My Name JOANA

My Name JOANA
322



"aku juga mikir itu, tapi harusnya kamu bilang dulu ke aku kan? bukan ke orang lain" jawab Feris


"kak Joana kakakku, bukan orang lain" kata Elva


"ya aku tau, tapi harusnya bilangnya ke aku"


"aku gak yakin kamu bisa menerima ini" kata Elva


"iyaa.. aku menerima" jawab Feris dengan sedikit berat


"kan, berat ya? yaa makanya aku tidak mengatakan dulu kepada mu, karna kamu gak akan ngerti" bentak Elva berdiri lalu membelakangi Feris


"aku ngerti, maafkan aku, membuatmu susah begini, aku hanya belum siap, aku tidak tau harus bagaimana" jata Feris memeluk Elva dari belakang


"ya tanggung jawab, lalu bagaimana?" tanya Elva


"aku bertanggung jawab"


"bener?"


"ya lah, aku janji menikahi kamu, berikan aku waktu menyiapkan pernikahan kita"


Elva membalikkan badannya dan memeluk Feris, Joana dikamarnya, Elva menelfon, tak lama Joana keluar


"bagaimana?" tanya Joana


"Joana maafkan Elva ya malah pergi lari kepadamu" kata Feris


"sudah tenang lah, dia kan adikku" kata Joana


"kak, makasih ya" kata Elva


"emm.. oh ya? terus keputusannya?"


"ya aku akan menyiapkan perniakahan, aku akan menikahi Elva itu pasti, ini tanggung jawab aku" jawab Feris


"oh ya? terus kapan menikah?"


"yaa kamu tau lah menyiapkan pernikahan gak sebentar"


"kalau menurutku ya siapkan saja lah, tapi lebih baik menikahnya tunggu baby nya keluar dulu kali" kata Joana


"loh kok gitu kak? kan makin ketahuan dong kalau anak ini diluar nikah?" tanya Elva


"justru gak ketahuan kalau kamu stay dirumah, diam gak keluar kemana mana selama hamil, nanti habis lahiran jadi menikah, karna kan pas nikah kalau hamil besar gak mungkin, sementara kamu hamil sudah empat bulan? tanggung gak sih menikah dengan perut besar?" jelas Joana


"bener juga, malah ketahuan hamil duluan ya?" tanya Feris


"kuliahku?" tanya Elva


"ya kan bisa undur, bayar dulu semester telat gitu, kamu sakit gitu jadi lanjut lagi semester lanjutnya, kan gak masalah itu?" ucap Joana


"oh ya bener, bisa itu, aku akan bicara sama papa, itu bisa banget" kata Feris


"yaudah lah, terserah kalian saja" kata Elva


"lah, kok kalian, ya terserah kak Feris, au gak termasuk lah" jawab Joana


"yaudah kataku begitu saja" jawab Feris


"tapi kak Joana, gimana kak Elyas? gimana sama Tiko Sahid?" tanya Elva


"Tiko Sahid kan sahabatmu, aku akan jelasin kemereka kok, tapi Elyas ya? aku juga jadi ragu" jawab Feris


"sudah, itu urusanku, jangan pikirin, aku akan turun tangan kalau ini, tenang" kata Joana


"kamu janji kepadaku membantuku?" tanya Elva


"jelas" jawab Joana yakin


mendengar itu, Elva memeluk Joana dan terharu, banyak sekali sudah apa yang dilakukan Joana dalam membantu Elva yang notabene nya tidak sedarah tidak saudara tapi melebihi itu


setelah urusan selesai, Elva akhirnya pulang dengan Feris kerumah Feris, untuk Feris mengatakan kepada ayahnya soal Elva


sesampainya dirumah Feris..


"kamu masih ragu? kita sudah didepan rumah papa ini" kata Feris


"aku takut tidak diterima"


"ada aku, kamu gak sendiri kan, aku belain kamu"


"kok gitu? jangan dong, kesannya aku bikin kamu jadi durhaka lebih bela aku"


"lah kamu tau sendiri papa ku saja menikahi gadis seumuran mu, sama saja kan menikahi kamu, menikahi Joana, seumuran gitu ama Joana" kata Feris


"ya tapi"


"udah apa kataku ini, ayo masuk"


Feris mengganggam tangan Elva, masuk, mengetuk, lalu istri dari ayah nya membukakan


"Feris? kamu?" sapanya


"papa?"


"ada, masuk, aku panggilkan"


"yaa"


Feris memang selalu cuek kepada istri ayahnya itu sejak dulu, sejak sebelum pacaran dengan Joana bahkan, karna memang ia tidak suka dengan istri ayahnya yang terkesan memanfaatkan kekayaan ayahnya sehingga mau dinikahi pria tua seperti menikah dengan ayahnya sendiri


"Feris.. Elva..?" sapa Dipo, ayah Feris


"pa, aku mau bicara" kata Feris


"ada apa ya?"


"tapi bisa tidak? hanya bertiga? aku, pacarku dan papa?"


"oh? iya kalau begitu aku sekalian deh pamitan, aku juga mau pergi kan, aku pergi sekarang saja deh" kata ibu tirinya


"yaudah hati hati ya" kata Dipo


"yaa"


jadilah hanya bertiga, baru lah Feris mulai menjelaskan soal kehamilan pacarnya itu, Dipo diantara bimbangnya


yaa.. karna Dipo mau kaget, karna bagaimana ia melihat anaknya rajin, giat bekerja dan membaca, pikirannya akan masih jauh Feris memikirkan pernikahan apalagi soal anak


ditambah sejak putus dengan Joana, mungkin selera nya akan seperti Joana tapi seperti Elva, yang tidak ada kata feminim sama sekali


tapi melihat kembali bagaimana gaya pacaran keduanya yang sering liburan berdua, pergi ke apartemen Feris yang Dipo tau Feris sering membawa Elva ke apartemennya juga jadi tidak kaget kalau hamil duluan


jujur saja jika dengan Elva, Dipo kurang setuju karna masalah penampilan tapi Dipo tidak berani mengatakannya kepada anaknya, ia menghargai pilihan anaknya, Elva membuat Feris jatuh cinta dan itu hal cukup sulit mengingat Joana lah yang bisa membuat sekeras kerasnya Feris menjadi sedikit lebih lunak


setelah menjelaskan semua, Elva gugup, ia takut, karna bagaimana ia berhadapan dengan pemimpin dan pemiliki utama kampus tempat nya kuliah tapi ia menghadap nya untuk mengatakan jika hamil


"terus kamu mau apa dari papa?" tanya Dipo


"biarkan Elva tidak kuliah selama ia mengandung, ia akan mengulanginya setelah kelahiran anak kami"


"iya, bisa, boleh boleh" jawab Dipo


"sama satu lagi pa, dia biarkan menginap dan tinggal di apartemen selama ia hamil karna tidak mungkin dia untuk keluar kondisi hamil tanpa suami"


"terus kamu? memangnya tidak menikahinya?" tanya Dipo


"menikah kan butuh waktu pa, menunggu persiapan keburu perut Elva cukup membesar, jadi tidak mungkin kan kalau menikah perut membesar, makin apa bicara orang"


"ya bisa menikah siri? itu jalan terbaik saat ini"


Dipo menjelaskan, kan bisa pernikahan siri dulu, jadi aman bisa buat Elva tanpa bersembunyi, Elva juga bisa kan tetap kuliah, dengan status siri itu tidak akan membuat Elva dianggap hamil diluar menikah dan soal pesta pernikahan bisa diundur sampai Elva melahirkan atau Elva lulus dari kuliahnya sekalian


Dipo menjelaskan kalau nikah sah tanpa siri siri juga sebetulnya juga bisa kan? hanya masalah pesta itu bisa kapan saja digelar, penting ada bukti mereka sah menikah


mendengar itu, Feris melirik kearah Elva, Elva setuju, karna ide itu cukup bagus dilakukan, karna benar juga kan, untuk apa menunggu pesta gelaran kan ada pernikahan siri, itu juga sah, yang penting ada ikatannya dulu


Feris memeluk Dipo...