? ada dimana?" tanya Joana
"diam, jangan banyak tanya, jangan sok jadi gadis yang lugu dan jangan pikir dengan memelas, kami kasihan" ucap salah satu dari mereka dengan nada keras
tak lama bos mereka datang, dan melihat sekilas gadis didepannya memang mirip dengan gadis yang ia cari selama ini
yap, bos itu bernama Motheo, dimana Motheo mencari dan selalu berusaha menangkap gadis yang sebelumnya memakai baju yang dipakai Joana
"kamu yakin ini Sherla?" tanya Motheo
"iya bos, saya yakin, ini bajunya sama dengan kamu katakan"
"baik, saya akan langsung bunuh dia saja" ucap Motheo
Sherla adalah gadis yang selalu membuat hidup Motheo terganggu, yap, Sherla adalah musuh dari Motheo, meskipun perempuan, Motheo tidak peduli itu
karna selama ini selalu susah mendapatkan Sherla, Sherla gadis uang cukup cerdik dan pintar menghindari Motheo dan semua anak buah Motheo
jadilah Motheo siap dengan pisau tajam ditangannya dan akan membunuh gadis itu tapi ketika Motheo mendekati arah Joana, ia merasa ada yang berbeda dari wangi tubuh itu, karna ia tau betul Sherla bukan pemakai wangi wangian yang itu
karna curiga akhirnya Motheo membuka penutup wajah gadis itu dan kagetnya dia ketika yang didepannya bukan Sherla, seketika Motheo kaget
kagermya karna 2 faktor, karna ia kaget itu ternyata bukan Sherla, dan kedua karna ia kaget gadis ddidepanya sekarang begitu cantik dimata seorang Motheo
"kak, ini ada apa ya?" tanya Joana dengan santainya
"siapa kamu?" teriak Motheo
"kamu yang siapa? kenapa melakukan ini? oh ini penculikan ya? hei lepasin aku" teriak Joana
Motheo mencekik kedua pipi Joana dengan satu tangan dan menatapnya tajam
"siapa kamu" kata Motheo
"aku Joana"
"kemana Sherla?"
"Sherla? Sherla siapa? aku tidak tau Sherla"
"bicara sekarang kemana Sherla"
"kaaaak aku tidak tau" jawab Joana
Motheo marah besar disana, ia melemparkan pisau tau kearah salah satu sisi tembok, lalu berteriak
"kenapa berantakaaaaan" teriak Motheo
seketika itu Joana kaget, ia seketika tersentak dan meringis ketakutan, ia tidak pernah melihat pria yang marah semarah marahnya seperti sekarang