
ia langsung membuka pintu tanpa permisi
"Joana" ucap Dori melirikkan kearah Elyas
"kak Elyas?" sapa Joana
Elyas tidak tau tempat dan situasi, ia meminta Joana ikut dengannya
"kak, aku masih ada rapat, tunggu ya, jangan bikin rusuh lah dulu"
"iya, aku ikut disini"
"emm"
Joana melirik kearah Wildan dan Dori, dan mereka memberikan izin saja dari pada acara rapat itu terganggu karna Elyas
setelah rapat selesai, dan pembahasan disana memang hanya sedikit, semua nya keluar dan juga diikuti Joana dan Elyas yang akan pergi juga, tapi Elyas menahan Joana
"sayang, aku ikut pergi ke amerika, sama kamu" kata Elyas
"apasih kak, kenapa ikut?"
"aku tidak bisa membiarkan kamu pergi sendiri kesana, aku harus ikut"
"tapi kan pekerjaanmu disini masih banyak"
"ya gakpapa, aku bisa cancel" jawab nya santai
"cancel gimana? kalau gak lulus gimana kak? gak ada, masak kamu mau gak lulus, kamu disini kak, selesai kan lulusan kamu, sudah hitungan bulan saja loh" kata Joana
"iyaa, tapi aku gak masalah kalau gak lulus dan mengulang satu semester lagi" jawab Elyas
"kaaak, kurang dua bulan saja loh kan kak kamu kelulusan kan?" tanya Joana
"biarin, aku gak masalah, dari pada kamu pergi sendirian" jawab Elyas kekeh
"gak ada kak kayak gitu, kalau kakak maksa ikut, maafkan aku, aku minta kita putus saja" kata Joana
seketika itu Elyas kaget ucapan Joana membuatnya langsung terdiam dan ketakutan lah pastinya
"sayaaaang, kamu jangan main main sama ucapan putus loh, aku gak mau" ucap Elyas
"ya kalau kakak maksa masih ikut aku, aku gak mau kakak lalai kan tugas wajib sendiri untuk aku, aku gak mau kak, pokoknya kakak masih disini atau maksa ikut ya jangan minta aku buat mau terus lanjutkan hubungan nya kak, karna sama saja kakak tidak lulus itu karna kesalahan aku" kata Joana
"yaudah, iya tidak kok, aku tidak jadi ikut sama kamu kesana, tapi aku kelulusan ini setelah 2 bulan, aku menyusul ya" kata Elyas
"terserah, tapi aku mau dapat kabarnya, kakak lulus, bukan mengulang tahun depan nya lagi" kata Joana
"ya okeh sayang okeh" kata Elyas
mereka pun pulang, Joana juga kembali kerumahnya, malamnya Joana memberitahu kepada ayah ibu dan bibi nya untuk pertukaran pelajar ini
saat makan malam disana dijelaskan semua oleh Joana..
"berapa bulan disana?" tanya Amir
"setengah tahun pa, karna biar masuk satu semesternya"
"oh, kamu sama siapa saja kesana? apa ada teman lainnya?" tanya Melanie
"ada kok ma, dari kedokteran sama denganku ada Tivano, anak dari kelas 7.2"
"iya ma, gimana lagi kan gak mungkin Joana mau nolak itu permintaan pak Dipo dan dosen lainnya bersangkutan"
Joana melanjutkan makannya, ia sudah berpamitan kepada kekuarganya disana termasuk ada Lestari juga disana, karna Lestari masih bekerja dirumah Joana, mengasuh Joana hingga kini bahkan tapi melakukan pekerjaan rumah lainnya juga
bagaimana pun Lestari menumpang kehidupan di rumah keluarga Joana, tapi Melinda disana menyadari kakaknya dan suami kakaknya itu seperti keberatan
"yaudah, gini, gini, kamu perlu belajar banyak hal soal amerika disana, biar bibi nanti membantu kamu membahas semua hal terkait amerika ya" kata Melinda
"oh ya bi, sama sekalian ajari aku lancarkan ucapan bahasa inggris ku ya, aku sudah belajar dikampus, bisa, tapi belum lancar" kata Joana
"iya siap"
Melinda mungkin sama, keberatan juga, ia tau bagaimana Joana bahkan sejak ia lahir pertama kali didunia, jadi ia paham betul sosok Joana, dan ia sangat merasa kehilangan, tapi ia berpikir ulang, ini tidak untuk selama nya juga kan? sementara saja, apalagi karna tugas kampus dan kewajiban murid
setelah makan malam itu, Melinda melihat dikamar Joana yang sudah tidur, lalu ia menuju kamar Amir dan Melanie, mengetuk kamar itu dan Amir membukakannya
"Melinda?" sapa Amir
"aku boleh masuk dan bicara sama kalian?" tanya Melinda
"ya masuk saja"
Melinda masuk, lalu duduk di kursi depan meja rias dan mulai membahas banyak hal soal kepergian Joana ke luar negri itu
dimana benar saja, Amir dan Melanie menyatakan jika mereka memang berat, mereka benar benar tidak bisa mengatakan apapun disini hanya kata "kami benar benar berat"
Melinda memberikan masukan kepada mereka..
"kak, aku juga berat atas ini, aku dekat dengan Joana sejak ia masih bayi, sejak lama ia tidak bisa melihat dunia selama 15 tahun lamanya aku mengajarinya, aku jadi gurunya, tapi kembalikan kepada tugas" kata Melinda
"Linda, aku gak ngerti mau bicara apa lagi, aku takut disana Joana tidak bisa jaga diri nya" kata Melanie
"kalau kamu pikir begitu sama saja kamu meragukan anakmu kalian loh?" tanya Melinda
"ya aku tanya kamu sekarang, kamu yakin Joana bisa sendiri disana? amerika loh Linda, bukan bandung ke jakarta" jawab Amir
"kalau abang tanya itu, aku jelas lah tidak rela, tapi bagaimana lagi, kalian pernah kuliah kan, ini bagian dari tugas" jawab Melinda
keduanya langsung diam karna membenarkan ucapan Melinda disana
"ya sekarang gini aja, kita back up dia terbaik, ini kan juga tanggung jawab dia, dia dipilih artinya kampus mempercayainya, aku punya ide untuk kalian kalau merasa kuatir membiarkan Joana pergi sendiri" kata Melinda
"apa?" tanya Amir
"suruh sama buk Lestari ikut dengan Joana ke amerika, biar mereka disana kan barengan, jadi Joana gak sendirian" kata Melinda
"bu Tari mau tidak ya?" ucap Melanie
"dicoba dulu tanya, dia lagian gak ada anak, gak punya keluarga yang harus dipamiti, bu Tari kan selalu sama kita disini, kita tau dia sebatang kara, dia pasti mau kalau suruh ikut sama Joana"
"bisa sih, tapi apa kampus membolehkan Joana membawa bu Tari? kalau gak boleh?" tanya Amir
"ya abang gak bisa apa berusaha dulu sebelum nyerah, pake nyerah dulu belum juga nyoba, temui dosennya, temui bu Tari dulu, membicarakan ini"
esoknya.. Joana datang ke kampus pagi karna jam 8 ada rapat bersama para dosennya, meskipun kelasnya sebenarnya baru sorenya
sementara selesai makan, Amir pergi bekerja, dan Amir memberikan kepecayaan istrinya saja yang menjelaskan kepada Lestari
setelah Melinda juga pergi dijemput Dimas, tertinggal Melanie dan Lestari di rumah itu, tapi sebelum Melanie pergi bekerja, ia memanggil dan mengajak mengobrol Lestari membahas tawaran agar Lestari mau ikut menemani Joana ke luar negri