My Name JOANA

My Name JOANA
143



Joana memikirkan itu, mungkin ia butuh tempat memang yang dekat dengan kamar Alisia, Joana pun mengajukan ini kepada atasannya


setelah masuk ruangan atasannya dan mengatakan semua, akhirnya disana atasannya memberikan tempat Joana pindah meja kerja di ruangan yang ada tepat didepan kamar milik Alisia


yaa ruangan itu sempit, hanya bisa dipakai satu meja kerja, dan 2 kursi untuk didepan meja, dan 1 kursi untuk duduk Joana tapi Joana tidak masalah, tapi di tekankan ya bukan berarti Joana dapat perlakuan dan ketidak ramahan dari bos dan pekerja lain, semua atas permintaan Joana juga agar leluasa mengawasi Alisia


"Aal, tau tidak aku dapat tempat kerja baru" kata Joana


"dimana?"


"disini, coba yuk lihat"


dan Alisia melihat di ruangan itu, Alisia senang karna Joana dekat dengan kamarnya, akhirnya Alisia diam dan duduk didepan meja kerja Joana


Joana melanjutkan pekerjaannya disana


"kamu disini?" tanya Joana


"iya Joana, aku diam disini"


"aku mau mengerjakan tugas jangan berisik ya, jangan ganggu dulu"


"siap Joana"


hari hari berikutnya sama seperti itu terus pekerjaannya, dan ketika di hari beberapa kemudian setelah kepindahannya keruangan kerja Joana


Joana baru setengah mengerjakan arsip laporan kegiatannya dan laporan perkembangan soal Alisia, saat mengetik, ia teringat perubahan memang dialami Alisia begitu pesat hanya dalam waktu setahun selama dibawa tanganan Joana


Joana memerhatikan Alisia yang sibuk mengobrol dan bermain dengan bonekanya, mengingatkan ia ketika masih kecil yang buta, yang mengira memiliki teman tapi itu sebuah boneka


ia berpikir dulu bagaimana ia pertama kenal dengan Alisia, ketika jam 5 pagi itu, beberapa orang membawa Alisia dengan mengikatnya karna mengamuk dan berontak nya akan membahayakan


lalu mulai berkenalan, mengajak mengobrol, bercerita, Joana mencoba menceritakan apa yang ia ingin ceritakan, yaa layaknya ia cerita kepada manusia normal yang faktanya Alisia saat itu tidak merespon apapun yang diceritakan Joana


yaa dari yang awalnya tidak merespon sama sekali, tidak ada tanggapan apapun setiap Joana cerita, bahkan sering pergi dan bernyanyi nyanyi


kadang sering juga menghina, karna Joana terlalu banyak bicara jadi dihina Alisia, Joana itu seribu mulut, karna tidak berhenti bicara padahal itu trik untuk Alisia mulai memahami pembahasan orang dan sebagai pengobatan alami juga


hingga akhirnya Alisia mulai mendengarkan, tapi kurang memahami beberapa pembahasan, jadi Joana dengan sabar menjelaskan apa yang Alisia tidak paham


hingga kepada titik sekarang dimana Alisia sudah lancar mendengarkan Joana cerita, bahkan Alisia sempat menceritakan apa yang membuatnya depresi, karna semua keluarganya meninggalkannya (meninggal)


disini titik mulai terangnya kesembuhan Alisia...


bagaimana tidak, karna melihat sejak awal bagaimana parahnya Alisia bahkan sampai Netra angkat tangan, tapi Joana mudah nya menaklukan, itu sebab nya juga kenapa Netra meminta Joana menrima kontraknya waktu lepas kkn, dan memintanya memperpanjang kontrak setelah 6 bulan masuk kerjanya


"Aal" panggil Joana


"iya?"


"sini, duduk didepanku"


"iya Joana"


"makan yuk diluar, mau?"


"diluar? luar ruangan?"


"bukan, di cafe depan atau rumah makan"


"memang boleh?"


"kepala yayasan memberikan hak penuh tentang kamu kepadaku jadi boleh saja"


"kapan, aku mau"


"yaudah sekarang"


"yes, ayo"


"ganti baju dulu"


"emm okay"


Joana merapikan tampilan Alisia dulu disana, lalu mereka keluar dan makan diluar bersama, lepas dari jalan diluar itu, Alisia merasa senang karna ada yang mengajaknya jalan keluar tanpa malu membawanya


karna tepat dibulan keenam sebelum Joana memperpanjang kontraknya, Septi, salah satu teman kerjanya disana mendatanginya diruang kerjanya..


"Joana" sapa Septi


"ya kak, masuk kak, kenapa?"


"Joana ini surat hasil pemeriksaan dalam setahun tepat perawatan Aal, dan ini laporan terakhir soal pemeriksaan"


ketika Joana membaca dan memelajari nya ia begitu kaget, karna disana tertulis Alisia sudah berhasil fighting dari penyakit mentalnya..


yap, Alisia sembuh, dokter juga sudah membawa semua hasil lap untuk Joana dengan bukti atas mengambilan darah, test urin hingga data forensik dimana Alisia dinyatakan survival


"serius ini kan kak?" tanya Joana


"yap, serius, ini semua atas tanda tangan dari pihak yang bersangkutan dalam perawatan Alisia kan" jawab Septi


tak percaya, Joana menemui Ridha, selaku penanggung jawab utama segala kegiatan yang dilaksanakan di Netra itu, untuk memastikannya..


Joana mengetuk pintu ruangan kerja Ridha, Ridha menyuruh masuk dan Joana masuk, menanyakan itu semua


"oh ini, iya Joana, ini sudah di test berulang sama beberapa dokter bersangkutan dengan Aal, saya sekali juga pernah mengetes"


"waah"


"semua berkat kamu lah, saya bangga"


"iyaa makasih bu"


"iya, saya titipkan sama kamu semua perihal dia ya, saya tau Aal gadis yang baik, dia gini juga karna tekanan masalahnya, kamu tau pasti kan kenapanya, saya pikir tidak perlu saya jelaskan kamu lebih tau" kata Ridha


"iya bu dokter, saya tau semua, saya juga merasa kasihan kepadanya untuk itu saya berusaha membuatnya sembuh"


"dan usaha mu tidak sia sia"


"iya, saya bangga sama diri sendiri"


"tentu, orang lain saja bangga, masak kamu tidak"


"hehe iya bu, oh ya bu, kan sudah dinyatakan sembuh ya bu, kalau saya bawa keluar keluar boleh?"


"boleh saja, sediakan obat penenang sama obat rutinnya dia saja"


"oh siap bu"


"bukannya sering kan kamu ajak jalan, bahkan sebelum dinyatakan sembuh?"


"oh ya sih bu, tapi itu bagian dari trik saya, cara saya pribadi mengatasi pasien, pasien kan butuh refreshing"


"iya bener, yasudah, ada lagi? saya akan pergi rapat soalnya"


"sudah bu. aduh maaf jadi menganggu waktu"


"iya tidak apa Joana. selamat ya atas kerja kerasmu untuk Aal"


"terimakasih bu"


Joana tidak langsung memberitahu kepada Alisia, ia menemui Alisia yang sedang duduk di pinggiran jendela kamarnya..


"Aal? lagi apa kamu disini?" tanya Joana


"Joana? tidak, aku melihat orang itu, diluar itu yang ada di bangsal 77 (bangsal : nomor kamar)"


Joana melihat arah gadis yang yaa seusia Alisia memang disana, mengalami depresi juga tapi beda kasus, disana terlihat gadis itu sedang di temani oleh kedua orang tuanya, yaa memang gadis itu tinggal di Netra, pastinya orang tuanya tidak bisa menjaga nya jika dirumah, tapi mereka sering kok datang menjenguk sang anak


paham situasi itu, Joana langsung punya ide, membawa nya jalan jalan seharian dan pulang menginap kerumah Joana


"emm oh ya Aal, aku ada kabar baik" kata Joana


"kabar baik? apa ya?"


"kabar baiknya, aku akan ajak kamu jalan jalan, gimana?"


"waaaah beneran? kapan?"