My Name JOANA

My Name JOANA
102



"bener, jangan sungkan sungkan, tau tidak teman teman Joana, semuanya. kalau datang kemari, seperti rumah sendiri, beneran, tadi saja Elva, sudah kenal Elva kan?" tanya Lestari


"oh yang tadi, iya buk, tau" kata Sherla


"itu saja, bagaimana kalau dirumah ini, seperti rumahnya sendiri saja, beneran, udah jangan sungkan sungkan" kata Lestari


setelah akhirnya semua selesai


Sherla mengambil kopernya dan beberapa bajunya dari kamar Melinda, ia merapikan kembali kamar Melinda untuk ia tinggal di kamar baru nya


saat merapikan baju bajunya dilemari kamar itu, Sherla melihat kearah meja dekat jendela kamar itu, ada beberapa boneka disana


ketika ia mendekati, ia tertarik kepada sebuah boneka yang lucu baginya, berpakaian biru dongker dengan rok panjang putih tulang, rambut panjang di tali, sekilas ia teringat boneka itu bentuk gaya berpakaian Joana


Sherla memeluk boneka itu, karna ia merasa bahagia melihat boneka itu, mirip Joana, Joana yang menyelamatkan nyawanya dari kejaran gengster yang akan membunuhnya


"oh ya, boneka boneka itu, ibuk pindah ke kamar gudang penyimpanan ya" kata Lestari menyapa Sherla


"biarin deh buk, aku suka sama boneka ini"


"oh, itu boneka, Joana memberi dia nama, ada dibaju belakang bagian dalam tulisan nama nya, Nav" kata Lestari


"ahh nama dia Nav?"


"iya, namanya? Nav, itu boneka menemani Joana selama Joana masih jaman buta dulu"


"emm, pantesan, memang boneka ini sangat enak dipeluk, sangat menenangkan" ucap Sherla dalam hati


"apa Joana akan mencarinya lagi buk?" tanya Sherla


"tidak seperti nya, itu boneka sudah dikamar ini sejak Joana pindah kamar"


"yaudah deh, biarin dia disini buk"


"yaudah"


setelah selesai semua kamar baru ditempati Sherla, malamnya saat Lestari sedang menyiapkan makan malam, Amir dan Melanie datang dari kantor mereka masing masing


tak selang beberapa lama, Melinda juga ikut datang, rencananya memang Melinda akan menginap, tapi jika masih ada Sherla dikamarnya, mungkin Melinda akan tidur bersama Joana saja


"Joana, sini" ajak Amir


"ya pa"


"mana teman kamu nak?" tanya Melanie


"dikamarnya ma, oh ya pa, ma, kamar Sherla sudah jadi loh" kata Joana


"oh ya? coba papa lihat ayo"


"iya penasaran"


"eh ikut dong" jawab Melinda


"ayo" ajak Joana


mereka naik kelantai atas lalu masuk kamar Sherla dan mereka melihat lihat kamar itu berubah drastis, yaa kamar itu menjadi kamar yang nyaman versi Sherla


"hehe paman, bibi, bibi Melinda, gakpapa kamarnya aku rubah?" tanya Sherla


"ahh Sherla, pakai saja, memang buat kamu kok, kalau dipakai kamu kan dirawat, semoga kamu betah ya" kata Melanie


"iya bibi, makasih ya bibi sudah ijin kan aku tinggal disini, aku selalu akan merepotkan kalian"


"ahh tidak lah, kamu sudah aku anggap seperti Joana, sudah seperti anakku sendiri, jadi panggil nya juga kepadaku, mama Melanie dan papa Amir" kata Melanie


"ahh serius? makasih bibi"


"iyaa"


Sherla memeluk Melanie disana sebagai tanda rasa harunya dan terimakasihnya atas kebaikan keluarga ini kepadanya, ia benar benar dipertemukan dengan orang tepat yang membawanya menjadi keluarga mereka dimana ia tidak pernah merasakan kasih sayang keluarga itu sejak Motheo menebas semua nyawa keluarganya


"waah apa iya? apa sudah rapi?" tanya Amir


"sudah pa, kami bersihkan berdua"


"bagus deh"


malam tiba, hari pertama tidur nya Sherla dikamar itu, Sherla tidur nyenyak sekali, bagaimana ia bisa tidur ditengah kehangatan keluarga karna selama di amerika, ia pergi sana sini, numpang teman, dimana mana ia tidur menumpang bahkan dikondisi itu untuk tidur tenang saja belum pernah ia rasakan


dan sekarang ia benar benar merasakannya..


hari ketiga Sherla ada dirumah Joana yang di Indonesia, dihari itu pula Joana harus pergi kekampus, setelah ayah ibu Joana pergi lebih pagi, karna memang setiap pagi, aktifitas pagi Joana tidak pernah berkumpul dengan keluarganya sebelum aktifitas


selalu Melanie dan Amir pergi bekerja lebih awal, terkadang hanya sering bersama Melinda, itupun jika tidak Melinda terburu dan berangkat lebih awal pula dibandingkan yang lain jadi yang pasti Joana lebih sering ditemani Lestari


setelah makan pagi, Joana pamitan pergi kepada Lestari, Lestari mengantarkan hingga depan rumahnya saja lalu Joana pergi sendiri, saat Lestari masuk lagi, ia mengetuk kamar Sherla


"Sherla, kamu tidak bangun? ayo makan, makan pagimu sudah kusiapkan" kata Lestari


"iya buk. ini aku baru mandi"


"okeh deh, turun habis itu makan"


"yaa"


tak lama Sherla keluar dari kamarnya, melihat kekamar Joana tapi sudah tidak ada orang, ia baru ingat hari ini Joana pergi ke kampusnya, Sherla pun turun, ia menuju meja makan lalu mulai makan paginya


"makan yang banyak, kalau kurang minta lagi sama ibuk" sambar Lestari dari dapur


"iya buk, kamu tidak makan?"


"aku sudah tadi, makan sama Joana"


"emm, Joana pergi kekampus hari ini ya buk?"


"iya, sudah pamitan sama kamu?"


"sudah kemarin sih"


"emm"


Sherla kearah dapur menaruh piring bekas makannya, karna ia menumpang ia tau adab, ia mencucinya sekalian, dan Lestari tidak melarang itu


"kalau disini habis makan cuci piringnya sendiri ya, jadi kamu setiap makan langsung cuci piring sendiri dan letakkan di penataan yang masih basah, nanti aku yang pindahkan ke lemari penyimpanan setelah kering" kata Lestari


"iya buk, memang begitu ya aturan disini?"


"iya memang begitu, aturan dari ibu Melanie karna mereka kan keluarga dari kesehatan, jadi harus semua serba bersih dan rapi, jadi jangan sampai ada piring kotor menumpuk" kata Lestari


"emm"


mereka kembali diam disana, saat Lestari santai duduk didepan rumah, Sherla mendekatinya dan duduk disampingnya, Lestari hanya melirik sekilas lalu kembali melamun nya


"ibu kepikiran siapa?" tanya Sherla


"maksudnya?" tanya Lestari


"ibu Tari sedang kepikiran keluarga kan? kalau aku kepikiran ibuku dan ayahku, mereka sedang apa di alam sana" ucap Sherla


"apa kamu sudah tau tentang aku?"


"sudah, aku sengaja tanya sama Joana"


"tanya?"


"iyaa, karna aku jujur saja, sejak kenal Joana, Joana menjelaskan kamu siapa tapi kamu tidak seperti melakukan apa yang seharus nya art lakukan, makanya aku tanya detail" jawab Sherla


"yasudah kalau kamu tau, ibu juga tau kamu dari Joana, kamu sabar ya"


"iya bu, disaat aku butuh mereka, mereka tidak ada, mereka tidak bisa mendengar cerita ku, cerita bahagiaku, cerita sedihku"