My Name JOANA

My Name JOANA
127



ia sudah janji untuk mengajaknya jalan buat beli beli banyak makanan jalanan yang ia mau


dan malam nya Fabian pamitan kepada Samuel, lagi lagi Samuel memberikannya izin, yaa memang Samuel memberinya izin jika memang sedang tidak ada pekerjaan


setelah jalan jalan malam, mereka berkeliling beli sana sini, beli ini itu, semua nya makan dicobain oleh Sean, adik Fabian, hingga pada saat salah satu makanan


"kak, beli itu ya" kata Sean


"Sean, makan saja yuk kakak lapar"


"makan dimana?"


"ada dekat sini kok"


"tapi nanti belikan makanan itu yaaa kak"


"iya udah ayo kita makan dulu"


"iyaa"


mereka memutuskan untuk pergi makan disalah satu tempat disana, saat setelah duduk dan memesan makanan, makanan pun datang, tapi 2 orang yang tak asing juga datang, mereka mengenali itu Fabian karna yang paham style Fabian yaitu selalu memakai celana pendek levis


kedua pria itu adalah Max dan Bastian...


"Max, kau tau tidak dia siapa?" tanya Bastian


"ehh tunggu dulu, aku kenal sepertinya" jawab Max


"Fabian"


"ahh iya itu Fabian, sama siapa dia?"


"itu adik kandungnya, dia sering jaga adiknya karna ibunya memang sudah cukup tua memiliki anak seusia adik Fabian itu"


"aahhh"


Bastian mengenal sekali keluarga Fabian?


ya lah, jadi ibu Fabian pernah menikah sebangak 2x dengan 2 pria berbeda, paham? okeh dijelaskan lebih detail...


jadi ibu Fabian menikah pertamanya dengan ayah Fabian yang menghasilkan 2 anak, yaitu Cali Xavier dan Fabian Xavier


nah, ibu Fabian menikah keduanya dengan ayah dari Bastian yang menghasilkan 1 anak juga yaitu Sean Xavier jadi Bastian adalah anak bawaan dari ayah Bastian di pernikahan sebelumnya


lalu setelah ayah Bastian menikah dengan perempuan lain meninggalkan ibu Fabian, ibu Fabian memutuskan untuk membawa Sean pergi dan membiarkan Bastian pergi bersama ayahnya


mulai paham ya kenapa Sean malah dekat dengan Fabian?


nah sejak itu mengapa Bastian tidak pernah baik bersikap kepada Fabian atau siapapun bahkan termasuk adik nya, Sean


Bastian berusia setahun diatas Fabian, jadi tidak kaget jika nama Fabian sekilas mirip dengan Bastian karna ibu Fabian terinspirasi memang atas nama Bastian itu


lanjut kecerita ditempat makan itu, dimana keduanya tidak bermaksud mengikuti Fabian, karna mereka membeli hanya untuk membungkus saja, bersamaan dengan Fabian yang selesai makan dengan adiknya lalu pergi


"apa kita perlu mengikuti dia?" tanya Bastian


"gak perlu sih, kita langsung pulang bagaimana?"


benar benar tidak ada niat mengikuti kemana Fabian akan pergi, tapi semua batal mereka akan pergi


karna dibelakang, Max dan Bastian keluar dan melihat perginya Fabian dengan Sean kesalah satu lapak penjual makanan disana karna permintaan Sean juga


disana juga lah membuat Max dan Bastian kaget langsung mengawasi dan memerhatikan Fabian dilapak itu, kenapa?


jadi ketika Fabian pergi menuju tempat itu bersama adiknya, Fabian tak sengaja harus bertemu dengan Erisa, tapi Erisa tidak sendirian, ia bersama Elyas makanya membuat Max dan Bastian langsung mengintai mereka


Erisa melihat keberadaan Fabian pun kaget, ia langsung melepaskan tangan Elyas


"kak Erisa" sapa Sean


"kak siapa itu, kenapa sama pria lain?" tanya Sean


"emm Sean, kita beli makanan tempat lain ya" kata Fabian


"kak, aku mau ini" rengek Sean


"Sean, masih ada penjual diluar sana masih kok, atau besok malam balik lagi"


"kalau mau, kakak belikan ya Sean" kata Erisa


"kalau belikan gak perlu, saya juga bisa membeli semua sampai gerobaknya juga" jawab Fabian


seketika itu Erisa diam, Elyas menyentuh tangan Erisa untuk memberikan kekuatan karna ia tau dibentak itu membuat nya cukup tersakiti, tapi Elyas juga tidak bisa bertindak apa apa selain karna hubungan mereka yang memang awalnya salah juga karna Fabian adalah anggota dari geng mafia


karna memaksa akhirnya Fabian kesal, ia pun berjongkok depan Sean


"kalau kamu tidak nurut sekali ini saja, kakak akan tinggal kamu disini" kata Fabian


"iya kak, pulang" jawab Sean


mereka pulang tapi Max dan Bastian tidak pergi, ia bahkan mengikuti perginya Erisa dan Elyas malam itu, sampai 2 jam berikutnya malah Bams menelfon Max


"halo, Max, dimana?" tanya Bams


"bentar, ini aku ada urusan"


"urusan apa lagi, aku lapar ini"


"ahh beli sana, ini penting, sana deh beli saja, aku gak bisa pulang cepat ke markas"


"ada apa sih?"


"besok besok, bye"


Bams bingung ada apa dengan Max, ia langsung menutup telfonnya dan terpaksa mencari makanan lainnya sendiri, sementara Max dan Bastian masih mengikuti Elyas


sesampainya Elyas didepan rumah Erisa, ia menurunkan Erisa agar mobil Erisa ia yang bawa saja, agar Erisa tidak repot bolak balik antar jemput Elyas bekerja


dan setelah dikontrakan Elyas, Max dan Bastian pergi yang penting mereka berdua tau lokasi tempat kontrakan Elyas tinggal


hari hari berikutnya, dimana ketika ada kesempatan mereka bertemu dengan bos mereka, ketika itu Motheo pergi datang ke markas, ia tidak ada kerjaan apapun di rumah nya jadi dari pada terus bosan hanya tidur ia pergi ke markas


tapi sebelum kedatangan Motheo, mereka melihat situasi memungkinkan membuat membahas dulu berdua memikirkan ulang apa akan mengatakannya kepada Motheo


pasalnya, Max tidak yakin jika akan mengatakannya kepada Motheo, tapi Bastian yakin ini harus laporan kepada Motheo


"aku ya aja, but bilangnya ya bisa aja, aku takutnya, cuman dia kalau nanti marah gimana?" tanya Max


"marah? ini soal Joana loh, kurasa dia bakalan happy" jawab Bastian


"bukan gitu lah, happy iya, tapi kamu tau kan dia sudah bilang dia sudah mau melupakan itu, dan sepertinya ia benar melupakan itu" kata Max


"ya tapi kan dicoba saja gakpapa, soal Elyas juga, bukan Joana langsung" kata Bastian


"mendingan gak usah deh, kalau pas dia tersinggung kita yang salah"


"lah, kan ya hanya laporan saja, mau diterima tidak balik ke bos Theo"


"karna disini semua tau bos Theo akan melupakannya, kita membahas ini, sama saja kita mengungkitkan lagi"


"udah, bilang saja, gak bilang dia, pas dia tau dari orang lain, dia tau kalau kita tau tapi gak laporan, apa gak makin dia marah?"


"marah saja gakpapa, udah terlanjur kan, bilang saja kita lupa" jawab Max


"iya kamu, kamu tidak akan dia kasari, karna permintaan Joana sebelum pergi, tapi aku? udah deh, aku bilang saja, anggap saja laporan rutin kita kan"


padahal Max benar benar tidak mau membahas ini, karna ia pikir memang Motheo mau melupakan Joana