
"3 orang, atas nama Erisa dengan 1 teman pria dan 1 gadis kecil"
"emm"
"silahkan pak mau pesan apa?"
"vanila latte di meja 20"
"baik pak"
sengaja mengambil meja 20 karna dekat dengan meja Erisa kebetulan juga meja 20 sampai 22 kosong
saat sampai di mejanya, ia melihat memang Erisa disana bersama keponakannya perempuan, tapi disana ada pria
ketika mulai mengingat pria itu, seketika pikirannya langsung terang dan mengingatnya
yap, Fabian mengingat itu adalah pria yang bersama dengan Joana ketika ke foot street malam itu, yang diakui juga oleh Joana adalah pacarnya
seketika itu, Fabian merekam kegiatan mereka dan mengabadikannya sebagai bukti nanti, setelah minuman pesanannya datang, karna melihat Erisa dan Elyas pergi jadi Fabian memberikan uang pembayaran untuk pesanannya tapi ia memberikan minumannya juga kepada pelayan
"billnya langsung" kata Fabian
"ini pak"
"ini saya bayar, kamu ambil juga minumannya"
Fabian pergi dan mengikuti kemana Erisa akan pergi ternyata pergi ke sebuah kantor, ketika melihat mereka berdua disana...
"makasih ya Elyas, sudah mengajakku makan sama keponakanku" kata Erisa
"aku juga terimakasih kamu sudah membuatku nyaman" jawab Elyas keceplosan
"ahh?"
"maksudnya membuatku dapat teman yang nyaman buat diajak sharing, kamu ternyata baik, aku cukup menyesal pernah cuek bersikap kepadamu"
"iya santai saja aku sih Elyas, karna aku tau apa diposisi mu, kamu memiliki pacar, pacarmu juga aku kenal dia baik, tapi sayang aku juga memiliki pacar, mungkin kalau kita ketemu tepat aku tidak memiliki pacar, mungkin bisa kita lebih dekat dari teman"
"apa kamu serius?"
"iya serius, tapi aku tidak bisa, aku ada Fabian"
"kamu sayang sama Fabian?"
"sayang sih, tapi aku takut kalau menghentikan hubungan ini, aku tau siapa Fabian, bagaimana marahnya dia"
"buat apa kamu lanjutkan jika kamu hanya takut?"
"aku tidak cukup berani menyelesai kan hubungan dengannya"
Elyas menyentuh tangan Erisa lalu menatapnya
"aku jujur, aku suka sama kamu, kamu mau jadi pacarku? aku janji aku akan menjaga kamu bahkan dari Fabian"
"kamu serius? kamu bener akan menjagaku dari Fabian?"
"iyaa aku serius"
"kalau Fabian tau? bisa saja kamu akan dibunuh, disini bukan di Indonesia ya Elyas"
"iya aku tau, aku tidak masalah, aku akan menjaga kamu, yaa, aku mohon, biarkan aku menjaga mu dengan caraku"
"iya, tapi bagaimana dengan Joana?"
"Joana urusanku, biar urusan dia urusanku, jadi jangan kamu mengurusnya"
"baiklah"
melihat itu, Fabian kecewa, ia mau marah tapi ia takut jika ambil jalan salah untuk marah kepada Erisa karna pasti Elyas akan ikut campur setelah Elyas mengucapkan janji itu kepada Erisa, dan otomatis akan menyeret nama Joana, jika sudah masuk Joana ikut campur bukan tidak mungkin Samuel bahkan Motheo ikut turun tangan, seperti yang dialami oleh Ranya karna menjadi mata mata Joana untuk Samuel
setelah mendapatkan bukti itu, Fabian memutuskan pergi saja, sementara Erisa yang kembali masuk kemobilnya..
"bibi, tadi disana aku lihat ada mobil paman Fabian" kata keponakan Erisa
"waah mati aku, apa iya? dimana?"
"disana, lewat doang, aku lihat mobil hitam"
"mobil hitam ya banyak sayang, kamu ini"
"tapi aku lihat kok"
"iya tunggu aku telfon dulu orangnya dimana"
Erisa juga kuatir jika benar ucapan keponakannya, jadi ia memastikannya saja
sementara Fabian pun menuju kembali kerumah Samuel, selama jalan, ia menanyai beberapa temannya tapi tidak ada yang senggang, semua sibuk urusan masing masing jadi ia memutuskan untuk pergi kerumah Samuel kembali
melihat itu ia menutup kembali pintunya dengan pelan dan pergi jalan kearah televisi dan tak lama Erisa menelfonnya
"babe, kamu dimana?" sapa Erisa
"aku? dirumahnya bos nih, dari tadi gak bisa keluar, karna kerjaan" kata Fabian
"oh daritadi tidak keluar?" tanya Erisa
"belum, kenapa? kamu butuh apa?"
"tidak, keponakanku katanya lihat kamu, tapi salah lihat kali ya"
"oh ya kali"
setelah memastikannya, Erisa merasa aman lalu menutup telfonnya, tak lama Fabian menutup telfonnya, Samuel dan Joana menyapanya
"Fabian, sejak kapan kamu balik lagi?" sapa Samuel
"eh bos.. emm kak Sam, ini baru saja, baru dapat telfon dari temanku" kata Fabian
"oh, eh kamu sibuk?"
"tidak bos, ini disini lagi makanya gak ada kerjaan lagi diluar"
"oh yaudah bisa ya antar Joana pergi kerumah ibunya lagi, nanti dia akan kasih tunjuk alamatnya"
"bisa bos bisa"
"yaudah ayo kak, aku takut ibu kuatir soalnya" kata Joana
"iya"
saat mereka akan pergi, Samuel menahan lengan Fabian
"inget jaga dia, jangan sentuh sedikit saja dia ya, kalau sampai terjadi, kupenggal kepalamu" bisik Samuel
"iya bos"
Joana pun jalan kearah mobil milik Samuel yang akan dipakai mengantarkannya, setelah masuk..
"kamu kok duduk depan?" tanya Fabian
"loh, memangnya kenapa? gak boleh ya?"
"bukannya gak boleh, kamu kan orang yang dekat dengan kak Sam, harusnya kamu duduk depan"
"aduh memang aku biasa kok, kamu juga kan sama denganku, manusia makan nasi, kenapa ada pembeda"
"tapi.."
"sudah, gak usah kuatir kak Fabian, aku kan yang mau duduk depan, meskipun kamu itu anak buah biasa, tapi kamu sama kok denganku, sama sama makhluk bumi"
"ohh, kamu sudah tau?"
"tau apa?"
"soal kak Sam itu..." ucapnya terpotong
"bos Sam itu adalah ketua mafia?" sambar Joana
"loh jadi kamu sudah tau?"
"sudah, semua sudah aku tau"
"emm"
"aku tau sebelumnya kamu berusaha menutupi kan makanya depanku panggil nya kak Sam"
"iyaa, aku tidak tau"
"dari?"
"kak Sam jelaskan semua nya kepadaku, begitu juga kak Theo, tapi mereka melarangku memanggil bos"
"aah"
mereka pun jalan, selama jalan, Joana bosan jadi membuka bukunya, selama jalan itu juga Fabian diam diam melirik kearah Joana
saat lampu merah, mereka diam dulu menunggu lampu merah itu, Joana masih sibuk membaca, dan Fabian berpikir dalam hatinya..
"gadis ini memang berbeda tapi sayang datangnya terlalu cepat" ucapnya dalam hati
Fabian juga berpikir seandainya ia dipertemukan lebih dulu dengan Joana, setelah tau hubungan Erisa dengan Elyas seperti sekarang, ia tidak akan banyak pikir dan ambil pusing, maka ia langsung melamar dan menikahi Joana
seandainya juga Joana dipertemukan pertama kali dengannya, ia akan jatuh cinta paling dalam dan bahagia mendapatkan Joana bahkan akan membandingkan dengan Erisa karna tipe ideal pacar yang di idamkan seorang Fabian adalah seperti Joana