My Name JOANA

My Name JOANA
80



"pak, bukannya butuh staff?" tanya bibi Ranya


"iya, butuh staff tapi kalau anda saya rasa tidak deh, saya tidak mau ambil resiko tinggi" kata bosnya


"resiko? saya pengalaman pak dibidang sama"


"iya tapi ada hal lain, membuat perusahaan kami tidak bisa menerima, lebih baik kami masih kekurangan lagi untuk staff"


ketika keluar dari sana, beberapa staff yang bekerja disana menanyakan ada apa soal Bastian kemarin datang dan ini juga ada kaitannya dengan ancaman dari Bastian untuk siapapun menerima bibi Ranya bekerja disana, ia akan menurunkan pasukannya


bahkan sang ayah yang seorang pengawas dari salah satu usaha pertaksian diturunkan jabatannya


"pak, maaf pak, kok mendadak ya pak?" tanya ayah Ranya


"karna saya rasa ada yang lebih pantas dari kamu yang menduduki ini" kata pemilik usaha itu


"tapi kan pekerjaan saya maksimal pak"


"iyaa tapi beruntunglah saya hanya menurunkan jabatanmu, karna saya bisa saja mengeluarkanmu, sekarang kamu pilih apa?"


"iya pak maaf pak"


dan beberapa supir taksi disana yang tadinya menghormati bahkan menyebut sebutan pak kepada ayah Ranya, kali ini mereka semua menganggap jika derajatnya sama saja jadi panggil saja namanya


dan itu juga atas ancaman dari Bams yang sudah diatur semua nya atas perintah Motheo


lalu ibunya yang mengajar juga sering sering telat gaji masuk sampai harus hutang diwarung buat makan


"bu ini saya belum dapat gaji bulan kemarin ya" kata ibu Ranya


"oh benar, itu saya bebankan sama hutang kamu" jawab pemilik sekolah itu


"hutang? kan perjanjian menyicil"


"iya menyicil dengan full gaji untuk beberapa hari ini karna saya butuh"


untung pemilik sekolah ada alasan menjabel gaji dari ibu Ranya itu, jika tidak, ia tidak akan tega mengambilnya


ditambah Ranya yang terus mendapatkan teror yang entah dari mana datangnya..


teror mulai dari meja kursi dikelasnya yang hilang tiba tiba


"eh, ini kemana meja kursi saya?" tanya Ranya


"Ranya, ada di belakang fakultas, kursi mu terbakar habis" kata salah satu teman dikampusnya


seketika itu Ranya berlari dan mendapati kursi itu benar habis terbakar, ia bingung disana dan ia berjalan kembali kekelasnya


saat ia akan mengikuti pelajaran kelas nya beberapa menit lagi, ia akan mengambil buku di laci penyimpanan, tapi saat ia buka, semua isi nya habis


"Ranya, tadi ada yang membobol laci itu memang, lihatlah pengaitnya sedikit rusak" kata orang disana


"wooh siapa?"


"aku juga tidak tau"


karna lelah akhirnya Ranya memutuskan pulang, tidak minat ikut pelajaran kelas apapun hari itu


tapi sampai dimobilnya, ban nya sudah mengempes parah 4 roda nya semua


akhirnya ia menelfon montir, tapi montir satupun tidak ada yang berani membantu memperbaiki nya


"heeei, apa yang terjadi hari ini?" teriak Ranya


belum lagi masalah baru datang, tak lama dari itu, seseorang menyapa Ranya


"atas nama Ranya?" sapa nya


"iya pak saya"


"saya dari pihak lising, mau mengambil mobil anda atas perintah bos saya"


"loh ada apa ya pak? bisa saya lihat surat tarikan mobil saya?"


"bisa"


saat dibaca ternyata penarikan mobil itu karna hutang dari keluarganya


dan semua benar benar terjadi bergitu cepat dalam situasi kehidupannya, ia hanya bisa melihat mobilnya pergi dari sana


"heeei kalau mau mati jangan didepan mobil saya" teriak pengendara itu


Ranya bingung apa yang terjadi hari ini, ia sampai dirumahnya dan marah karna ayah ibunya tapi ayah ibunya juga balik marah karna semua bukan diinginkan mereka


hari esoknya saat ia kembali kekampus, ia menuju laci penyimpanannya tapi ada seseorang memakainya


"hei apa yang kau lakukan?" teriak Ranya


"ini lacy ku, kamu ada apa? mengapa melakukan ini? ini sudah jadi hak saya lihatlah nama dalam lacy ini" bentak nya


seketika Ranya mengaduh kepada dosennya dan dosennya itu memberikannya lacy baru tanpa menjelaskan apapun disana apa yang terjadi, tapi lacy kosong ada paling ujung dan mau tidak mau Ranya mengambilnya saja


hari berat terus dijalani Ranya, sampai akhirnya kepopularitasannya mulai meredup dan menjadi menhilang


melihat itu, Akeyla dan Marcello hanya diam, mereka tidak tau berbuat apa membantu nya, tapi yang pasti mereka berpikir itu mungkin karma, selama ini Ranya memang bersikap baik pada orang lain hanya untuk memanfaatkannya


ketika lepas kelas, Joana masuk kelasnya dan menyapa Ranya...


"Joana?" sapa Ranya


"iya, ini aku, kamu apa kabar?" tanyanya


"kamu tau kan? kenapa masih tanya?"


"aku tau, untuk ini aku datang, dengan memberikan support"


Ranya berdiri dan memeluk Joana. ia merasa lebih tenang, Ranya baru sadar jika pelukan orang lain menenangkan, apalagi dari gadis sebaik Joana


"aku pernah bersalah kepadamu, aku berharap kamu tidak membenciku" kata Ranya


"tidak lah, selama aku hidup, sekali saja aku tidak pernah membenci orang"


hari berlalu sedikit tenang, dimana cobaan masih saja dialami Ranya, tapi Joana mencoba menguatkan, sayangnya tidak bisa setiap hari karna Joana juga punya sibuknya sendiri


hingga tiba dimana Ranya melihat seluruh isi lacy nya berantakan, ia merapikannya sambil teriak teriak meminta pengakuan siapa yang sudah membuat onar ini


tapi disana tidak ada jawaban apapun dari siapapun siapa yang melakukannya, sampai akhirnya Ranya mendapatkan kertas dengan tulisan


"ini akibat kamu mengganggu kehidupan Joana"


tulisan itu dalam bentuk kertas dengan spidol merah


seketika itu, Ranya memasukkan barangnya ke lacy, lalu menarik kertas itu dan membawanya kehadapan Joana


sesampainya dikelas Joana, Ranya menggrbrak meja Joana disana membuat semua murid dikelas itu bingung


"kenapa?" tanya Joana


"ini, baca, apa semua yang terjadi padaku ada hubungannya dengan kamu?" tanya Ranya


"Ranya, aku tidak tau apa apa ini" kata Joana


"Joana itu kan jelas bacanya?"


"jangan menuduh Joana ya, Joana bukan orang sepicik itu" bentak Marcello


"Cello kenapa bentak dengan kasar?" teriak Ranya


Joana merasa mungkin ada hubungannya dengan Samuel, jadi ia menelfon Samuel


"halo kak Sam?" sapa Joana


ketiga temannya disana seketika diam ketika tau Joana menghubungi Samuel


"ya Joana ada apa telfon?"


"kakak bisa datang hari ini? dikampus? dikelasku?" tanya Joana


"bisa sekarang kan?"


tak lama benar Samuel datang dan menyapa Joana, Joana langsung menanyakan apa tujuan Samuel menulis itu


Akeyla, Marcello dan Ranya juga sempat berpikir itu ulah dari Samuel, tapi Samuel mengelak


mereka berdebat disana sambil Samuel membela dirinya depan Joana, ia sudah tidak peduli didepan banyak orang dikelas