My Name JOANA

My Name JOANA
52



setelah makan, saat masuk kekamarnya, Melanie memanggilnya


"Joana, sini dulu nak" kata Melanie


"ya ma, ada apa?" sapa Joana duduk bersama ayah ibunya


"jadi kapan pergi keluar negri nya?" tanya Amir


"3 minggu lagi pa, besok masih ada 2 kelas lagi kok" kata Joana


Melanie menjelaskan jika ia meminta untuk Lestari ikut Joana ke amerika


"serius ma? tapi ma, apa boleh memang bawa buk Tari?" tanya Joana


"ini mama sama papa mau menghadap dosen utama nya kamu ya, besok gimana" kata Melanie


"oh Joana ikut ya ma" kata Joana


"jangan lah, besok kamu kan ada kelas, biar mama sama papa yang mengurusnya"


esoknya saat ada kelas pagi, Joana masuk kelasnya tak lama Egar menyapanya..


"Joana" sapa Egar


"Egar? hai, sini duduk" sapa Joana


"kamu mau pergi kapan?"


"3 minggu lagi, ini hari terakhir buat yang list kemarin masuk pertukaran pelajar" kata Joana


"emm, selamat yaa buat ini, karna ini kan murid terpilih, aku gak terpilih haha tapi gak papa lah, eh iya ini aku ada boneka kecil, lucu, aku ingat kamu" kata Egar


"waaah bagus"


"suka? disimpan ya, buat gantungan kunci kamar kamu nanti disana"


"iyaa makasih Egar"


"iyaaa"


Joana saking senang nya mendapatkan boneka lucu itu, ia berdiri saat Egar berpamitan akan pergi tapi Joana malah memeluk Egar, antara kaget juga malu, Egar memeluknya balik


"makasih Egar, ini lucu, bagus, aku suka boneka berbulu coklat ini, aku janji aku akan simpan"


"iya Joana"


Egar tidak tau jika Joana memang suka boneka khusus berbulu coklat, entah coklat tua, muda atau cream coklat, yang penting coklat karna memang sebelumnya, Nav si boneka kesayangannya itu coklat


jadi cocok nanti untuk dipajang disamping Nav, boneka dari Egar itu, tapi ia akan membawanya ke amerika dulu


saat Egar keluar kelas, Ello menahannya diluar kelas


"kenapa Ello?" sapa Egar


"kamu suka kan sama Joana?" tanya Ello


"kata siapa kamu?"


"aku tau, kamu saja sedang membodohi aku"


"aku tidak membodohimu saja, aku sedang membodohi diriku juga"


"jadi kamu memang suka?"


"suka lah, dimana ada pria yang tidak suka pada sosok seperti Joana? dia sangat baik, tapi aku merasa sudah tidak mampu bersaing dengan Elyas" kata Joana


"padahal aku sangat mendukung dan akan membantumu untuk dekat dan mendapatkan Joana tapi kalau sekarang terlambat"


"hemm, Ello, makasih ya, kamu jadi sahabatku dan Joana juga mau sahabatan sama aku itu saja sudah sangat bahagia rasanya" ucap Egar


Egar pergi dengan menepuk pundak Ello dan meninggalkan kampus karna ia sedang tidak ada kelas hari itu, ia datang hanya untuk Joana


Ello masuk, ikuti pelajaran Dori, lalu diam dikelas berlama lama disana sambil menghabiskan waktu bersama dengan keempat teman Joana sebelum Joana pergi keluar negri


tak lama mengobrol..


"hai" sapa seseorang masuk


saat melihatnya, itu adalah Wildan, yang menyapa Joana, Ello, Wita dan Nanda yang ada dikelas


"hai babe, duduk sini, eh iya ini kenalin teman teman aku" kata Vera


"emm boleh kan kalau Wildan ikut mengobrol bareng kita disini?" tanya Vera


"boleh lah, boleh banget kan nambah teman ya kak Wildan" sapa Joana


"ahh Joana panggilnya Wildan saya, aku seumuran sama kamu" jawab Wildan


"oh sama ya? iya udah Wildan ya" kata Joana


mereka mengobrol lagi disana dan membahas banyak hal


"oh ya Joana, tadi ngapain Egar?" tanya Ello


"oh dia? ini kasih boneka ini" jawab Joana menunjukkan bonekanya


"ih lucu nya" jawab Wita


"iya bagus ya? buat gantungan kunci bagus gak?" tanya Joana


"ini buat gantungan kunci bagus lah Joana" jawab Vera


"kamu sadar gak sih kalau Egar itu suka sama kamu Joana?" tanya Ello


"sadar, aku tau, dia memang suka sama aku kan sama kalian juga, udah berteman lama kan sama Egar" kata Joana kumat polosnya


"iyaaa.. ta..." ucap Ello terhenti karna Vera menahan tangan Ello


"iya udah, lah, bener kamu Joana" jawab Ello


"iya kan? Egar baik banget memang aku sayang banget juga sama dia" kata Joana


"iyaa"


semua mengiyakan saja, karna tidak mau membahas terlalu banyak banyak, karna tidak mau memperpanjang atau menambah masalah sementara Joana akan pergi keluar negri untuk satu semester disana


*fakultas kedokteran ada 10 semesternya ya gays, persemester kan 6 bulan jadi jadi selama perkuliahan, Joana menghabiskan 5 tahun perkuliahan untuk normal nya ya


sementara Joana dikelas bersama teman temannya membahas banyak hal sebelum perpisahan, ayah ibu Joana sampai di kampus Joana


"permisi nak, apa kamu anak fakultas ini?" tanya Amir


"aduh bukan pak, saya anak fakultas keguruan, ada apa ya pak?"


"waduh, ini, saya mau tanya alamat kantor dosen atas nama pak Dipo sebelah mana ya?" tanya Amir kepada salah satu murid


"oh kelas pak Dipo ya pak? bisa langsung ke lantai 4 dan ruangannya pas disamping tangga dari lantai ketiga itu" kata murid itu


"oh benar disana?"


"iya pak, ada urusan ya pak?"


"haha iya, soal anak saya" jawab Amir


"makasih ya nak" ucap Melanie


"makasih ya nak" ucap Amir juga


"iya pak, buk"


murid itu melihat kearah kedua orang tua itu, ia merasa iri karna melihat kedua orang tua itu sangat adem, sopan, bicara lembut, meskipun kepada anak yang jauh lebih muda dibandingkan dirinya


dan murid itu adalah Mikail, dimana Mikail sedang ada urusan di ruang kelas Dipo jaga untuk urusan skripsi nya nanti tapi Mikail belum sadar dua orang yang ia temui barusaja adalah ayah dan ibu dari Joana


sesampainya Amir dan Melanie dikelas Dipo, mereka mengetuk, Dipo membukakan lalu menyambut keduanya, Disini Dipo belum mengenal jelas apalagi bertemu dengan ayah ibu Joana


"ada yang bisa saya bantu ya bu, pak?" sapa Dipo


"apa anda antas nama pak Dipo?"


"iya saya Dipo pak, pemilik kampus ini juga"


"ahh begini pak, saya Amir, dan ini istri saya, Melanie"


"iya salam kenal pak, buk, lalu ada apa ya?"


Amir menjelaskan rencananya yang meminta izin untuk memboleh kan Joana pergi dan tinggal selama di amerika bersama pengasuhnya, dan disana dijelaskan semuanya oleh Amir dan Melanie alasan mereka meminta izin itu bukan karna tidak percaya atau sebagainya


bahkan mereka menjelaskan dimasa lalu Joana yang pernah buta dari lahir dan banyak hal yang dihabiskan Joana dimasa kecilnya hanya dengan kegelapan