My Name JOANA

My Name JOANA
1



Gadis kecil bernama Joana Calista


banyak yang mengenal dengan sapaan Joana..


Gadis yang dilahirkan dengan kondisi kedua matanya tak bisa melihat membuatnya tak mengerti berbagai macam bentuk-bentuk, warna-warna, benda-benda semua yang disekitarnya


"Joana, sudah menghapal bagian sisa kemaren?" tanya Melinda, adik dari ibu Joana


"sudah bi, kemaren aku mencoba terus dan terus"


"bagus, cantik deh"


Joana juga hanya belajar membaca, menulis, dan menghafal dari bibinya itu yang berprofesi sebagai guru disalah satu sekolah psikologi yang mengatasi anak-anak dengan berbagai keterbatasan


Joana tinggal dengan kedua orang tuanya tapi hari-hari hanya ditemani ibu saja karna ayahnya harus kerja, tapi ayah pulang kerja sore, jadi selepas kerja itu ayahnya bisa menemani sang anak


lepas dari itu semua Joana adalah gadis ceria.. penuh semangat ia percaya akan bisa melihat suatu hari nanti ia akan bisa melihat, ia selalu meminta kepada Tuhan akan hal itu


Joana, lagi didepan tv


"makan" kata Melanie, ibu Joana


"ya ma"


"lagi lihat tv?"


"iya nih, bentar lagi deh ma, mama duluan, itu acaranya mau iklan kok"


"iya sudah"


meskipun buta, tapi Joana bisa mendengar, dari sinilah ia mencoba untuk terus bisa memahami sebuah film yang ia sukai tanpa harus melihatnya


oh ya, lupa kasih tau, jika Joana masih bersekolah, tapi karna kondisinya membuatnya tidak bisa sekolah layaknya anak lain yang normal, ia hanya bisa belajar bersama Melinda


Joana memiliki teman selama ia tak bisa melihat indahnya dunia, teman yang sering ia panggil dengan nama Nav yang diambil dari nama warna kesukaan Joana yaitu "navy" atau sebutan lain dari biru dongker


ditiap malam, setelah ibu dan ayahnya selalu memastikan persiapan tidur anaknya, Joana selalu bercerita, berbagi seperti ia punya teman..


dan itu memang ada, bernama Nav lah selalu memberikan ketenangan untuk Joana..


"hai Jojo?" sapa Nandra


"Nanan?" sapa Joana


"ahh kamu selalu memanggilku nanan"


"kan nama kamu Nandra?"


"iya panggil yang lengkap, Nandra, gitu"


"haha kamu kenapa panggil aku Jojo? aku kan Joana"


"biar lucu"


"ya sama"


"yaudah lah terserah kamu saja, eh ayo main"


persahabatan dengan Nav sejak ia menginjak usia 3th hingga sekarang ia sudah masuk 10tahun usianya tapi selain Nav, Nav juga dekat dengan Nandra, teman dan juga sahabat buat Joana yang selalu dipanggil nya sebutan Nanan adalah anak lelaki dari tetangga rumah Joana


laki-laki baik yang selalu berteman dengan Joana ketika ia ingin keluar ke taman yang berada dibelakang pekarangan rumah Nandra..


"Nanan kamu bawa apa?" tanya Joana


"aku bawa mainan mobil, tapi seperti boneka, bentuknya mobil"


"oh, jangan sampai kotor, kita main taruh sana saja"


Nandra meletakkan mainan nya disamping Nav


Joana juga sering diajak oleh Amir, ayah dari Joana, juga bersama Melanie, ibu dari Joana, untuk datang ke dokter yang biasa ia datangi memenuhi jadwal periksa tentang mata Joana


sisi lain dari Joana adalah seorang yang peduli pada orang lain, seperti sepulang dari dokter ia dan ibunya menuju penjual mie..


"pesen apa bu?" sapa penjual mie


"mie ayam dua ya ya bu" kata Melanie


"kok dua ma?" tanya Joana


"bapak enggak nak" jawab Amir


penjual sambil menyiapkan makanan


"abang kok dari tadi saya liat bengong?" tanya Melanie


"sepi? wah kasihan pa" jawab Melanie


karna Amir merasa kasihan dan kebetulan kata disana juga ada seorang anak kecil pengemis, jadi Amir menyuruh istrinya membelikan anak itu beberapa bungkus untuk beberapa keluarganya sekalian membantu penjual mie ayam untuk mendapatkan uang


kebiasaan baik inilah yang selalu di pancarkan oleh kedua orang tuanya dan turun ke kebiasaan anaknya juga..


"yasudah bu, bungkus semua deh, saya borong" kata Amir


"semua pak? tapi ada 40 bungkus sepertinya" kata Mulyono


"iya gakpapa, semua bungkus sudah, dipisahkan saja deh bumbu saus tomat sama saus kecap nya"


"terimakasih pak, bu.." ucap Mulyono dengan wajah senang


"semoga dibalas lebih besar nikmatnya ya" ucap istri pak Mulyono


tapi saat akan membalikkan badan melihat anaknya, dikira Amir, anaknya menikmati makanan, tapi ia menemukan anaknya, Joana, sudah bersama anak pengemis itu, Joana duduk dan menunggu anak pengemis yang sedikit lebih tua dari usia nya itu makan mie milik nya yang belum di cicipi oleh Joana


"Joana, kamu ngapain?" tanya Amir


"aku dengar kata papa, jadi aku dekati dia, kasih makanan ku" kata Joana


"makasih pak, bu, makasi ya" kata anak pengemis itu


dan Amir pun memberikan bungkusan makanan lagi untuk anak itu bawa pulang buat keluarganya


lalu sisa mie yang telah dibungkus nya tadi akan Amir bagikan dipinggiran jalan


suatu hari karna bosan di kamarnya Joana mencoba keluar kehalaman depan rumah karna kondisi rumah sepi kebetulan Melanie sedang kepasar jadi tak ada yang menemaninya kecuali Nav..


Joana menuju depan rumah dengan tongkat kecilnya yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi tapi saat sampai didepan gerbang rumahnya ia mencoba membuka tiba-tiba ada yang berkata padanya seorang pemulung yang mencari makan di sampah depan rumah Nav


"nak... mau kemana?" tanya pemulung itu


"pengen ke taman bu" jawab Joana


"yaudah saya antar yaa nak"


"gausah bu"


"gakpapa, saya sering datang lewat sini, dan melihat kamu, gak usah takut, saya benar niat baik"


ibu itu pun mengantarkan Joana, ke taman yang berada dibelakar rumah Nandra, yang harus melewati jalan yang begitu rame dan ibu-ibu itu membantunya untuk melewati jalan itu


sesampainya di taman


"Joo" teriak Nandra


"itu teman nya ya?" tanya ibu itu


"iya bu, bu makasih ya buk.. maaf ngerepotin"


"gak papa nak.. ibu mengerti kondisi kamu"


"saya Joana bu.." mengulur tangannya


"oh saya Lestari nak"


"bu Lestari, wah, saya panggil bu Les boleh?"


"boleh banget"


"oh ya, tadi ngapain didepan rumah saya.."


"Cari makan nak" ucapnya sedih


"cari makan bu? bukannya kata mama saya didepan rumah agak ke kiri itu tempat sa.." ucapnya terhenti


"iya nak ibu gak bisa beli makan jadi cari sampah"


"oh, aku ada roti sama permen, ibu mau ambil saja semua, buat makan"


"ngapain nak gausah repot-repot"


"anggap saja ibuk anter saya, gimana? terima ya bu"


Lestari pun menerima dan tersenyum bangga, ia bangga dipertemukan dengan gadis sebaik ini, tidak sombong kepadanya


"ibu makasih sudah antar teman aku ya" kata Nandra


"iya nak"