
"gimana kak? mau?" tanya Joana
"boleh deh, aku ini saja" kata Motheo merampas gelas minuman Joana
"kenapa gak pesan baru kak?"
"kamu saja"
"ya udah"
mereka lanjut dari kafe itu untuk jalan, setelah berkeliling hingga sorenya, Joana akan pergi kembali ke asrama nya
"kak, makasih ya hari ini sudah diajak jalan keliling" kata Joana
"iya,kamu mau balik kemana?"
"asrama saja, besok pagi ada kelas"
"oh, jam berapa kamu ada kelas?"
"9 pagi"
"kerumah ku dulu yuk, ini masih baru sore, nanti aku antar malam nya kembali ke asrama"
"tapi kan.."
"kan tadi aku sudah main kerumah kamu, kamu juga lah sebaliknya"
"iya udah ayo"
mereka menuju rumah Motheo, sesampainya, rumah begitu mewah dan besar disana
"ini rumahnya kak?"
"iya, ayo masuk"
bahkan saat masuk dalam rumah, setidaknya ada 6 orang pembantu yang menyambut kedatangan Motheo dengan memberikan salam dengan membungkukkan badannya
mereka lanjut jalan kearah ruangan televisi dan duduk disana
"disini jangan belajar dulu, santai saja dulu ya" kata Motheo
"iya kak"
"aku ambil kan minum"
"iya"
Motheo pergi ke dapur..
"pak, saya buatkan minumannya?" sapa staffnya
"tidak perlu, saya sendiri saja"
"oh baiklah"
Motheo membuatkan minuman disana, Motheo sebenarnya memang memiliki niat jelek terhadap Joana, ia berniat memasukkan obat tidur kedalam minuman itu, karna ia akan memperkosa Joana dan memilikinya selamanya tapi semua dia batalkan
mengingat bagaimana polosnya Joana selama ini yang ia lihat, bagaimana ia begitu baik, perhatian, supel, dan membuat Motheo nyaman dengan ketulusan itu
ia berpikir bahkan, jika terjadi benar, ia memberikan minuman obat tidur itu, bisa saja Joana tidak mencurigainya yaa karna saking polosnya ia
akhirnya Motheo membatalkan niat buruknya itu dan memberikan minumannya
"ini buat kamu"
"makasih kak"
dan benar saja, Joana langsung meminumnya tanpa menanyakan itu minuman apa, mencurigakan atau tidak minumannya
setelah meminumnya, dan mereka mengobrol, Motheo mendengarkan semua cerita Joana tentang perkuliahannya
sementara diluar, para staff kerja dirumah Motheo pada membicarakan nya
"bos Theo membawa gadis itu. dia siapa?" tanya staff satu
"aku juga baru melihat gadis itu" jawab staff satunya
"ini pertama kalinya gak sih bos Theo membawa pulang gadis?" tanya boardiguard jaga didepan rumah
"apa mungkin itu pacarnya? tapi terlihat usia mereka sangat jauh kan"
"iya juga sih, ini sih si gadis aku rasa seusia anakku, anakku baru lulusan SMA, baru akan kuliah"
"iya aku rasa begitu"
"tapi kenapa mau ya sama bos Theo? bos Theo kan kasar, bringas"
"ah kalau seperti bos Theo, apa yang dia mau kan harus dia dapatkan ya gak sih?"
"iya tau, tapi itu jarang soal perempuan, selama saya kerja disini sama bos juga gak pernah ada sedikit saja urusan sama seorang gadis"
"hei sudah sudah, jangan dibicarakan, tau orangnya, kalian dibunuh" sambar Benjie, boardiguard disana
ia berencana mengetes itu tapi ia bingung dengan cara bagaimana, tapi bukan Motheo jika tidak memiliki pikiran licik dan menjebak
Motheo berpamitan ke toilet padahal ia menemui semua staffnya
"ada bos, ssst" jawab salah satu staffnya
"kalian sore ini bisa pulang, sampai besok pagi datang lagi sebelum jam 6 pagi" kata Motheo
"baik bos" jawab semuanya
"bos kami juga?" tanya boardiguardnya
"ini khusus untuk staff asisten, untuk staff jaga masih bekerja" jawab Motheo
"siap bos" jawab staff nya
semua akhirnya pulang sore itu juga dan bahkan Motheo memberikan saku masing masing semua staff asistennya untuk pulang
tersisa 4 staff jaga, 2 boardiguard dan 2 satpam jaga dan bergantian keliling juga
tapi Motheo yang sudah berjalan akan masuk ruangan televisi, ia kembali lagi menyapa 4 staff tersisa
"oh ya, ini untuk kalian, uang untuk tutup mulut soal hari ini saya bawa gadis kerumah ini" kata Motheo
"baik bos" jawab keempatnya kompak
"sama satu lagi, saya minta satu jam dari sekarang, tepat di jam 8 malam, matikan saklar lampu seluruh ruangan" kata Motheo
"oh baik pak"
"lalu dinyalakan lagi pak?"
"tunggu saya kasih kirim pesan masuk kepada Benjie" jawab Motheo
"baik pak" jawab Benjie
Motheo pun kembali keruangan televisi..
"oh bener berarti itu pacarnya atau gak mangsa nya" kata satpam disana
"kalau mangsa, bos Theo kan gak suka mangsa gadis, dia ada mangsa gadis cantik saja dia menolak kalau dia tidak mau" jawab satpam lain
"iya pacarnya berarti, suruh matikan lampu dong"
"ngapain dah matikan lampu hehe"
"biarin, kamu saja tidak berani tanya kan"
"oh jangan macam macam mau tau urusan mereka"
karna memang tidak ada yang berani tanya jika sudah perintah dari Motheo harus dilaksanakan, jika tidak bisa saja nyawa mereka melayang
seperti sebelum sebelumnya yang maksa untuk tanya tanya bahkan menolak apa yang diperintahkan oleh Motheo. mereka benar benar mati secara perlahan baik kelaparan atau ketersiksaan
Motheo kembali lagi keruangan televisi yang sudah ada Joana disana dan duduk disamping Joana tapi ternyata Joana sudah tertidur
Motheo melihat kearah Joana dan memerhatikan Joana, padahal itu adalah kesempatan ia bisa melakukan niat jahatnya tapi lagi dan lagi ia menahan nya dan tidak mau melakukan niat nya lagi lagi karna ia berpikir tidak tega kepada Joana
saat akan membawa Joana keranjang tidur saja, Joana terbangun..
"aduh, kak. maaf kak ketiduran" kata Joana
"mau aku pindahkan, ayo pergi tidur dikamar saja, kamu kalau mengantuk"
"tidak kak, kan malam ini pulang ke asrama"
"iya juga sih, yaudah istirahat saja, masih 2 jam kan jatahnya kamu pulang balik ke asrama"
"iyaa, kok kakak tau?"
"tau saja, kampus itu terkenal kan"
"oh"
asrama di kampus itu memang berlaku sistem bebas, tapi ketika malam batas pulang kembali ke asrama hanya sampai jam 9 malam
kalau lebih dari itu semua gerbang dikunci untuk akses masuk kampus itu terutama untuk ke asrama baik putra atau putri
"kamu kecapekan ya?" tanya Motheo
"tidak kok kak, tapi kalau aku tidak memegang buku atau membaca dan lainnya, aku akan mengantuk sekali"
"ahh"
"disini saja kak, gakpapa, buka televisi ya, soalnya gak buka televisi bosan juga, gak papa kan kak?"
"iya, ini aku putarkan dulu ya"
selang satu jam, tepat jam 8 malam, ketika asik nonton televisi, membahas salah satu film tentang percintaan dan persahabatan disana, tiba tiba lampu mati