My Name JOANA

My Name JOANA
124



"baik pak, nanti saya bawa dan simpan untuk lepas tugas saya saya akan temui anda untuk memberikan surat ini lagi yang sudah saya tanda tangani"


"terimakasih sedikit waktunya selama disini Joana, saya terkesan dengan kebaikan kamu dan prestasi kamu"


"makasih juga dokter, saya berharap, Netra akan terus menjadi RS terbaik sepanjang masa"


"pasti, doakan yang terbaik ya"


"ya dokter, saya minta doa terbaik juga ya untuk saya"


"tentu"


Joana tidak menolak, tapi ia menyimpan kontrak itu karna belum bisa memberikan keputusan apapun karna ia masih banyak sekali tugas ia selesaikan dikampus menjelang wisuda nya


"oh ya pak, soal Aal, jangan bilang apapun ya soal saya berhenti dari kkn, saya tidak mau psikisnya kembali terganggu"


"siap"


"terimakasih pak"


tapi Joana berjanji akan datang kepada Alisia untuk memeriksa dan menemani nya nantinya


meninggalkan Joana dengan sibukannya untuk kelulusan dan meninggalkan cerita di indonesia, yuk mari kita bahas ke cerita dikehidupan setelah Joana pergi meninggalkan amerika


jadi meninggalkan dulu Joana, nanti kita akan balik kembali ke cerita dari sisi kehidupan Joana yang sudah lulus dari kampus dan resmi menyandang title DR didepan nama nya


Nb. bonus bocoran nanti juga, akan langsung balik ke cerita Joana yang kembali ke amerika dan tidak akan pernah kembali keindonesia padahal ia sudah menikah


buanyak sekali cerita menumpuk mau author bahas yang sudah tersimpan dalam otak author yang sempit ini haha..


okeh yok dilanjoooot...


sebulan sudah kepergian Joana, dimana Motheo dan Samuel sudah sama sama kembali pada kesibukan masing masing, meskipun sudah berbeda hubungan antara mereka yang dulu dekat kini berjarak


setelah sebulan kemudian lagi, tepatnya di bulan kedua, Elyas memutuskan kembali ke amerika, ia pergi dan sampai di amerika, tapi ia diam di depan bandara itu sembari melihat langit


"semoga apa yang kuambil tidak salah" ucap Elyas dalam hati lalu berjalan pergi


setelah ia mencari hotel, ia mencoba menghubungi Lerry, karna hanya Lerry orang paling terdekat dengan Elyas saat ini di amerika


"halo, Lerry"


"ya, siapa?"


"ini Elyas"


"bah kau Elyas? ada apa ya?"


"aku di amerika, kamu bisa temui aku? aku kirim alamat aku tinggal di hotel ya"


"bah baiklah, kirim, tapi besok saja deh aku kesana nya, gimana?"


"iya boleh deh"


Lerry menerima telfonnya dan hari esoknya.. ia pun langsung menemui Elyas di hotel itu, mereka mengobrol banyak hal disana, tapi Elyas menjelaskan saja jika ia pergi balik ke indonesia sedikit urusan, tidak menceritakan apa yang ia alami


Lerry menghubungi bos nya dan menjelaskan semua nya tentang kembalinya Elyas dan beruntung Elyas diterima bekerja lagi


esok nya baru Lerry menjemput Elyas dan pergi ke kantornya, sesampainya ia masuk dulu lalu keluar lagi..


"gimana?" tanya Elyas


Lerry memberikan kode untuk Elyas masuk dan ia juga menemaninya, dari sana Elyas kembali bekerja, sayang pekerjaannya di tempat supplier sudah digantikan oleh Lerry jadi Elyas menggantikan Lerry sebagai pengawas di toko utama saja, ya bertukar jabatan lah anggapannya


"waaah diterima kan? bagus, kita bisa satu kerjaan lagi" kata Lerry


"iya, thanks ya Lerry"


"ya lah Elyas, kita kan bersahabat, eh gimana kamu tinggal ngontrak sama aku, biar gak banyak keluar duit gitu buat bayar kontrakan, kan bisa kita setengahan"


"waah serius ini? iya deh, mau banget aku"


hari hari berlalu, pekerjaan barunya membuat ia juga jadi sibuk, ia menyapa pelanggan dengan ramah meskipun ada bagian dari staff pelayanan sendiri disana


sebulan sudah ia bekerja, ia tinggal di amerika sudah sebulan lebih, ia belum menghubungi Erisa


saat ia menelfon Erisa...


"halo" sapa Erisa


"ya saya, ini siapa?"


"apa nomorku kamu hapus?"


"siapa?"


"aku Elyas"


"Elyas? benar kamu?"


"iya aku, aku kembali ke amerika, kamu apa kabar?"


"aku baik kok, kapan kamu balik kesini?"


"sebulanan lebih"


"ahh"


"bisa tidak kita bertemu?"


"kapan?"


"terserah kamu"


mereka mengatur pertemuan lagi setelah 2 bulan berpisah, dan saat pertemuan itu kembali...


"Elyas" sapa Erisa baru datang


"Erisa?" sapa Elyas berdiri dari duduknya dibangku taman tempat janjian mereka bertemu


mereka berpelukan disana, Erisa memeluk lebih dulu dan menceritakan semua tentang hubungannya dengan Fabian yang tidak lagi dapat bersatu karna masalah itu


Elyas akhirnya menyatakan perasaannya ia ingin kembali juga, dan mereka mulai kembali hubungan baru lagi


"aku kali ini serius sama kamu, kamu mau tidak menjalani hal baru lagi bersama aku? aku janji untuk sekarang tidak akan meninggalkanmu" kata Elyas


"apa kamu bisa membuktikan? karna sebelumnya saja aku tetap kamu tinggalkan" kata Erisa


"aku berjanji kali ini"


"lalu kamu bagaimana dengan Joana?"


"sama dengan Fabian, Joana benar benar meninggalkanku, ya sudah terlanjur basah, sekalian saja kan"


"hemm"


"jadi bagaimana? aku serius"


"buktikan ya, aku terima sekarang tapi buktikan"


"apa?"


"apapun, yang buat aku percaya"


sejak itu, mereka berpacaran tidak bersembunyi lagi, bahkan Elyas sering datang berlibur setiap week end menginap dirumah Erisa


bahkan keluarga Erisa juga bisa menerima Elyas apalagi keponakan nya, membuat Elyas seperti memiliki keluarga baru di amerika


hari berlalu, ketika Elyas sedang pergi untuk beberapa urusan pekerjaan, ia melewati rumah lama yang pernah ditinggali Joana selama di amerika


ketika melewati, ia melihat ada pria duduk santai didepan rumah itu, ia tidak mengenali siapa pria itu tapi kalau suami Ameera tidak mungkin, karna itu masih terlihat seusia dengannya, tapi karna ia hanya lewat jadi tidak bisa memastikan siapa disana


mari membahas cerita rumah itu, dimana diawal Elyas memutuskan untuk balik ke amerika lagi, di waktu bersamaan, Max, salah satu anak buah Motheo sering mendatangi rumah lama Joana


entah apa yang ia tunggu, tapi selalu sering, paginya sejam dan sorenya sejam, hingga itu berlalu selama seminggu, karna ketika itu juga dimana Ameera datang dan membersihkan rumahnya itu, ia tidak tinggal disana tapi yang namanya rumah tetap harus sering dikunjungi agar tidak menimbulkan atau mengundang hal mistis lainnya


bersamaan itulah Max turun dan mendekati arah pintu rumah itu dan saat Ameera mendengar ketukan pintu rumahnya ia pun keluar


tentu ia mengenali siapa pria didepan rumahnya itu, adalah Max..


"kamu?" sapa Ameera


"bisa kita bicara?"


"silahkan duduk, ada apa ya?"


Max disana menawar untuk membeli rumah itu, Ameera menolak, karna bagaimana pun itu adalah rumah semasa ia masih lajang, dan ia merasa berat juga karna itu rumah sudah ia nyatakan untuk kado tunangan Melinda, sahabatnya