
esoknya, Egar mengatakan ada jadwal operasi pasien, jadi tidak bisa bertelfonan, Joana hanya diam, ia diam didepan rumahnya dan menikmati indahnya pagi hari di amerika, yang bahkan ia sendirian tanpa siapa siapa
meninggalkan Joana, kembali pada Egar
selepas Joana pergi, Egar menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya yang padat, ia memutuskan pulang kembali kerumah Meliana dan Enggar, ayah ibunya
tapi ia masih sering datangi rumahnya bersama Joana untuk membersihkan, merapikan, kadang telfonan dengan Joana selalu dirumah itu biar berasa ada Joana disana
Egar sebenarnya lemah, tapi ia menutupinya, demi pekerjaan istrinya..
saat hari dimana ia pulang cepat, ia memutuskan pergi ke rumah makan untuk membeli 6 bungkus makanan, dan ia bawa pulang kerumah mertuanya
sesampainya..
"Egar" sapa Lestari
"ibu, pada pulang sudah?"
"belum, jam berapa ini"
"oh, yaudah ini siapkan buat makan malam bersama"
"kok banyak sekali?"
"ya kan ada 5 orang disini, sama aku juga kab buk, masak aku tidak ikut makan hehe"
"dasar yaa"
Egar pun menuju kamar tamu...
sejak Joana dan Egar menikah, dan memutuskan tinggal dirumah baru mereka, kamar Joana dipakai oleh Alisia, jadi Alisia tidur di lantai atas bersama Sherla dan Lestari
jadi jika Joana dan Egar datang, tidurnya dikamar tamu saja, termasuk Egar hari ini yang datang ya masuk kamar tamu saja
satu persatu datang, mulai dari Sherla diantarkan oleh Nandra yang baru dari menemani Nandra bekerja di klinik hewan miliknya
lalu Fero mengantarkan Alisia yang baru pulang dari RSMT untuk pulang beristirahat
disusul dengan kedatangan Melinda dan Dimas, dimana keduanya datang marah rusuh, mereka bingung melihat Joana sudah membuat status ada diamerika
"buk, ibuuuk, buk Tari" teriak Melinda
"kenapa Melin?"
"ibuk tau Joana pergi ke amerika?"
"tau, pamit kan sama Melan"
"mana kak Melan? kenapa tidak pamit sama aku?"
"loh tidak pamit? ibuk pikir pamit?"
"gak ada buk, makanya kami bingung kenapa tiba tiba ada di amerika saja anak itu" ucap Dimas
"mana sekarang kak Melan sama bang Amir?" tanya Melinda
"kerja, bentar lagi biasanya datang kok, udah kalian tenang dulu saja, sana masuk dulu kamar" kata Lestari
tak lama Melanie dan Amir datang menyapa Lestari..
"bu, katanya Egar kesini?" tanya Melanie
"iya, dikamar tamu, tidur sepertinya"
"oh, yaudah biarin"
"kak" teriak Melinda
"Melin, ada apa?"
"kak gimana sih kok gak ada pamit itu Joana pergi ke amerika" kata Melinda
"memang gak pamit ya?" tanya Amir
"gak ada bang, makanya anak ini yang memang tidak pamit atau gimana" ucap Melinda
"kenapa sih kamu, kenapa?"
"ya aku tanya saja, aku sebagai bibinya jadi merasa tidak dianggap loh" kata Melinda
Egar pun mendengar ribut akhirnya keluar...
"bibi, paman, kalian kapan datang?" sapa Egar
"Egar, kamu sejak kapan disini?" tanya Dimas
"tadi, aku tidur, dengar ribut, jadi deh keluar"
"Melin, sudah lah tenang, kamu lupa Joana sudah menikah, dia juga gak lagi hak kita kan, suaminya memberikan izin kok" kata Melanie
semua dijelaskan oleh Egar jika ia memang mengizinkan Joana pergi, Dimas paham sikap tegas Egar, ia pun menyentuh lengan istrinya, dan Melinda paham apa yang di lakukan Dimas untuk ia lebih tenang
akhirnya semua meredam, tapi Melinda tidak mengatakan apa alasannya sampai sebegitu kesalnya jika Joana tidak berpamitan kepadanya, jika pamitan, bisa saja Melinda mempertahankan Joana untuk tidak pernah kembali ke amerika
malamnya, selepas makan malam..
Melinda dan Dimas duduk di ruang tamu rumah Melanie dan Amir, Melanie dan Amir sudah pergi masuk kamarnya untuk tidur, sementara Melinda dan Dimas menelfon video calling Joana
"halo bibi" sapa Joana
"Joana, halo, kamu dimana?"
"aku dirumah bi, sudah mau tidur eh bibi telfon, bibi dirumah Malan ya?"
"iya, kenapa kamu tidak pamit bibi pergi ke amerika?"
"astaga iya bi, Joana lupa, beneran, tapi Joana pamit kok sama Pamir, Paeng, Malan dan Malia"
"iya, sama bibi sama paman tidak kan?"
"hehe maaf bi, tapi bibi tenang saja, aku dapat rumah dinas kok, gak besar, cuma isi 2 kamar dan 1 kamar mandi, tapi gakpapa lah"
"bukan masalah itu, bibi kan merasa kamu gak hargai bibi"
"astaga bi, gak gitu, beneran maafin Joana bi, paman"
"sudah terlanjur Joana ,yang penting Joana jaga diri disana" kata Dimas
"iya paman, maafkan Joana lupa"
mereka telfonan disana, tapi Melinda masih tidak mengatakan apapun tentang masalahnya yang mempermasalahkan soal Joana pergi tidak pamit
setelah menutup telfon, baru Melinda mulai sedikit bisa menerima keputusan Joana pergi lagi ke amerika karna bagaimana keputusan Joana sudah atas izin suaminya kan
Melanie benar, Joana sudah hak suaminya jadi tidak berhak lagi diatur olehnya, hari berlalu, dimana Egar pergi bekerja dari rumah mertuanya
sesampainya di rumah sakit, ia benar benar menjaga pandangannya, bahkan ia terbilang dosen dengan mulut beku, karna tidak pernah banyak bicara
Egar terbilang dokter yang dingin, cuek, dan berwibawa, semua ia lakukan mengingat dirinya sudah selesai mencari pemburuan cinta sejatinya dan itu pada Joana
bahkan ketika ada salah satu dokter baru, cantik, mudah, pintar juga, ia bernama dokter Melki
Melki melirik kearah Egar yang mengobrol dengan beberapa staff rumah sakit itu juga
"hai, lagi pada bahas pasien kah?" sapa Melki
"hai dokter, iya nih" kata beberapa staff disana
tapi Egar malah pergi meninggalkan tempat itu..
"kok dia main pergi saja" gerutu Melki pelan
"dokter kami tinggal juga ya" sapa beberapa staff disana
"oh iya"
karna penasaran, Melki mengejar Egar dan mengikuti kegiatan Egar, setiap hari dan bahkan sudah masuk hari ketiga ia melakukan itu
Egar tau? tau! tapi Egar tidak peduli, yang penting baginya jalani kehidupannya sebagaimana mestinya, karna baginya mau bagaimana pun istrinya kalah dengan banyak nya gadis diluar sana, itu tidak akan membuatnya merubah hati dan pikirannya untuk menduakan Joana
*eh Egar, beda lu sama istri lu, istri lu di amerika nikah 2x sama pria berbeda dong, hehe, penasaran? lanjut nanti pas balik ke story dari sisi kehidupan Joana yaaa
okeh lanjutkan dulu dari sisi kehidupan dijalani Egar...
ketika suasana membuat Melki akhirnya bisa menyapa Egar, ia tanpa ragu mendekati Egar dan duduk disamping Egar, tapi seketika itu, Egar yang sedang membaca buku, ia langsung menutup bukunya, menarik tasnya dan berdiri tapi Melki menahannya