
Elva memeluk balik kakaknya dan menangis dipelukan itu..
lalu Elyas melepaskan Elva dan mendekati Feris lalu mengatakan..
"aku mengalah, aku merestui kalian, aku harap kamu bisa jaga dia seperti ini selamanya, aku harap kamu jadi ayah, jadi kakak, jadi sahabat dan jadi pacar paling setia dan selalu ada untuk Elva, gantikan posisiku menjaga dia ya" kata Elyas
"pasti Elyas, aku akan menjaga Elva, jika dia menangis dan tersakiti karna aku, kau boleh membunuhku" kata Feris
mereka berbaikan, lalu Elyas mencium kening Elva dan mengatakan untuk keduanya
"lanjutkan saja hubungan ini kalau kalian saling cinta, aku harap kalian akan menjadi cinta sejati"
"bang, aku masih adikmu?" tanya Elva
"dodol, ya lah, mau bagaimana pun kamu, kamu adikku" kata Elyas
"babe" bisik Erisa menahan ucapan kasar Elyas keluar
"udah tenang saja, Elva, aku sabagai abang mu tidak akan pernah lupakan kamu, mau sama siapa pun nanti kamu, mau bagaimana pun kita setelah sama sama menikah dengan pasangan masing masing nanti, kamu dan aku masih adik dan kakak" ucap Elyas memeluk lagi adiknya
"bang, tapi kiriman buat aku jatah bulanan masih kan?" tanya Elva
"masih, masih, tenang saja, gak perlu kuatir" kata Elyas
Elyas berpamitan akan keluar dan kembali pada acara tapi Feris memanggilnya dan mengatakan "Terimakasih"
yang dijawab dengan Elyas dengan senyuman lalu menepuk pundak Feris pelan lalu keluar dari ruangan itu dan tertinggal Elva dan Feris
saat Elyas keluar bersama Erisa, Erisa menatap kearah Elyas sebenarnya, ia hanya berpikir dalam hatinya, apa sebesar itu pengaruh Joana?
hanya dengan perkataan lembut, masukan, dan permintaan sudah membuat Elyas yang tadinya beku malah leleh, sedangkan dia? bahkan Elyas kali ini tidak mendengarkannya dan menyuruhnya diam
tapi Elyas paham Erisa menatapnya karna itu..
"jangan salah paham, aku tidak lemah depan Joana, aku bukan menurutinya, tapi kamu tau cerita aku dulu dan bagaimana aku sekarang atas perubahan selama aku bersama Joana" kata Elyas
Erisa hanya diam...
"lain kali aku akan dengarkan kata katamu, ya" ucap Elyas
"emm" jawab Erisa mengangguk senang dan tersenyum
sementara di room service tadi, disana ternyata para staff make up, staff dapur dan staff bertugas dinikahan Joana Egar memberikan sorakan dan tepuk tangan kepada Elva dan Feris sebagai tanda terharu mereka atas fightingnya hubungan mereka dari sebuah restu
yaa, pesan dapat diambil dari apa yang para staff disana lihat adalah restu tidak mudah didapatkan dan dijaga, jadi perlu ada perjuangan entah perjuangan kecil atau besar, setidaknya kita tau proses pemberian restu dan menerimaan restu itu tidak lah mudah seperti kebanyakan orang berpikir
Elva dan Feris sudah bebas, ketika mereka keluar dari ruangan room service itu, tidak ada lagi yang akan mereka tutupi kecuali dari para dosen karna menjaga integritas nama Feris sebagai dosen saja
selebihnya, Feris kan masih menjadi dosen paling bijaksana tidak peduli siapapun sekalipun pacarnya jika tidak mengerjakan tugasnya atau nilai jelek tetap punishment berjalan..
setelah keluar dari ruangan itu, Feris memberikan tangannya dan Elva menggenggam tangan Feris untuk lanjutkan acara bersama
saat baru sampai di kursi penerimaan tamu undangan, Nandra dan Sherla malah menitipkan kursi mereka pada Elva dan Feris
"nitip lah dulu ya" kata Sherla
"ehh, mau kemana kak Sherla, kak Nandra?" tanya Elva
"mau minta foto sama pengantin, tunggu ya, titip dulu disini" jawab Sherla
"oh okeh"
Sherla dan Nandra mendekati pengantin, lalu menggodainya
"duh pegangan tangan bae, kek udah kakek nenek nyebrang" ucap Nandra
"hahaha biarin dong, udah sah" jawab Egar
"iya tau deh, kalian ini" kata Nandra
"iya ayo, foto, aku mau up ke sosmed" kata Sherla
"iyaa, btw ini gue lagi live, sekalian deh" kata Nandra
acara terus berjalan dengan banyak doa dan kehadiran para tamu undangan, dan ketika Melinda sibuk dengan hapenya karna kabar dari Ameera tidak bisa datang jadi Ameera dan Freedy menelfon video calling untuk bisa melihat pengantinnya
"halo, Melin" sapa Ameera
"iya Melin maaf deh, suami ada karjaan projek besar ini, setahun sekali belum tentu, jadi sorry ya"
"dasar ih, aku sudah nunggu"
"iya maafkan kami ya Melin, mana Melin aku boleh lihat Joana?" tanya Freedy
"boleh, tunggu, aku keatas"
Melinda menyapa Joana, membisikkan jika ada telfon dari Ameera...
"Joanaaaa" sapa Ameera
"bibi? kenapa kamu tidak datang?"
"Joana, aku yang meminta maaf, kerjaan baru ini dadakan, maafkan kami ya" kata Freedy
"ah paman ih, aku nunggu kalian, yaudah deh, kalian baik baik ya, semoga lancar segalanya"
"oh yaa, aku ada kabar baik Joana, sebagai tanda maaf karna tidak hadir, aku membeli rumah baru, minimalis tapi asri, buat kamu dan suami mu" kata Ameera
"waaah serius bi? paman?"
"iya dong serius" jawab Ameera
"mana pernah kita bohong tanya bibi Melin" kata Freedy
"kenapa kalian selalu memberikan rumah, apartemen, kemarin berikan aku apartemen sekarang rumah untuk Joana" ucap Melinda
"wooh, iya bi?" tanya Joana
"iya, serius" jawab Melinda
"ya karna kita bisa, kalau gak bisa kan gak belikan, udah Melin kamu jangan gaco si Joana buat gak menerima" ucap Ameera
"iyaaa, iya"
"makasih ya bibi, paman, semoga bibi dan paman disana sehat sehat terus" kata Joana
"iya Joana makasih doa nya"
"oh ini bibi, paman, suami Joana"
"haaai, salam kenal" sapa Ameera dan Freedy
"salam kenal paman, bibi, senang berkenalan dengan kalian" ucap Egar tersenyum dan menyapa ramah
setelah selesai menutup telfon, Joana dan Egar kembali menikmati acara yang mereka rayakan itu, hari pernikahan mereka, hari bahagia 2 manusia yang menyatukan kesempurnaan cinta mereka
"Joana, aku sudah kumpulkan barang mu dan Egar" kata Sherla
"oh sudah?"
"iya, dimobil Egar"
"terus kalian pulang kemana dulu?" tanya Meliana
"kerumah kita ma, kan harus kerumah pria pulangnya" jawab Enggar
"loh, kalau gak salah pulang kerumah perempuan dulu deh" kata Melanie
"iya setahu saya begitu, baru seminggu nanti mau balik kemana mereka pergi bisa" jawab Amir
"aduh si mama sama si papa, bikin ribut saja" ucap Egar berbisik
"husst, biarin"
"biarin apa? kita kemana ini terus?"
"iya juga"
"gini deh, ma, pa, Joana pergi kerumah Egar langsung" kata Egar
"loh gar, kan gak ada barang barang disitu" kata Meliana
"ada kalau kamar ma, kan sudah Egar siapin buat kami balik ke rumah, karna kami tau kalian ribut rebutan nanti"