
"tidak masalah, saya didik memang begitu, supaya tau jaga diri ketika sudah menikah, ayah ibumu harusnya yang mengaturmu, jangan bicara seenakmu" bentak Meliana
"maa" ucap Enggar dengan tegas
"pikir pa, pantas dia merayu mendekati pria sudah beristri?" ucap Meliana
"nak, kamu baik, kamu cantik, kamu memang pintar dan lebih tajir dari menantu saya tapi ingatlah harga dirimu lebih penting" kata Enggar
"saya tidak segan mendatangi kedua orang tau kamu dan kepala dinas dirumah sakit ini, jika kamu masih menjadi gadis penggoda untuk Egar" ucap Meliana
"maa sudah ma" ucap Enggar
"percuma kamu cantik tapi penggoda, saya paling anti sama orang orang seperti kamu" jawab Meliana
"sudah jelas? berapa kali saya bilang? jangan pernah dekati saya, saya tidak peduli pada anda tapi kalau keluarga saya terganggu, saya tidak diam" kata Egar
Egar menarik tangan Meliana dan Enggar
mereka pun pergi, disini Melki belum down, tapi ia tidak seberani kemarin lagi didepan Egar meskipun terkadang sikapnya masih mencoba mencuri perhatian dari Egar yang selalu tidak di lihat oleh Egar
hingga tiba dimana ia benar benar down ketika Egar disambangi oleh beberapa teman nya yaitu Feris, Nandra, Nanda dan Ello, dimana keempatnya adalah sahabat Egar dan Joana
mereka baru sampai rumah sakit issue kemarin sudah sampai pada telinga mereka, mereka kaget, semua dicari tau oleh keempatnya, siapa gadis itu, bagaimana sikapnya. dan semuanya terkait gadis itu
"apa apaan ini baru sampai, niat main tempat temen, dapat kabar begini?" ucap Ello
"iya, baru pertama kali mau main, ketempat suami Joana, eh dapat kabar ini" sambar Nandra
"dia cantik juga ya" kata Nanda
"dimata kamu mana ada gadis jelek nan" jawab Ello
"percuma cantik tapi murah, cepat bosan" kata Feris
bagaimana bisa gadis secantik itu memberikan harga dirinya murah, mereka paling mengecam jika Melki mendekati Egar, karna mereka tau bagaimana perjalanan kisah Joana dan Egar sejak awal
diantara mereka
Ello paling cuek dan begitu dekat dengan Joana
Feris memang pedas intinya
Nandra tidak diragukan kepada persahabatan dengan Joana
Nanda paling pintar untuk menyindir orang lain
tak lama, ketika semua berkumpul
"hai, bos, apakabar?" sapa Ello
"bos? waah bos bos pada kemana bos?" sapa Egar
"kesini lah, ke elu, pengen kita main main lah kali kali" jawab Ello
"apa kabar lo gar?" tanya Feris
"baik lah ris, lo gimana sama Elva?"
"begitu saja lah, aman"
"katanya ada masalah sama Elyas?"
"udah, udah selesai kan pas waktu nikahan lo, Joana selesaikan" ucap Feris
"ya bener, waktu itu kan?" ucap Egar
"em"
"lu bos, widih dua anak kembar ini" kata Egar
"bos, kita nama beda R doang, gak kembar" kata Nanda
"iya lu bos, lo aja cadel jadi gak bisa panggil gue Nandra" jawab Nandra
"dah lah, gimana kerjaan bos? sibuk gak nih?" tanya Ello
"kaga, biasa lah, udah santai tapi, ayo keruangan"
"udah lah disini santai, enak mengobrol juga" kata Ello
"beneran gakpapa?"
"iya disini enak" kata Nanda
"duduk lah sini" jawab Nandra
Egar menjelaskan semuanya agar tidak salah paham saja mereka kepada nya, dan semua pun paham
pucuk dicinta malah ulam tiba, Melki yang dari kejauhan tau jika Egar bersama teman temannya, ia mencoba mencari muka
saat Melki tersenyum ke arah salah satu pria, dan ia salah sasaran karna pria itu adalah Feris, yap, pada Feris dimana mulut dia sangatlah pedas alhasil ia menyeletuk
"hei Ello, gue pikir gue harus hubungi deh Puri, pacar lo" kata Feris
"apa dah kak Feris ini?" sambar Ello
"biar kasih tau, jaga kamu, biar gak direbut orang" kata Feris
mereka pun tertawa lepas disana, seketika itu Melki merasa memang itu untuk sindiran kepadanya
dan itu ditambah dari Nanda dan Nandra yang menyambar, antara kesal, tapi mereka memang kecewa pada gadis itu tapi lucu juga
"kurasa aku harus telfon pacarku deh" jawab Nanda
"kenapa lu?" tanya Ello
"suruh jagain aku biar gak hilang" kata Nanda
"hahaha gue pikir apa" ucap Ello
"gue sih yakin, kalau Sherla yang terbaik, secara dia paket lengkap kan? pinter nyanyi pula, beh idaman, gue udah bosen sama anak kedokteran haha" kata Nandra
mendengar semua sindiran itu, Melki tau itu tertuju untuknya, ia pun mundur, memutuskan tidak lagi caper depan mereka
dan down nya bertambah ketika tidak sengaja berpapasan dengan Fero, dokter yang sudah terkenal di seluruh jagad kedokteran diindonesia
ketika itu, Fero datang bersama Alisia ke rumah sakit Netra Utama dan tak sengaja ketemu Egar
"dokter Egar" sapa Fero
"dokter Fero? Aa?" sapa Egar
"hai Egar, waah pak dokter ini sibuk ya, lagi ngapain pak dokter?" tanya Alisia
mereka mengobrol disana bertiga, tapi Alisia pergi toilet jadi kesempatan Fero nanya soal cerita yang lagi banyak dibahas dan dia dengar, soal Melki
jadilah Egar menceritakan juga kepada Fero, Fero mulai paham dan ia saja kecewa sikap Melki yang padahal sudah tau Egar beristri kenapa masih mengeyel menggodanya
setelah Alisia selesai, Fero melihat dokter disana menyapanya membahas pasien baru lagi, jadi Fero menitipkan Alisia kepada Egar
Egar mengajak Alisia jalan sekitar rumah sakit sambil menjelaskan beberapa hal disana tentang rumah sakit tempat nya bekerja
sementara Fero, selesai urusannya, ia keluar dan tak sengaja melihat Alisia, ia pun mendekatinya..
"hai, Melki ya?" sapa Fero
"dokter Fero? iya saya Melki dokter"
"salam kenal Melki"
"yaa dokter salam kenal"
"aku dengar kemarin ada ribut sama ibunya dokter Egar?"
"oh ribut biasa dokter, kecil kok"
"iya kah? emm, soal kamu dekati Egar ya? boleh saya kasih masukan saran?"
"masukan saran?"
"iya, lebih baik cari pria lain, hargai dirimu sendiri dek, Egar beristri, saya sahabat dari istri Egar jadi saya harap, kamu bisa jaga sikap, karja saya rasa kamu tidak ada sebanding dengan istri Egar di mata Egar, percayalah" kata Fero
Fero lanjut pergi dan menyapa Alisia yang bersama Egar sejak tadi
"waduh, ngobrol seru ini, bahas apa?" sapa Fero
"eh pak Fero, sudah?" sapa Alisia
"iya sudah, ayo deh pergi"
"dokter Fero, kenapa dia panggil pak? kalian belum pacaran juga?" bisik Egar
"iya belum Egar, aku bingung juga masih ini"
"hei, apa dibuat bingung, buruan, kalau ada temanku jomblo, aku kenalin ke Aal loh"
"ya jangan lah"