
"apa kamu sudah melupakan Egar?" tanya Feris
"ya sejak perkataan pak Feris kemarin"
Feris melepaskan tangannya dari tangan Elva...
"maafkan aku, aku tidak memiliki niat apapun saat itu"
"ya pak aku tau, tapi bapak tau tidak aku juga mulai suka sama bapak sejak makan siang bersama kak Joana dan yang lain di kantin utama"
"wooh. kamu suka juga sama saya?"
"iya. sejak itu saya suka"
"karna apa?"
"karna bapak cemburu kan melihat dekatnya kak Egar dengan kak Joana"
"anak kecil ini, kurang ajar diseriusin"
"hehe pak maaf lah, pak maafkan aku yang selalu membencimu"
"iya lah, aku gakpapa, aku orangnya memang begini, jadi kamu jangan merasa masuk kehati segala perintahku, kamu tau tidak hanya padamu aku menyuruh kelas bersih total sebelum aku masuk"
"iya tau, tapi itu dikelas lain kan random mau siapa bersihkan, dikelasku? aku doang"
"hehe, iya deh mulai hari ini tidak"
"jangan lah, aku sudah terbiasa pak, gakpapa"
mereka mulai mengobrol disana dengan suasana baru, tanpa ada tegang sama sekali dikeduanya
"lalu bagaimana dengan keputusan?" tanya Feris
"keputusan? keputusan apa pak?"
"yaudah aku ulangi dan aku perjelas, aku suka sama kamu, mau tidak jadi pacar aku?" tanya Feris
Elva tersenyum dan ia menutup mulutnya sambil menganggukkan kepalanya yang artinya ia mengiyakannya
Feris pun memeluk Elva disana, keduanya memiliki hubungan tapi sama sama memutuskan menutupi ini kepada siapapun agar tidak mengganggu konsentrasi pembelajaran mereka baik jam kuliah Elva atau jam kerja Feris
"eh tapi pak, nanti kalau kak Joana tau gimana dia marah sama aku?" tanya Elva
"apa hubungannya sama Joana?"
"ya kan kamu mantannya"
"aku mantannya, di putus dariku sudah lama, dia punya kehidupan barunya sama Elyas, kenapa aku tidak bisa?"
"tapi mereka juga sudah putus?"
"itu urusan mereka, aku ya aku, kamu ini kenapa bahas itu sih?"
"iya kan aku cuma tanya pak"
"anak kecil pikirannya kecil, mantan ya mantan, kami baik bukan berarti aku harus sungkan punya pacar lagi kan"
"terus kalau kak Joana ajak balik?"
"gak mungkin"
"aku tanyanya kan kalau"
"ya kalau, aku akan tetap sama pacarku yang sekarang"
"siapa?"
"siapa lagi yang baru saja menerima ku jadi pacar?"
"hehe"
meninggalkan Feris dengan Elva yang memiliki hubungan baru namun backstreet, kembali ke beberapa hari lalu dimana Egar yang pergi meninggalkan Elva di bangku taman belakang gedung fakultasnya
sore itu menyiapkan semuanya dan esok paginya untuk mengurus pengawasan di RS Netra, dan ketika sampai...
setelah semua wawasan, pembahasan, jalan keliling liling melihat banyak pasien jiwa, setelah semua lepas tugas, Egar mendekati Joana yang mengobrol dengan 1 teman dokter dan 3 teman perawat disana
"Joana. itu" kata salah satu teman perawat Joana menunjuk arah belakang Joana yang terdapat Egar
"eh kak Egar?" sapa Joana
"emm Joana aku pergi"
"nanti deh kak kukirim tugasnya"
dan Joana menyapa balik Egar, mereka mengobrol disana sambil jalan sekeliling taman itu, dan tak terasa waktu yang dikira nya sebentar karna seperti baru saja belum semenit mengobrol dengan Joana tapi padahal sudah 2 jam saja
Egar harus pergi memutuskan pulang sementara Joana masih di RS untuk beberapa urusan disana
beberapa hari berikutnya, tepat setelah kejadian Elva dengan Feris dan mereka sudah memutuskan berpacaran, ketika itu Joana di Netra, setelah selesai tugas jam nya, Joana malam baru pulang dan sampai rumah, sudah ada Elva dan Sherla duduk didepan rumahnya
"hai semua" sapa Joana
"hai Elva, baru datang?" sapa Joana
"emm, baru datang, banyak kerjaan di RS"
"ahh"
Joana masuk dulu, lalu mandi dan turun lagi untuk duduk bertiga dengan Sherla dan Elva, dimana didepan rumah itu mereka mengobrol bertiga, dan Joana membaca buku, beebrapa menit kemudian, Sherla mulai menyanyi sembari memetik gitarnya diikuti oleh suara nyanyian dari Elva
suara Elva tidak buruk, tidak jelek, tapi sedikit kurang bagus memang, tapi masih teratur kok meskipun dibandingkan dengan Sherla ya jauh
mereka bersama malam itu, tak selang beberapa lama, Amir dan Melanie datang bersamaan, Amir hanya menyapa tapi Melanie bahkan mencium pipi kanan kiri Joana seperti yang biasa ia lakukan jika pulang atau pergi kerja berpapasan dengan anaknya
bahkan Melanie memberikan juga ciuman kekening Sherla dan juga Elva sebagai tanda ia menganggap keduanya juga seperti anaknya meskipun tidak mencium seperti kepada Joana yaitu pipi kanan kiri lalu kening
sementara Amir, Amir memang biasa cuek untuk hal seperti itu tapi ia tak kalah perhatian juga
saat Melanie selesai bersih bersih kan badannya, Amir pergi makan, Melanie juga duduk disamping suaminya
"buk, itu anak anak sudah pada makan kan?" tanya Amir
"sudah nak Amir, tadi makan duluan saya masakin, ini saya kan masak baru buat nak Amir sama nak Melanie"
"oh yaudah, kami aman makan kalau gitu" kata Melanie
setelah makan, Amir pergi menonton televisi lalu Melanie membersihkan meja nya, yaa memang dirumah itu tidak pernah menunggu apa apa dikerjakan Lestari, karna meskipun Lestari menumpang hidup kepada keluarga Joana, tapi ia menolak untuk mereka membayarnya sebagai bayaran art
dan hasilnya seperti sekarang, semua dirumah itu tidak menganggap Lestari art sama sekali tapi sebagai keluarga mereka, yaitu ibu mereka
Melanie pun kembali duduk bersama suaminya, tak lama Melinda datang..
"eh sayang sayang aku pada diluar" kata Melinda
"hai bibi" sapa mereka semua
"bibi masuk ya"
"ya bi"
Melinda pergi masuk, lalu bersih bersih baru makan, lalu mengambil camilan untuk duduk bersama kedua kakaknya depan televisi
melihat itu Lestari melihat kearah Joana, Sherla dan Elva didepan masih asik bersama, ia pun duduk dan menyapa ketiga orang depan televisi
"hai buk, disini duduk buk bareng" sapa Amir
"ya buk duduk sini sama Melin" jawab Melinda
"yaa buk, biar jangan ganggu anak anak dulu lah, mereka asih" kata Melanie
diam beberapa menit memerhatikan televisi, baru Lestari memulai membahas...
"oh ya nak Lanie, ibuk mau tanya sama kamu" kata Lestari
"oh, kenapa ya buk?" tanya Melanie
Lestari menjelaskan untuk ia pertanyakan, tentang mereka kenapa semua orang dikasih sikap baik, semua nya bahkan siapapun yang datang tidak peduli bagaimana usul orang itu, mereka berlaku baik, terkadang sikap baik juga membuat banyak orang merasa aneh dengan sikapnya