
"iya, bilang nanti pada bosmu, aku akan marah kalau tetap seperti ini, sudah dua kali kalian ya, kalau ketiga kalinya, lihat benar apa yang akan kulakukan pada kalian" kata Joana
"tapi aku disini diminta oleh bos, untuk tetap mengikutimu" kata Ravansa
"iya benar itu"
"aku akan bilang pada mereka nanti, capek aku begini, aku cuma minta seminggu bebaskan aku, aku ini manusia biasa, butuh bebas, bukan tawanan penjara mereka" ucap Joana
disini hati nurani kedua pria itu seketika merasa tertusuk, karna benar apa yang dikatakan Joana, Joana tidak bersalah tapi harus menjadi tawanan dua bos kejam mereka
tapi serba salah, keduanya juga atas perintah, mau melawan juga tidak bisa karna takut di permasalahkan
"nona, kamu tidak pernah tau posisi kami, kami hanya takut mati jika tidak mengikuti perintah bos kami" kata Delvin
"kalian itu sudah milikku, bukan milik mereka, mereka memberikan mu kepadaku, jadi mau aku bagaimana itu terserah aku" kata Joana
karna cukup lama menunggu tapi Joana tidak keluar, Egar mengintipnya
"Moy, ada masalah?" tanya Egar
"emm, oh tidak Poy" jawab Joana
saat melihat dua pria disana, Egar seperti tak asing dengan perawakan mereka, Egar mengingat ia seperti pernah bertemu dan ia baru sadar jika dua pria didepan adalah dua pria yang sama saat mengantarkan makanan kehotel mereka kemarin
karna kan Egar dan Joana mudah mengingat hanya bedanya ya Joana mengingat dengan cara mencium aromanya sementara Egar mengingat ya dengan perawakan orangnya
karna sebenarnya kedua pasangan ini sama sama terbilang manusia genius, mereka terbilang pintar karna kan mereka memang mengambil sama jurusan kedokteran meskipun spesialis nya berbeda
setelah Joana turun..
"ayo Poy" ajak Joana
"iyaa" jawab Egar jalan ikuti Joana
tapi dalam hati, Egar berpikir, ia yakin, dua pria kemarin pengantar makanan adalah dua pria yang baru saja adalah supir grab Joana dan bahkan Egar berpikir mungkin saja itu adalah Motheo dan Samuel yang pernah ia dengar atas percapakan Lestari dan Sherla waktu itu
Egar mengingat plat nomor mobil itu dan lanjutkan jalan mereka berdua tapi memang sejak hari itu, baik Delvin dan Ravansa meuruti apa yang diperintahkan oleh Joana
ketika mereka hari hari berikutnya tidak memberikan laporan apapun tentang Joana, membuat Motheo akhirnya menemui Delvin saat ia sudah selesai urusannya
"bos" sapa Delvin
"dua hari kamu sudah tidak memberikan kabar apapun pada saya, apa suami Joana sudah kembali?" tanya Motheo
"bukan bos, tapi ini atas permintaan nona, nona kemarin mengancamku dan Ravansa jika aku mengikutinya. ia akan bertindak"
"kenapa kalian takut? kamu apa tidak lebih takut padaku?"
"bos, tapi kata nona, aku sudah hak miliknya, jadi mau apa terserah dia mengapakan aku, dan aku menuruti permintaannya saja" kata Delvin
Motheo diam disana, Motheo bingung mau apa, ketika ia sudah kecewa, marah, emosi, ia tidak akan bisa berpikir seperti Samuel yang selalu memiliki ide pemikiran yang tinggi
akhirnya Motheo masuk kekamar khusus miliknya yang ada di markas itu dan ia pun memutuskan untuk menelfon Samuel yang masih ada di luar negri yaitu itali
"halo, Sam" sapa nya
"yaa Theo? kenapa?"
"sudah ada kabar tidak kamu dari Vansa?"
"kabar? apa?"
Motheo menjelaskan kepada Samuel soal apa yang dijelaskan oleh Delvin tadi, dan Samuel baru tau, karna memang tidak ada Ravansa mengatakan apapun padanya
"gimana malah Delvin sama Vansa gitu? menuruti Joana, tapi aku mau membantah kan memang sudah hal Joana untuk mereka berdua" kata Motheo
"hemm, gitu ya? kok makin berani saja Joana" ucap Samuel
"ahh gini, bilang sama Delvin jangan lupa kabari juga Vansa, bilang mereka buat tetap ikuti Joana dan suaminya itu, tapi tidak untuk ketahuan"
"oh gitu ya? iya itu bisa juga" kata Motheo
"harus pintar pintar lah, aku yakin itu Vansa bisa, nah kamu juga percaya sama Delvin harusnya dia bisa lah melakukan misi ini dengan baik"
"iya benar"
mereka membahas semuanya dan akhirnya mereka pun menyepakati keputusan itu
Motheo mengatakan kepada Delvin untuk mrngundang Ravansa datang, karna tidak ada kerjaan ya Ravansa langsung datang juga Motheo pun menjelaskan semuanya
dan keduanya mulai paham tugas baru mereka yang lebih berhati hati lagi nantinya
kembali kepada Joana, setelah ia turun dari mobil grab ia tumpangi bersama dua anak buahnya dan juga suaminya. Joana dan Egar bergandengan untuk jalan menikmati suguhan beberapa tempat di mall itu
mulai dari beli baju dan tas, makan, jajan, nonton, games, belanja lagi, dan kegiatan jalan jalan lainnya
setelah beberapa jam tak terasa sudah sore, mereka pun memutuskan untuk pulang..
"sudah kan? pulang kemana ini?" tanya Egar
"ya kerumah ku Poy, ya kan?"
"yaa"
karna melihat Joana akan memesan grab lagi, Egar melarangnya, Egar meminta memanggil taksi depan mall saja dan Joana mengiyakannya saja
setelah masuk taksi dan menuju kerumah nya, rumah yang ia dapat dari dua suami kaya nya itu
saat masuk dan mulai berjalan, karna Joana tidak memungkinkan membawa Egar naik kerumah atas, karna diatas cukup banyak rahasia Joana terkait Motheo dan Samuel
jadi Joana membawa Egar kerumah bawah dulu, mereka pun jalan dan masuk
"ini rumah kamu Moy?" tanya Egar
"iya rumah aku"
"kok bagus? elegant tapi terkesan barang barang mahal"
"ya kan aku dapat kiriman jatah dari kamu perbulan, aku disini juga kerja Poy"
"oh iya juga sih, tapi kok malah beli rumah? udah yakin mau tinggal disini lama?"
"ya bukan gitu Poy, kan kalau rumah bisa dijual lagi, cukup lah investasi, buat kalau aku urusan selesai di amerika" kata Joana
"emm, iya sih"
Joana berbohong padahal bukan ia beli rumah itu, juga sekalipun dia yang beli rumah, bukan seperti apa yang alasan ia katakan kepada Egar, tapi karna ia mau pulang ke indonesia saja juga sulit
Egar percaya saja, karna ia belum begitu kenal jauh tentang apa yang terjadi sebenarnya oleh istri nya di amerika ini
"yaudah tunggu sini Poy, aku bersihkan kamar" kata Joana
"kenapa dibersihkan dulu?"
"ya biar enak kamu tidur lah Poy"
"emm"
Egar menuruti saja, Egar menunggu di ruang tamu, dan merapikan kasur tidur untuk Egar, baru Joana selesai dan mengajak Egar masuk
"ini kamar kamu Moy?"
"iya, tapi aku bersihkan biar enak tidurnya kamu"