
"dokter Egar, kenapa selalu menghindari saya? saya ingin kenal denganmu" kata Melki
"bukannya kita sudah kenal? kamu Melki kan, dan saya Egar, kepada dokter umum di rumah sakit ini" jawab Egar tanpa membalikkan badannya
"bisa gak sedikit lembut sikap sama gadis lain?"
"bisa, dan itu hanya didepan ibu saya dan ibu mertua saya, terutama istri saya" kata Egar
"saya juga butuh pak dihargai" kata Melki
"saya juga butuh dihargai, permisi" kata Egar
Egar melanjutkan jalan dan pergi...
Melki apa tau soal Egar sudah menikah dan memiliki istri? yaa dia sudah tau, tapi ia tidak peduli, tipe gadis yang egois menurutnya ia bisa mendapatkan apa yang ia harus bisa dapatkan
tapi dari sini, Melki mendapatkan pembelajaran bahwa tidak semua yang ia inginkan bisa ia miliki terutama soal perasaan seseorang
hari demi hari dilalui oleh Egar, dengan sikap Melki yang masih mencoba mencari celah mendekati hati Egar, tapi semakin Egar di kejar, semakin pula Egar berlari lebih cepat
hingga tiba di suatu waktu, ketika Melki dijemput oleh pacarnya, ia melihat Egar datang, baru keluar dari rumah sakit dan dengan sengaja Melki memberitahu keromantisannya dengan sang pacar
"sayang, makan dimana?" tanya Melki
"ahh sayang, kamu minta dimana saja aku turuti"
"emm yang romantis gitu baby" kata Melki
ia memeluk manja, mengucapkan panggilan sayang, tapi jangan kan untuk mendekati arah Melki, bahkan Egar meliriknya saja tidak
berasa Egar tidak melihat keberadaan Melki dengan pacarnya disana dan melewati mereka berdua begitu saja
semakin hari, tak patah semangat semakin dibuat tertantang oleh sikap Egar, Melki masih berpikir bahkan ia bisa merebut Egar dari istrinya
ketika melihat Egar bersama Melanie dan Amir, mereka membicarakan beberapa hal tentang pasien disana, Melki mengira itu adalah orang tua Egar...
jadi ia sok mengenal dan menyapa Melanie dan Amir
"selamat siang om dokter, tante dokter" sapa Melki
"eh siang" sapa Melanie
"siang tante, salam kenal, saya Melki, dokter syaraf" sapa Melki
"salam kenal juga Melki, saya Melanie, ini suami saya, Amir"
"Amir" sapa Amir
"Melki, waah senang bertemu sama ayah ibunya pak Egar, cantik dan tampan, pantas pak Egar nya tampan" kata Melki
seketika itu, Melanie melirik kearah Egar, lalu Egar menarik tangan Melanie dan Amir pergi dari sana dan masuk ruangan kerja Egar
"siapa sih dia?" tanya Melanie
"maa, mama jangan salah paham ya ma, biar Egar jelas dulu" ucap Egar
"yasudah jelaskan" ucap Amir
Egar menjelaskan semua tentang Melki yang berusaha mendekati nya, bahkan meskipun sudah dijelaskan Egar telah menikah tapi Melki tetap berusaha mengambil hati Egar
Egar membuat Melanie dan Amir yakin jika Egar tidak akan pernah menyakiti hati anak mereka dengan ucapan yang meyakinkan mereka
Egar bersumpah akan setia dan tidak pernah terbesit setitik saja untuk berpaling dari Joana
yaa, Egar sudah mati rasa pada gadis lain, sejak ia kenal dengan Joana, jauh bahkan sebelum ia menikahi Joana, bukti dimana Elva dulu mencoba mendekati nya juga malah mundur karna sikap dingin dari Egar
bagaimana Egar bisa menyukai gadis lain, yang jauh lebih cantik dan pintar dari Joana bahkan jauh lebih tajir? karna Egar sudah buta kan matanya melihat orang lain selain melihat sang istri
itu contoh yang perlu ditiru harusnya oleh pria pria yang sudah menikah dan tidak lagi single
bagaimana tidak, karna Meliana adalah seorang ibu yang cerewet, tegas, banyak bicara, nyablak, Enggar pun sama tapi lebih bisa mengontrol
dimana ketika itu, Meliana datang bersama Enggar melihat aktifitas anaknya, karna sejak Egar bekerja, ia tidak pernah tau bagaimana aktifitas anaknya
saat diruangan Egar..
"ini ruangan kamu?" tanya Meliana
"iya ma, masuk ma, duduklah"
"iya mama duduk sofa saja, enak santai"
"iya ma"
sibuknya Egar pun berakhir dan bisa menemani ayah ibunya mengobrol, tapi Meliana meminta untuk mengelilingi rumah sakit itu sembari melihat kegiatan rutin siang itu dirumah sakit
saat jalan, Melki melihat mereka, ia bingung karna Egar memanggil mereka juga sebutan mama, Melki berpikir yang mana yang orang tua Egar
kemarin atau yang hari ini, tapi Melki tau yang kemarin siapa dokter Melanie dan dokter Amir, karna kan keduanya juga masih dokter di rumah sakit Netra Utama itu
tapi melihat kedua orang tua yang ini, Melki merasa jika ini orang tua kandung Egar, kemarin hanya ikatan sesama dokter saja mungkin
karna sekilas wajah Meliana memang mirip dengan wajah Egar, Egar memang full ambil wajah dari sang ibu, semuanya persis
ketika itu, Melki mendekati arah Egar lalu memberikan berkas untuk pasien dari kamar 221, pasien dalam penanganan Egar, juga terkait Melki
saat itu juga, Meliana menunggu anaknya mengobrol dengan gadis itu, tapi Melki menyapa Meliana
"belum pernah bertemu ya sama ibu ini, apa ini ibu nya dokter Egar?" sapa Melki kepada Egar
"iya" jawab Egar
"lalu kemarin?"
"ayah ibu saya juga"
"oh"
jadi dalam pikiran Melki, mungkin kemarin masih keluarga tapi sudah dikatakan orang tua juga
"salam kenal bu, saya Melki, saya dokter syarat disini, pangkat saya dokter muda" kata Melki
"oh ya, salam kenal balik ya Melki" jawab Egar
karna Meliana tidak mau menyapa orang sembarangan, tapi Enggar tidak enak pada gadis itu, jadi ia menjawabnya saja
"oh ya, ibu cantik sekali, mirip seperti dokter Egar, saya salut jadi melihatnya"
"Egar siapa dia?" tanya Enggar
"kan tadi sudah bilang dia pa, namanya Melki, udah pa ayo masuk keruangan kerja" kata Egar
saat Egar membawa pergi kedua orang tuanya..
"dokter Egar, kenapa sih selalu menghindar, apa saya kurang cantik, apa saya kurang masuk kriteria dokter? katakan dokter saya akan merubah diri saya seperti apa dokter mau" kata Melki
mendengar itu seketika Meliana membalikkan badannya
"maa, ma... nanti Egar jelaskan" bisik Egar
tapi karna memang sifat Meliana lebih tegas, ia pun tidak peduli itu tempat kerja anaknya, ia memberikan pelajaran pada Melki atas ucapannya
"hei nona, mau kamu menjadi cantik seperti siapa, mau menjadi kaya seperti siapa, dan sepintar apapun kamu, anak saya tidak tertarik sama kamu, istrinya jauh lebih dari kamu" ucap Meliana
"iya bu, maafkan saya, sudah bicara lancang, tapi ibu perlu tau, anak ibu, tidak menghargai saya, dia bahkan cuek kepada semua staff disini, bu" kata Melki