My Name JOANA

My Name JOANA
68



"iya, kamu tau?" tanya Samuel bingung


karna Samuel memakai pakaian serba tertutup termasuk masker penutup wajah dan topi


"iya lah, aku ingat topi ini, aku Ranya, teman Joana, yang kamu pernah kasih aku uang segepok"


"oh"


"nyari Joana ya?"


"ya, didalam kan?"


"yaa, eh tapi bos, ada urusan apa kamu dekati Joana, kamu.."


"kenapa? salah? aku tidak mendekati mu kan?"


"yaaaa iyaa soal itu iya benar memang tapi kamu mendekati temanku, bos, gini deh, gimana lo pekerjakan gue? gue butuh duit yang banyak bos" kata Ranya


"wooh, maksudnya gimana tuh?"


"yaaa aku bakalan kasih informasi apapun mengaitkan Joana ke kamu, gimana?"


"yakin gak? urusannya sama aku ya"


"iya yakin, aku butuh butuh banget duit ini"


"kalau urusan sama aku jangan macam macam, jangan bohong, jangan buat buat, jangan pake main main ya"


"iya bos, aku kenal kamu siapa dibandingkan Joana"


"okeh, apa information yang hari ini aku bisa dapat? aku kasih uang segepok lagi"


*btw segepok uang yang diberikan senilai 10juta, jika uang segitu oleh Ranya dan kalangan bawa adalah uang besar tapi untuk seorang mafia itu adalah uang untuk beli permen


Ranya memberikan tau soal baground keluarga Joana yang semua adalah dokter dan guru


"bapaknya dosen kampus besar diindonesia khusus fakultas kedokteran, ibunya guru farmasi, sekolah SMA khusus kesehatan dan obat obatan, bibinya dokter umum dan menerima les privat dirumahnya" jelas Ranya


"hemm pantas saja" ucap Samuel pelan


"gimana?"


"Joana sendiri?"


"dia juga kan fakultas kedokteran kejiwaan"


"hemm dokter psikologi"


"bos suka ya sama Joana?" tanya Ranya


"iya, saya suka, tidak ada yang bisa menolak gadis cantik, baik, dan polos seperti Joana"


"jangan di sakiti bos, dia itu gadis baik banget, saya takut kalau sama kamu..." ucapnya terpotong


"kamu tenang saja" Jawab Samuel


"bos, mana duitnya?"


"ini, oh ya, ini simpan nomorku, hubungi aku, ada apapun tentang dia kabari aku, aku kasih uang jika kabar nya baik dan bermanfaat, aku kasih jatah uang lagi"


"siap bos, itu nomorku masuk?"


"iya"


Ranya pun pergi, dan sejak itu Ranya adalah mata mata dari Samuel, bekerja sama untuk menjadi pelapor segala kegiatan Joana


tak lama Joana keluar, dan melihat Samuel


"kak Sam kan?" sapa Joana


"iya"


"dari mana kak?"


"dari.. ada dari tempat kumpul teman teman"


"ohh, ada apa kak?"


"cari.. ya cari apa ya kebetulan lewat, saya tanya sama dosen kelasmu, kamu disini"


"ohh"


Joana dan Samuel duduk ditaman bersama lalu mengobrol berdua


"oh ya kak, tunggu" kata Joana


Joana mengambil kotak bekal makanan nya yang ia bawa, ia membukanya lalu menawarkan kepada Samuel


mau menolak kasihan, tapi Samuel gengsi sebenarnya tapi karna dipaksa jadilah mau dan mereka makan berdua bersama disana


"enak kak? ini buatan ibuku"


"iya enak"


"hehe"


"kamu dibagi gini apa kamu gak kurang?"


"enggak kok kak, mau lagi, sini"


"iya"


"Joana mau pergi kerumahku?" tanya Samuel


"boleh, kapan kak?"


"malam ini yuk, jalan"


"boleh yuk, tapi aku ada kelas 1 lagi sore, gimana?"


"gak papa, aku tungguin"


"okeh"


malamnya, Joana pergi bersama Samuel, kedua teman Joana yaitu Akeyla dan Marcello tidak curiga Joana pergi dengan siapa karna ia tidak mengenali Samuel


setelah sampai rumah Samuel, mereka masuk dan ada keempat teman Samuel ternyata disana


"bos" sapa mereka kaget


"hemm hem" ucap Samuel


"oh ya kita pergi dulu deh bos, permisi" kata Morza


"loh mau kemana kak? aku baru datang" kata Joana


"aku ada urusan lain" jawab Ravansa


"kan tiga nya masih ada, masak ikut juga kak?" tanya Joana


"iya kami ada urusan barengan sih" kata Morza lagi


"oh berarti kak Sam ada urusan juga?"


"tidak ada kok aku" jawab Samuel


"kan barengan"


"mereka saja"


"udah ya kami pergi" jawab Morza


"hati hati dijalannya kak" ucap Joana dengan polos


tinggallah Joana dengan Samuel disana, mereka mengobrol malam itu bersama di rumah itu, sebenarnya ada kesempatan jika Samuel mau untuk melakukan apa yang ia inginkan kepada Joana karna hanya mereka berdua sendirian disana


tapi Samuel tidak melakukannya mengingat Joana adalah gadis polos


tak selang beberapa lama, lampu mati tiba tiba, yap, pemadaman malam itu, Samuel bingung kenapa Joana tidak ada suara sama sekali disana


Samuel mencari Joana, Joana menyentuh tangan Samuel


"kamu gak papa kan?" tanya Joana


"iya gakpapa, kamu kok diam, takut ya?"


"aku tidak takut, biasa kok, ini kenapa?"


"tidak tau juga, tunggu ya"


Samuel menelfon Fabian dan menanyakan soal mati lampu rumahnya ternyata Fabian juga bilang jika memsng pemadaman kota


"ohh pemadaman kota malam ini" kata Samuel


"oh" jawab Joana


beberapa menit mereka diam, tidak satu saja Samuel mendengar suara Joana yang ketakutan


"sini kak, peluk aku kalau kamu takut" kata Joana


"aku..." ucap Samuel


Samuel tidak takut sebenarnya tapi ia banyak berpikir saja kalau Joana kenapa bisa tidak takut tapi yasudah lah, sementara ini Samuel bisa memeluk Joana


dalam pelukan Joana, Samuel merasa jika ia sedang keringat dingin antara malu atau takut, ia bingung sama perasaannya sendiri bahkan


saat memeluk ini, Samuel tidak sengaja melihat leher Joana dengan begitu dekat lalu mengembus aroma tubuh Joana dari lehernya, padahal kesempatan besar saat ini untuk bisa meniduri Joana tapi Samuel benar benar tidak melakukannya


bukan tidak ada *****, justru ia menahan ***** nya saat ini hanya karna ia tidak mau merusak Joana


tak selang beberapa lama, lampunya hidup tapi Joana malah tertidur di kepala Samuel, Samuel melihat Joana tidur pun membantunya menidurkannya dikamarnya


dan setelah selesai menidurkan Joana, Samuel hanya memandangi Joana, ia ingin sekali melakukan itu tapi ia begitu takut jika ia merusak Joana, ia tidak tega


semalaman tidur di atas ranjang lalu Samuel tidur di lantai, demi Joana tidur diranjang dan demi menghindari hal tidak ia inginkan


tak lama Joana bangun, membangunkan Samuel


"kaaak, kak, ini sudah pagi kak" kata Joana


"emm yaa" jawab Samuel


"kak, ayo bangun"


Joana membantu Samuel bangun dari tidurnya untuk memindahkannya ke ranjang tapi malah tidak sengaja membuat Joana terjatuh dan menindih tubuh Samuel, seketika itu Samuel terbangun membelalakkan matanya


"aduh maaf" ucap Joana


Samuel benar benar menahan malunya karna ia mengharapkan kejadian itu lebih