My Name JOANA

My Name JOANA
59



"yakin lo, kalau tar lagi ada yang kenapa napa awas aja kalian" kata Samuel


"tapi enak kok, coba aja dulu" jawab Nico


Samuel tetap tidak mau makanan itu


"enak ini bos, oh iya, bos aku pergi urusin di markas dulu" kata Nico


"sama siapa?"


"sama Morza"


Nico dan Morza pergi urusan di markas kumpulan mereka, tersisa Fabian dan Ravansa, tak lama Joana keluar lagi


"loh kemana yang dua?" sapa Joana


"ada urusan saja" jawab Ravansa


"gimana makanannya? suka?" tanya Joana


"enak" jawab Fabian


"ahh makasih, kamu jadi gak makan?" tanya Joana kepada Samuel


"masih belum lapar" jawab Samuel


"okeh gakpapa" jawab Joana


Joana duduk santai disana, Ravansa dapat telfon jika ada masalah ditempat urusan lain, jadi Ravansa pamitan pergi


"ada masalah bos di tempat kemarin" kata Ravansa


"kenapa?"


"biasalah, ada kesalahan, aku kesana ya"


"okeh"


tapi tak lama malah Fabian juga pamitan pergi karna ia belum pulang sejak 2 hari, jadi ia mau pulang saja


"bos, aku juga pamit deh ya, aku mau pulang" kata Fabian


"oh kenapa pulang? ada urusan?"


"sedikit, kan ada dia (Joana)" kata Fabian


"selesai, cepetan balik" ucap Samuel


tak lama semua pergi, tersisa Joana disana..


"kaaaak, dimakan lah itu masakan aku" kata Joana


"gak, aku mendingan makan makanan rumah sakit saja" jawab Samuel


"oh ya gakpapa, yang penting kamu makan kak, biar gak makin drop, tunggu aku siapin" jawab Joana


semakin gemasnya Samuel atas kesabaran Joana, bahkan tidak tampak sedikit saja wajah marahnya atau sedikit saja kecewa karna makanan nya tidak dihargai


"biar aku makan sendiri, aku bisa" jawab Samuel


"okeh deh, ini kak"


Joana duduk dikursi sofa kamar inap itu, ia menarik rambutnya keatas lalu mengikatnya dan membuka sedikit kancing kemeja bagian atas nya, seketika itu membuat Samuel tersedak saat makan


"kaaaak, kenapa?" tanya Joana


"gak papa, santai" jawab Samuel


"ini minum" jawab Joana


"em"


tak lama juga dokter masuk memeriksa Samuel...


"gimana dokter?" tanya Joana


"bisa pulang dua hari lagi" kata dokter


"waah makasih dokter ya"


"iyaa, saya yang terimakasih atas kebaikan kamu yang tidak terduga" kata dokter


"maksudnya dokter?"


"iya kamu masih mau membantu orang yang tidak kamu tau siapa orang itu" kata dokter


"heeeem, hem ehem" ucap Samuel sedikit nada batuk


dokter pun pergi, Joana menyapa Samuel, melihat Samuel ribet, Joana tau Samuel akan duduk


"sini biar kubantu" kata Joana


"bantu?"


"bantu duduk"


"kamu tau aku mau duduk?"


"tau, dari gerakanmu, sudah sini"


Joana membantu Samuel disana, bagaimana Samuel melihat leher Joana dengan sangat dekat, apalagi rambut Joana sudah terikat keatas membuat terbuka semua lehernya, Samuel bahkan menghirup aroma tubuh dari leher Joana, seketika ia kaget ketika Joana bilang kalau sudah selesai membantu


"kak, gimana? bener gini?" tanya Joana


"hemm" jawab Samuel


Samuel kesempatan menyapa dan mengobrol disana


"kamu kenapa bantuin aku?" tanya Samuel


"memang kamu tidak tau siapa aku?"


"manusia kan?"


"iya sih" jawabnya dengan menahan emosinya karna gemas


tidak tau lagi mau jawab apa, jadi Samuel hanya diam, ia memerhatikan Joana disana yang duduk santai sambil membaca buku kuliahnya bahkan lucunya ia masih saja tidak bisa lepas dari leher Joana yang terbuka lebar disana


disini lagi lagi mata Samuel terbuka dimana masih ada gadis yang peduli kepada pendidikannya dan mempelajarinya


tapi ia baru sadar ketika yang dibaca oleh Joana adalah buku berjudul "filosofi, sejarah dan berkembangnya kedokteran kejiwaan juga perbedaan dengan dokter psikologi"


"dia seorang murid kedokteran ya?" gerutu Samuel


hari berjalan, dimana ketika Samuel sudah dinyatakan sembuh, ia bisa pulang juga, Joana memberikan tanggung jawab kepada keempat teman Samuel disana dan urusan Joana selesai


Joana kembali ke kesibukannya di kampus, masuk jam kelas, membaca diperpustakaan dan melakukan kegiatan seperti biasanya


tapi Samuel yang penasaran, ia mencari tau sendiri soal Joana, tanpa ditemani satu temannya saja, karna saking ia penasarannya kepada Joana


hingga ia bertemu dengan salah satu teman Joana yang tepat untuk ditanyai informasi tentang Joana yaitu Ranya


Ranya ketika itu baru keluar kelas, ia pergi kekelas Joana untuk mengajaknya makan malam dirumah nya nanti


"Joanaaaa" sapa Ranya


"Ranya? hai" sapa Joana


"oh ya aku mau undang kamu makan makan dirumah bisa gak ya?"


"kapan"


"besok malam sih, tapi biar gak mendadak saja gitu, mau kah?"


"boleh, memang siapa saja datang?"


"teman kelasku, kalau kamu tidak enak sendiri yaudah ajak juga deh si Akey sama Cello"


"bener memang kita diundang juga?" tanya Akey


"iya key, datang deh" kata Ranya


"nanti disana, kita di bully" jawab Cello


"emm" jawab Akey membenarkan Cello


"ya kali, gak ada ya temen ku tukang bully, percaya aja ama aku deh, aku bakalan jaga kalian, gimana?"


"tumbenan kamu ajak kita" tanya Akey


"ya kalian kan temanan sama Joana, aku juga teman Joana, ya kalian temanku juga kan"


"iya juga"


"ya datang ya? aku tungguin, itu udah aku masukkan grup pertemanan ku, aku pergi dulu, bye"


Ranya pun pergi, saat akan pergi, Samuel menahannya


"ada apa nih?" tanya Ranya kaget


"ada perlu bentar, bisa?"


"siapa kamu?"


"ikut aku sebentar"


karna penasaran jadi Ranya ikut pergi bersama pria itu, dan saat ditempat sepi tanpa ada orang, baru Samuel membuka topi, kacamata dan masker penutup wajahnya dan betapa kagetnya Ranya melihat pria itu


kamu?" ucap Ranya seketika kaget


Ranya langsung mundur dan menghindar karna takut, tapi Samuel meyakinkan ia tidak akan menyakiti sedikit saja pada Ranya


"tenang.. aku tidak melakukan apapun"


"lalu apa tujuan mu?" tanya Ranya


"aku butuh informasi tentang teman kamu tadi" kata Samuel


"teman? yang mana? tadi aku temui ada 3"


"Joana"


"Joana? kamu ada masalah?"


"ceritakan pada saya siapa dia"


"tapi ada apa dulu"


"ceritakan!" bentak nya


"ahh okeh"


Ranya menceritakan semuanya tentang Joana yang ia tau, dan disini Samuel mengetahui jika Joana adalah murid pertukaran pelajar, ia juga tau ternyata Joana murid berprestasi juga, ia juga tau jika Joana juga anak yang baik didepan teman temannya


"sudah kan aku ceritakan ya" kata Ranya


"iya" kata Samuel


Samuel akan pergi, tapi Ranya menahannya, tidak begitu mudah nya tiba tiba pergi


"tunggu, apa aku akan mengatakan ini kepada Joana?" ucap Ranya


"jangan, jangan pernah kamu kasih tau dia"


"kalau begitu" ucap Ranya memberikan kode jarinya artinya meminta uang saja