
"oh ya pa, Egar sepertinya akan work hard" kata Egar
"jangan hard berlebihan, kondisi tetap perhatikan"
"iya pa, memang papa tidak tanya aku mau ngapain work hard"
"haha iya sampai lupa, memang kenapa?"
"mau nyusul Joana pa, gakpapa deh kalau Joana masih lama di sana, aku akan juga mencari pekerjaan"
"yaudah kalau mau begitu, yang penting kamu jaga diri, titip salam kangen papa buat dia ya"
"iyaa pa"
mereka berpelukan layaknya ayah anak, tidak ada gengsi diantara mereka dan mengungkapkan banyak curahan malam itu
hari berlalu.. ketika baru saja ia selesai dari pekerjaan, ia keluar dan membersihkan diri, ia baru keluar dari ruangan ganti dari ruangan operasi, karna baru selesai operasi organ pasien
baru saja keluar, terlihat Fero..
"pak dokter Fero?" panggil Egar
"astaga pak dokter Egar?"
"waah ada apa nih ke Netra Utama?"
"biasa, kerjaan, aku mau ada jadwal operasi disini sama pasien ku. karna RS lama ku kan kurang lengkap"
"waah, disini beberapa hari dong?"
"emm iya lah"
mereka mengobrol banyak hal disini tentang pekerjaan mereka masing masing, setelah Fero harus pergi
"waduh, dokter, ini sudah harus pergi" kata Fero
"waah iya deh, makasih dokter sempat mengobrol dengan saya"
"haha siap, lain kali kita perlu jalan bareng deh, hang out berdua gitu, sesama pria, atau bisa sama teman teman pria kita lain"
"bisa itu, ayo atur deh kapan"
"siap"
Egar memerhatikan Fero yang berjalan pergi meninggalkannya, tak jauh dari Egar berdiri, Fero mengobril dengan salah satu dokter syaraf dirumah sakit itu
disini Egar berpikir tentang Joana, istrinya, kok ke istrinya? nah jadi istri Egar yaitu Joana adalah dokter ahli jiwa, jadi bisa menangani ODGJ kan, dan juga gangguan mental lainnya
dan Fero? Fero adalah tunangan dari Alisia, mantan ODGJ yang sembuh ditangan Joana, dan kini menjadi gadis cantik, terawat dan menjadi tunangan dari seorang Fero, dokter mudanya para dokter di indonesia
Fero sama sih dengan Egar usianya, tapi itu memang julukan didapat Fero sejak lama, sejak ia lulus sarjana pertamanya
"dokter Egar, kenapa malah bengong hei" teriak Galen
"astaga, kak Galen? ada apa dah kagetin saja, mana ditelinga" kata Egar
"habisan, dari jauh sana juga dipanggil"
"eh kok disini?"
"biasa, ada kerjaan event deket sini, jadi pulang mampir sekalian aku mau kasih ini"
"waah apa nih?"
"undangan, aku dan Wita akan menikah"
"aaaah seriusan? waaah"
Galen Wita adalah dua teman Egar Joana yang menikah pertama kali dari teman teman mereka yang lainnya, dan mendapatkan itu, Egar memberikan selamat kepada sahabatnya itu, karna Egar memang paling dekat dengan Galen
malamnya, Egar menelfon Joana, mereka mengobrol disana dan Egar menjelaskan tentang acara pernikahan Galen dan Wita
"serius? mereka menikah? bisa ya kirim foto undangannya Poy, aku mau ucapin" kata Joana
"iya Moy, aku fotokan setelah telfon"
"siap"
Joana selesai bertelfonan, ia menutup telfonnya dan mendapat foto undangan itu, ia mengirim kan ke nomor Wita dan Galen untuk memberikan selamat atas ini
setelah chat cukup lama, Joana menahan tangisnya karna ia tidak bisa hadir dari salah satu tamu undangan pernikahan dan kebahagiaan salah satu sahabatnya itu
tiba dihari pernikahan itu..
Egar masuk, ia tidak sempat makan tapi langsung naik dan meminta ijin agar bertelfonan dengan Joana lewat video calling dan kedua pengantin mengiyakannya
"halo Moy, ini aku sudah sama pengantin" kata Egar
"Joanaaa?" sapa keduanya
"haloooo" ucap Joana girang
"Joana apa kabar?" sapa Wita
"baik Wita, apalagi lihat kalian, makin segar rasa nya mataku"
"haha"
"happy wedding sayang, doaku selalu menyertai kalian dalam kebahagiaan, longlast, samawa dan cepat ber-debay" ucap Joana
"hahai ber-debay, ada saja dah" jawab Galen
"haha selamat sayang sayangku" kata Joana
dan setelah acara selesai, baru menutup telfonnya, Joana langsung meneteskan air matanya antara sedih karna tidak bisa hadir dan bahagia melihat mereka yang bahagia
hari berlalu, sejak itu, urutan pernikahan akhirnya berentet, tak terasa malah Egar mendapatkan titipan kartu undangan lagi dari staffnya saat Egar dinas siang dan baru sampai lobi utama RSNU
"siang dokter" sapa administrator
"iya, siang" jawab Egar
"ada titipan dokter, ini undangan atas nama Fadia"
"ooh iya terimakasih"
Egar membawa keruangannya dan melihat lagi lagi itu undangan pernikahan dari Nero dan Fadia, yaa memang tidak kaget mereka menikah karna hubungan mereka cukup lama, bahkan paling awet
meskipun sempat ada kabar putus tapi yang namanya jodoh pasti akan balik lagi, tanpa berlama lama Egar memotret undangan pernikahan Nero Fadia untuk ia simpan
malamnya, Egar menelfon lagi Joana dan mengabari kepada istrinya tentang itu, dan setelah telfon, Joana dapat foto undangannya
lagi lagi ia mengirim kepada Nero dan Fadia ucapan pernikahan mereka, seperti sebelumnya juga Joana meminta agar suaminya menelfon video calling saat acara nanti
daaan tiba acara pernikahan itu, lagi lagi Egar masuk, meminta izin telfon video calling dan keduanya mengizinkan dengan sangat senang hati
"halo Moy, ini aku sudah sama pengantin" kata Egar
"halo, kak?" sapa Joana
"Joanaaaa?" sapa keduanya
"kaaaaak, waaah, selamat"
sama kepada Galen Wita, Joana memberikan doa terbaik keduanya agar langgeng dan semua lancar urusan, dan lagi dan lagi dan lagi.. Joana menutup telfon dan meneteskan air mata kesedihannya
baru selesai Nero Fadia, kemarinnya juga Galen Wita, berendel pula teman yang lain mulai dari Mikail, Septi, Henri, Titto, Manda hingga Arsan
tapi Titto dan Manda selisih dua bulan.
kita skip yang tidak terlalu dekat dengan Joana dan Egar untuk percakapannya, jadi list nanti saya kasih di akhir selesai semua story dari sisi kehidupan Egar dan balik sisi kehidupan Joana again..
tiba di pernikahan Ello dan Puri, dimana ketika Egar jadwal seminggu di rumah Meliana dan Enggar tapi Ello datang bersama calon istrinya itu jerumah Joana, karna mereka hanya tau rumah Joana dan rumah baru Joana
"sepertinya tidak dirumah baru deh, aku tau dia dirumah orang tua Egar" kata Ello
"dimana rumahnya? apa kamu pernah sampai?"
"tidak sih"
"lah?"
"anter kerumah Joana saja ya" kata Ello
"iya sudah"
yang ada Ello tidak ketemu dengan Egar, Lestari yang menerimanya, akhirnya ia pun memutuskan untuk memberikan itu kepada Lestari saja
"yaudah buk, kalau gitu titip buat Egar deh, bisa kan dititipin ibuk saja, ya buk" kata Ello