
jadi motornya nganggur juga kan, akhirnya Lestari pulang pergi kerumah Joana bisa memakai motor itu saja
"terus kalau misalkan kalian week end atau libur gitu, ibu gimana jam nya?" tanya Lestari
"kalau itu terserah ibu deh, mau apa, maksudnya mau dimana, disini boleh, kalau mau balik ke mama boleh juga"
"oh gitu? yaudah bebas berarti ya"
"yaa"
sebulan berakhir
tak terasa Joana sudah masuk usia pernikahan 3 bulan bersama Egar, mereka tidak pernah menundah untuk mendapatkan momongan, tapi takdir berkata jika ia harus menunggu dulu dalam jangka yang tidak tau hingga kapan takdir mempercayakan mereka mendapatkan
dan kini masuk pada bulan ke 10 untuk kontrak kerjaan Joana di RS Netra..
saat Joana duduk di meja kerjanya, Septi masuk..
"Joana, jadi ketemu sama bu Ridha hari ini?" tanya Septi
"oh jadi kak, pembahasan untuk masalah pasien kamar Wita kan?"
"iya, yaudah ini berkas berkasnya kamu bawa, nanti jemput aku saja dimeja kerjaku ya, aku takut lupa berkasnya kalau aku yang pegang"
"oh baiklah"
Joana pun melanjutkan pekerjaannya, hingga beberapa jam kemudian, dimana jam menunjukkan sudah pukul 2.35 sore..
Joana bersiap siap untuk jadwal meeting tertutup bertiga bersama bu Ridha dengan Septi
setelah ia keluar dan mencari Septi, dan keduanya juga mencari keberadaan Wita untuk pembahasan tentang pasien dikamar Wita tersebut kan perlu Wita, mereka pun menuju keruangan Ridha
tapi sebelumnya yang terjadi diruangan Ridha..
Ridha bertelfonan dengan salah satu dokter terkenal..
entah apa yang dibahas mereka tapi ketika Septi dan Joana masuk, Ridha meminta izin untuk menyelesaikan telfonnya dan kembali fokus kepada keduanya
"silahkan duduk" sapa Ridha
"iya bu" jawab Septi
"mana Wita?"
"selamat siang bu, maaf saya sedikit terlambat" ucap Wita
"iya Wita masuklah"
mereka memulai membahas kembali beberapa hal tentang pekerjaan pastinya, lalu setelah semua selesai, Wita keluar lebih dulu untuk melakukan pekerjaan dan tugasnya lagi, sementara Septi dan Joana masih di ruangan itu untuk beberapa hal
setelah selesai, Joana juga pamit keluar karna urusannya lebih dulu selesai
"baik bu, saya pamit keluar" kata Joana
"iya iya, Joana, jangan lupa buku perkembangan, kamu kasih untuk pasien baru di kamar utama dekat ruang perawatan intensif"
"baik bu"
sementara Septi berdua dengan Ridha menyelesaikan urusan mereka dan setelah tuntas juga, Septi turut berpamitan
baru saja Septi berpamitan, telfon masuk diruangan Ridha lagi dan dari dokter yang sebelumnya
"ya pak, selamat sore pak, maaf saya baru saja ada laporan dari suster dan dokter bertugas, untuk urusan itu sepertinya saya ada orang yang pas"
"ada? soalnya saya butuh orang benar benar bisa penanganan, karna kasihan pasien kalau saya selalu suntikkan penenang" kata dokter itu
"iya dokter ada, atas nama dokter Joana, saya bisa memintanya untuk mengurus pasien tersebut, dokter Joana ini sudah berhasil membuat survival pada salah satu pasien dengan gejala paling berbahaya untuk penyakit mentalnya" kata Ridha
"bisa ya? kapan saya bisa bertemu? apa saya akan datang dengan dia langsung?"
"bisa, bisa dokter atur saja"
"bagaimana saya suruh untuk asisten pribadi saya datang dan menjelaskan"
"yaa juga bisa"
"iya kalau hari ini saya bicara bisa dipanggilkan? saya mau memastikan nya saja dulu" kata dokter itu
"bisa, sebentar pak"
Ridha menahan dulu panggilannya dan memanggil Septi yang baru keluar dari ruangan Ridha, tapi Septi tidak terlalu cepat berjalan karna berpikir, apa hubungannya Joana dengan dokter yang mengobrol dengan Ridha baru saja
"suster Septi" panggil Ridha
"ya bu?" sapa Septi
"bisa minta bantuannya panggilkan dokter Joana? bilang saya ada kepentingan sebentar sekarang ya"
"baik bu"
Septi berburu menuju ruangan kerja Joana, tapi Joana belum masuk ruang kerjanya, masih didepan ruang kerjanya mengobrol bersama Wita
"Joana" sapa Septi
"ya kak?" sapa Joana
"kamu diminta sekarang balik keruangannya"
"sekarang?"
"iya sekarang"
"Wita, aku tinggal dulu ya"
"iya Joana"
Joana pun pergi...
"ada apa kak Sep?" tanya Wita
"gak ngerti juga, tapi tadi sebelum pergi, saya dengar sih butuh bicara sama Joana, kayaknya butuh dokter membantu mereka gitu apa, soal nya bahas pasien darurat" kata Septi
"ahh"
Joana berjalan kembali keruangan Ridha, sesampainya..
"silahkan duduk Joana"
"iya bu, ada apa bu?"
"gini. tunggu dulu disini ya, bentar lagi ada dokter yang akan menelfon, beliau butuh bantuan kamu untuk mengatasi pasiennya"
tak lama telfon itu masuk lagi, lalu Ridha mengangkatnya, menyapa nya dan menjelaskan jika sudah ada dokter rekomendasinya
Joana pun menyapa dokter itu dan berkenalan disana, lalu mulai menjelaskan apa yang dibutuhkan bantuannya oleh dokter tersebut
inilah, dokter yang memiliki nama asli Jorse (panggil : Jors) ini pemilik dari rumah sakit jiwa terkenal di amerika
amerika?
yap di amerika, rumah sakit miliknya itu bernama RSJ JORSHY, rumah sakit yang terbilang baru tapi cukup lama juga sih, tapi namanya sudah cukup dikenal
Jorse adalah pemilik dari JORSHY, JORSHY sendiri nama gabungan dari 2 pemilik yaitu Jorse dan Shilly, mereka adalah suami istri yang menikah dan membuka usaha RSJ itu karna bidang sekolah (kuliah) mereka adalah dokter ahli jiwa
Joana juga tau soal rumah sakit itu, tapi memang Joana tidak pernah sampai di rumah sakit itu meskipun ia pernah tinggal di amerika selama 7bulan lamanya
rumah sakit milik Jorse ini memiliki satu pasien yang sejak awal ia tidak terlalu parah sampai akhirnya beberapa minggu terakhir dokter kewalahan, sampai harus menyuntikkan nya dengan obat penenang
karna tidak mungkin juga jika setiap saat disuntik obat penenang karna efek sampingnya berbahaya, jadi butuh dokter pengalaman untuk ini dan Joana lah orang yang tepat
"jadi saya secara resmi mengatakan disini dulu melalui telfon untuk memastikan apa kamu bisa membantu kami?" tanya Jorse
"saya masih bisa pak, tapi saya masih ada beberapa bulan menyelesaikan kontrak, apa bisa menunda kedatangan saya biarkan saya selesai kan kontrak sebulan saya?"
"berapa bulan?" tanya Jorse lagi
"kontrak saya sendiri dua bulan pak masih" kata Joana
"satu" ucap Ridha pelan
"ahh" ucap Joana bingung
"satu bulan" bisik Ridha
"dokter Joana?" panggil Jorse
"iya pak, maksud saya, sisa satu bulan kontrak kerja saya"
"satu bulan ya? waah cepat itu, iya kalau begitu bisa kan?"
"bisa pak, biar nanti saya bicarakan lagi sama keluarga saya, saya ada suami juga yang harus dipamiti, nanti biar saya akan kabari lagi"