My Name JOANA

My Name JOANA
70



yaaa dia sempat berpikir kalau Joana itu pemberani tapi Samuel masih kurang srek dengan pikirannya itu sendiri


karna yang tau Joana itu memang tidak takut sana gelap dan curiga pertama kali adalah anak buah dari Motheo, yang kemarin bilang ke bosnya tentang kecurigaan mereka kepada Joana itu


"gimana bos sama yang ini?" tanya Ranya


"ya, saya suka berita ini, saya transfer sekarang, kirim nomor rekeningmu"


"okeh siap bos"


sementara Joana, sampai di hotel, ia bertemu dengan Elyas..


"kamu masih stay hotel kak?" tanya Joana


"iya, aku tunggu kamu mau pindah kan"


"oh astaga iya, yaudah ayo pergi, kamu jadi beratti hari ini kan pindahnya?"


"sudah mulai pindah sayang tapi aku hanya tunggu kamu hehe"


"oh astaga iya udah, berarti ini cek out ya"


"iyaaa sayang"


mereka pun pergi dan jalan, setelah sampai dirumah Elyas yang ia dapatkan dari kantor kerjanya agar tidak terlalu jauh jauh dari rumah ke kantor kerjanya


disana Joana menemani Elyas hingga sore, karna malamnya Joana ada kelas malam, tapi sudah sejak sore Joana pergi ke kampusnya karna Elyas juga mau mengerjakan pekerjaannya disana


Joana pamitan pergi dan berjalan sore itu kekampus, sesampainya di kampus, ia mendapat kabar dari Elyas jika besok Elyas lagi kosong kerjaan, jadi ingin menemani Joana pergi kegiatan sehari harinya


sementara Samuel yang hari itu juga menelfon Ranya


"ya bos, kenapa?" sapa Ranya


"kamu dimana?"


"rumah bos, baru pulang kuliah"


"Joana ada kelas?"


"hari ini anak kedokteran ada sih, kelas Joana malam deh kayaknya"


"oh malam"


"tapi kalau biasanya Joana sudah sampai sejak sore, kalau gak dikelas, diperpustakaan, tapi biasanya belum masuk kelas, dia duduk di taman belakang kampus, pas di samping pohon belakang fakultas kedokteran" jelas Ranya


"okeh"


Samuel menutup telfonnya dan pergi ke kampus, lalu menyapa Joana yang duduk sendirian dan baru selesai mainkan hapenya dan lanjut membacanya


"Joana" sapa Samuel


"hai kak Sam, waah sendirian?"


"iyaa sendirian"


Samuel tiba tiba datang menyapa Joana lalu duduk disamping Joana


"sini kak, duduk sini"


"iyaa, kamu mau ada kelas sore ini?"


"kelas nya nanti malam, kok kakak tau aku disini"


"kelihatan saja tadi saya lewat daerah kampus sini, pas kamu baru datang"


"oh, dari mana kak?"


"dari rumah teman saja"


"ohh, iya ada kelas tapi malam kak, aku datangnya sore nya, aku biasa begitu"


"oh kalau kelas sore datangnya sejak siang?"


"iya kak"


"kalau kelas siang, datang pagi?"


"iya kak"


"kalau kelas pagi?"


"datang pagi kak, baru pulangnya agak lama di kampus karna ke perpustakaan"


"oh kirain kalau kelas nya pagi, datangnya malam"


"hahaha kaaak, ih"


Samuel sangat tertancap tepat jantungnya ketika melihat Joana tersenyum lebar dan tertawa, ahh itu membuatnya begitu merasa bahagia, entah dari mana rasa bahagia, tapi tiba tiba saja merasakan itu


"ada yang lihat Joana?" tanya Motheo


"Joana ada kak, di taman belakang kampus, dibangku pas bawa pohon belakang fakultas kedokteran" kata mereka


"okeh"


saat sampai, betapa kagetnya Motheo karna melihat ada Joana bersama pria lain, dan ia begitu mengenali siapa pria itu meskipun pria itu tertutup seluruhnya dan tidak ada yang tau jika itu adalah ketua utama mafia terbesar


Motheo memerhatikan mereka disana, Motheo melihat jelas bagaimana Samuel memerhatikan Joana diam diam disana, Motheo merasa jika Samuel bukan saingannya untuk mendapatkan Joana karna baginya, Samuel masih jauh dibawahnya


hingga Joana sudah akan pergi kekelasnya bahkan Samuel mengantarkannya..


"kakak mau nunggu?" tanya Joana


"tidak, kenapa memang?"


"tidak, pulang saja kak gakpapa"


"kamu pulangnya?"


"kan balik ke asrama"


"oh iya"


Joana pun masuk kelasnya lalu Samuel memerhatikan sebentar lalu ia pun membalikkan badannya dan betapa kagetnya ia ketika tiba tiba Motheo ada di belakangnya


"ooh, Theo?" sapa Samuel


"Samuel" ucap Motheo pelan


"ngapain disini? ada apa?"


"berapa kali kamu main sama dia (Joana)"


"apa yang kamu katakan?"


"katakan saja, main berapa kali"


"Theo, gini ya, saya sama Joana tidak ada hubungan apapun, dan saya tidak sama sekali menyentuhnya, kamu kenal Joana?"


"saya kenal, saya suka sama dia" ucap Motheo menatap tajam kedua mata Samuel


seketika itu, Samuel bingung harus apa, ia tidak pernah takut memang pada Motheo, ketika semua orang memanggil dirinya dan juga memanggil Motheo adalah bos, tapi Samuel tidak takut pada Motheo


"oh kamu suka?" tanya Samuel


"ya"


"mengalah lah, saya takut kamu malu karna kalah dari saya" kata Samuel


"oh tidak, kamu bukan saingan saya, kita tidak level bersaing, Joana untuk saya" ucap Motheo


Motheo pergi meinggalkan Samuel dan pergi dari sana, yaa memamh Motheo menganggap jika Samuel bukan saingan berat untuknya, tapi Samuel yang merasa jika Motheo adalah saingan berat untuknya malah


hari berlalu, esoknya, karna Elyas tidak ada kerjaan sama sekali, tapi ia hanya menunggu Joana karna ia masih belum paham beberapa jalan disana, yaa karna kan baru, Joana baru tapi ia mudah mengingat ketika ia benar benar mempelajarinya


tak lama Joana sampai dirumah Elyas, Elyas melihat Joana yang mengenakan rok dibawa lutut berwarna putih tulang (sedikit mangkak) dengan baju biru dongker, yaap, itu adalah warna kesukaan Joana jadi tidak kaget jika warna baju Joana lebih banyak biru dongker dan satu lagi, Joana tidak suka warna hitam, bahkan ia tidak punya barang apapun berwarna hitam walaupun hanya sedikit


"kamu kok gak bilang pakai baju ini?" tanya Elyas


"kenapa kak"


"aku ganti, biar sama, aku ada celana putih dan baju hitam"


"ini kan dongker kak"


"biarin deh, hampir sama kan"


"kamu gak ada warna biru apa?"


"ada, di rumah nenekku, kan kepindahan dari rumah yang mau dikontrakin, beberapa barangku kerumah nenek aku anter"


"oh yaudah"


setelah Elyas ganti dan mereka pun jalan, saat malamnya berada di salah satu penjual jajakan bamyak dipinggiran jalan, kalau diindonesia namanya pasar malam ya, cuma disini gak ada wahana, hanya penjualnya


"disini ada apa ya kok pada siap siap?" tanya Elyas


"ini pasar malam kalau diindonesia kak"


"oh ya?"


"tapi tidak ada wahananya"


"oh ya? masuk yuk"


mereka membeli beberapa makanan disana, beli, bayar, makan disana, beli lagi, bayar lagi, makan ditempat lagi dan begitu terus hingga saat membeli salah satu makanan yang terkenal diseluruh dunia yaitu corndog