
"ibuk, kenapa?" tanya Sherla dengan bahasa indonesia
"ibu terharu, ku akhirnya lancar, ibu senang melihat semangat kamu, ingat anak ibu dan ingat Joana saat masih buta dulu" kata Lestari
Sherla memeluk balik Lestari disana dan mereka saling bahagia karna Sherla juga berkat Lestari mengajarkan hal sederhana namun mampu membuat Sherla membekas
hari hari terus berlalu, dimana kesibukan Joana semakin meningkat dimana ia harus kkn, tapi beruntung karna kkn nya kedokteran tidak seperti kkn nya keguruan yang harus pergi dan tinggal diluar kota
Joana memiliki prestasi mendapatkan keringanan dari kampusnya kkn di rumah sakit"Netra"
rumah sakit khusus kejiwaan, karna memang melihat bagaimana keguruan yang diambil oleh Joana
tapi rumah sakit itu masih 1 kepemilikan dengan rumah sakit ibu dan sang bibi bekerja meskipun beda tempat
persiapan dimulai, dimana Joana mulai kembali sibuk, seperti baru kemarin ia datang dari amerika tapi berpisah lagi dengan teman temannya
"Joanaaaa, kamu dapat kkn dimana?"
"RS Netra"
"waah enak dong dekat kan itu sama rumah?"
"iyaa gak dekat, yang dekat kan RS umum nya, aku di RSJ"
"oh ya sih"
"kalian?"
"kami sama, diluar kota, di Jambe" kata Vera
"kalian? berdua ini?"
"iya kami berdua makanya gak bareng" kata Ello
"ya iya berpisah lagi"
"sediiiih"
Ello, Vera dan Joana harus kembali berpisah untuk kkn mereka di kota yang berbeda karna Ello dan Vera bertugas di satu wilayah tapi tidak bersama Joana
malamnya, Joana mengabari ayahnya tentang tugasnya dan ayahnya merasa senang, tidak akan ditinggal untuk kali ini tapi mungkin waktu dirumah lebih sedikit lagi setidaknya tidak meninggalkan rumah seperti ketika pertukaran pelajar juga
hari berlalu, persiapan pergi ke tempat kkn Joana di waktu bersamaan Juga Sherla mulai mengikuti sekolah kejar ijazah, ia sekolah kilat hanya untuk mengejar ijazah tapi tetap harus sekolah karna kan juga penentuan untuk nilainya nanti
lalu apa kabar Elyas?
Elyas tidak pernah menyesal, untuk balik ke indonesia meskipun tidak lagi mendapatkan Joana, Elyas diam dirumah nya yang sekarang, ia tinggali rumah neneknya sementara Elva mengontrak bersama teman temannya dekat kampus mereka
saat Elyas diam dikamar sendirian, ia tidak tau adiknya datang, Elyas sibuk mendengarkan musik di aerphone nya dengan bermain gitar, lalu Elva masuk...
"kak" sapa Elva menepuk punggung Elyas
"Elva, kenapa tidak mengetuk kamar dulu?"
"lah rumah gak dikunci, kamar gak dikunci aku panggil gak ada jawaban ya aku masuk"
Elyas melepaskan aerphone nya karna bosan mendengarkan musik yang sejak tadi senduh senduh, menggambarkan suasana hatinya, jadi ia memainkan gitar disana saja
"aku tau apa masalahmu dengan kak Joana" kata Elva yang berdiri di jendela kamar itu
"apa Joana memberitahu semuanya?"
"semuanya?"
"iya soal, aku semua bagaimana cerita kami putus?"
"oh, iya, dia cerita kepadaku"
"memang semua apa yang kau maksud?"
"kupikir semua yang kamu maksud itu ke semua orang"
"oh tenang, dia tidak mengatakannya kok kak, aku jamin, didepan mataku bahkan tanpa ada aku dia benar benar menjaga privasi kalian ketika putus" kata Elva
"tapi dia mengatakan padamu kan, bukan kah itu seharusnya tidak dilakukan?"
"ya karna aku adikmu, dia benar mengatakannya hanya kepadaku bukan kepada orang lain"
"hemm"
"bahkan ketika aku tau dia mantan pacar pak Feris, dia tidak menjelaskan kepada ku apa alasan putus, itu menjaga privasi pak Feris karna aku tau itu privasi jadi tidak memaksa padahal aku penasaran" ucap Elva
"memang dia bilang pernah berpacaran dengan Feris?"
"pernah, kemarin, dia bilang putus, pernah pacaran tapi untuk alasan nya putus aku tidak tau, dia tidak menjelaskan"
Elyas belum ngeh jika adiknya mengenal Feris, Feris yang dulu musuhnya adalah dosen dari adiknya
"emm, eh tunggu, kamu kenal Feris?" tanya Elyas
"dosen, ya pantas"
"pantas?"
"ya kan ayahnya dia pemilik kampus"
"oh itu tau aku, lalu apa yang kau tau tentang pak Feris?" tanya Elva penasaran
"apa ya? gak tau, gue bukan orang memikirkan orang lain"
dalam hati Elva, tidak mungkin jika Elyas tidak tau siapa Feris dan bagaimana sebelumnya ketika Feris bersama Joana, Elva yakin abangnya ini tau tapi menyembunyikan saja
"memang dia mengajarmu?" tanya Elyas
"iya"
"terus tau pernah dekatnya Joana dengan Feris?"
"kemarin datang diundangan makan siang dikantin utama kampus bareng kak Joana, dan semua datang, ada kak Galen, ada kak Wildan ketua bem, ada kak Ello juga, banyak"
"hemm"
Elyas berjalan ke kursi meja belajar nya yang ada dikamar itu lalu mengambil rokoknya dan menyalakannya..
"aku kehilangan dia" kata Elyas
"kau tau itu salah kamu?"
"ya aku tau, karna kebodohanku, untuk itu aku menyesal"
Elva membalikkan badannya lalu duduk di ranjang tidur Elyas
"lalu apa yang mau kamu lakukan?" tanya Elva
"melupakannya"
"hemm, apa kau menemukan gadis lain? atau kau masih berhubungan dengan gadis selingkuhanmu itu?"
"tidak juga"
"lalu melupakan? kenapa?"
"ya untuk apa lagi? aku juga tidak bisa kembali dengan Joana, asal kamu tau, mendapatkan Joana itu susah"
"iya aku tau, mendapatkan Joana itu susah tapi kamu melepaskannya dengan mudah"
"dia yang pergi bukan aku melepaskannya"
"tapi dengan kamu selingkuh. kamu melepaskannya lah"
"tapi aku memilih mengejar dia lagi kan?" tanya Elyas
"tapi percuma kan?"
Elyas terdiam, ia berpikir kalau masih terus dititik ini, ia tidak akan pernah berjalan ke depan, ia akan tetap stay dipenyesalan itu
kembali lagi ia berpikir, ia tidak memiliki semangat diindonesia terlalu banyak kenangan bersama Joana
"aku berpikir aku akan balik ke amerika, mendapatkan kembali gadis itu" kata Elyas
"kau gila? sudah mengejar Joana dan pasrah lalu mengejar lagi selingkuhan mu?"
"tidak ada masalah, dia pasti menungguku"
"gak ngerti kak aku, sama pikiranmu" kata Elva
Elva akan keluar dari kamar itu tapi Elyas memanggilnya...
"makasih sudah jadi adik terbaik buatku" kata Elyas
"baaang, kenapa sih harus begini jalan pikiranmu?" tanya Elva membalikkan badannya
"tidak tau lagi bagaimana, yang pasti seorang manusia butuh berjalan maju, bukan stay, kalau aku disini, aku stay, stay sama penyesalan"
"lalu kau benar akan pergi?"
malam itu Elva tidur disana, ia bermain hape di kamarnya, dan Sahid mengabari jika besok diminta dosen untuk mengumpulkan tugas minggu sebelumnya ke ruang rapat dosen
"halo, memang besok apa harus datang?" tanya Elva
"iya, kan tugas di kamu?" jawab Sahid
"besok kau temani aku?"
"tidak lah, besok siangnya aku datang langsung ngampus saja"
"yaudah"