
dan Motheo membaca itu..
"kamu tidak tau permasalahan nya apa" ucap Motheo
"tanda tangan saja"
"okeh, beritahu aku dimana kamu tinggal"
"tanda tangan saja dulu"
setelah tanda tangan, Joana akan turun dari mobil tapi Motheo tidak bodoh juga, ia langsung menarik rambut Joana
"aduhh lepasin" teriak Joana
"kamu belum memberiku alamat mu"
"iya iya lepasin, ini" kata Joana
Joana memberikan alamat rumah nya kepada Motheo karna merasakan sakit di kepalanya karna jambakan dari Motheo, Motheo pun mengantarkan Joana pulang dan Joana menurutinya yang penting ia dapat tanda tangan Motheo atas perjanjian itu
setelah sampai dirumah, Joana akan masuk tapi Motheo memaksa masuk juga, Joana mendorongnya untuk keluar tapi tidak mau
"tolong jangan bikin aku kesal" kata Joana
"tidak"
"jangan ganggu aku kak, aku sudah menikah" kata Joana
"menikah?" tanya Motheo juga kaget
Joana memberikan cincin dan buku nikahnya juga, membuat Motheo kaget tapi ia tidak peduli
"ceraikan saja dia" kata Motheo
"tidak akan terjadi" kata Joana
"yaudah biarkan saja aku tidak peduli juga" kata Motheo
akhirnya Joana kesal dan membiarkan Motheo disana, Motheo langsung menangkap Joana dan memeluknya dari belakang, tidak melepaskannya sedikit pun
ia masih menikmati rasa kangen nya kepada Joana tapi tak lama Samuel datang...
melihat pintu rumah sedikit terbuka, ia pun membuka dan melihat Joana yang sedang dipeluk oleh Motheo, seketika itu Samuel mendorong Motheo dan hampir adu hantam disana tapi karna Joana menengahi jadi mereka tidak jadi baku hantam
lalu Joana menyuruh mereka keluar untuk pergi
"kalian kan sudah tau rumahku disini?"
"memang nya kenapa?" tanya Motheo
"aku mau tidur, lain kali saja datang lagi" kata Joana
Joana menutup pintunya dan masuk kamarnya, melupakan apa yang sudah terjadi
sementara yang terjadi di markas Motheo...
"dari mana?" tanya Delvin
"ahh biasalah"
"dapet Faren?" tanya Max
"apa dapat Faren? yang ada bos Theo malah ketemu mantannya" kata anak buah lainnya
"mantan? kapan bos Theo pernah pacaran?" tanya Delvin
"iya, aku juga ga pernah tau"
"itu, yang dari indonesia"
"wooh? Joana?" tanya Max berdiri
"nah, Joana, nyamar jadi Faren, dia kenal sama mantan lo ya Max?"
"kaga tau aku"
Max sekilas teringat memang Faren pernah berkenalan dengan Joana tapi saat itu Faren tidak lebih dari berkenalan lalu bagaimana bisa kedatangan Joana melindungi Faren?
tak lama Motheo datang..
"bos gimana?" tanya Delvin
"katanya, Joana datang?" tanya Bastian
"iya, dia datang, aku senang dia datang"
"katanya, bos mau melupakan?" tanya Max
"iya, kalau dia gak di amerika, dia kembali, aku akan mempertahankannya" ucap Motheo
esoknya, dimana hari janjian Joana dengan Ameera, Joana pun bersiap siap dan pergi
"ini kemana non?" tanya supir
"ini pak alamatnya, katanya suruh kasih supir saja nanti tau kok tempatnya"
"oh ini perumahanan baru, iya tau non, memang kerumah nomor berapa?"
"E-13"
"oh okeh"
sesampainya di tempat yang mereka janjikan, tak lama Joana sampai disebuah rumah, tidak begitu besar, yaa namanya juga perumahan, segitu saja lah, tapi karna rumah milik Joana di tikungan, jadi memiliki lahan tambahan yang juga sudah di ambil oleh Ameera
"Joanaaa" sapa Ameera
"ayo masuk, paman didalam"
"okeh"
"hai Joana. apa kabarmu?" sapa Freedy
"ahh paman, baik, kamu?"
"sama, kami juga baik, ayo masuk"
mereka masuk, melihat lihat..
"bagus ini, rumah baru bibi Ameera ya?" tanya Joana
"ini rumah buat kamu lah sayang, buat kado Joana pernikahan sama suaminya" kata Ameera
"ahh? bibi serius?"
"iya kan sudah bibi bilang?"
"iya sih"
"sudah Joana ambil saja, kan enak kalau suamimu datang bisa tinggal sini, kalau dirumah dinas itu sempit juga gak bebas kalau sama suami datang" kata Freedy
"tapi kalian kenapa sebaik ini? aku terharu"
"hehe udah, ini kunci rumah, ambil saja, dan surat suratnya atas nama aku sih tapi gampang lah kalau pembalikan nama kan" kata Ameera
"iya iya bi, bibi, paman, makasiiih" ucap Joana terharu
"iya, sudah kan istirahat dulu deh, terus kita makan pagi, kamu sudah makan?"
"belum sih"
"yaudah ayo kita makan diluar"
"dekat sini ada warung makan, tapi diluar perumahan sih, kesana saja gimana?" tanya Freedy
"boleh" ucap Joana
mereka pun pergi makan, setelah makanan siap dan mulai makan, Joana menanyakan tentang rumah yang dulu pernah di tempati oleh Joana
"oh ya, kemana bi rumah yang dulu ditempati aku dan buk Tari?" tanya Joana
"oh itu, itu ada kok" jawab Ameera
"kenapa gak kasih pinjam tinggal sana saja, kan lumayan, kalau gak dipakai juga sayang" ucap Joana
"iya sih"
"atau paman sama bibi jual ya?"
"emm tidak" jawab Ameera
"kok kata bibi Melin dijual"
"oh, bibi Melin bilang?"
"iya"
"iya dijual, butuh buat uang kemarin, jadi dijual deh" jawab Freedy dengan sigap
sebenarnya, Max membeli rumah itu tidak membolehkan mereka mengatakan apapun tentang rumah itu telah terjual tapi karna malas panjang hari itu, jadi Freedy menjelaskan ia butuh uang saja
"oh ya udah kalau laku, kan enak ada yang mengurus jadinya" ucap Joana
mereka pun makan, baru selesai makan, Faren menelfon Joana, jadi Joana pamit pergi keluar sebentar, tapi sekalian Freedy dan Ameera malah pamitan
"bibi, aku angkat telfon sebentar ya" kata Joana
"oh Joana, sekalian deh kami pamitan, ini sudah kamu bayar kok, jadi kamu tidak usah bayar" ucap Ameera
"kok keburu sih? Joana bentar kok"
"udah, lanjutkan gakpapa, paman ada kerjaan" jawab Freedy
mereka pamitan pergi, Joana tidak jadi keluar dan jadi duduk lagi, karna minumannya belum habis juga
"halo, iya Faren?" sapa Joana
"Joana, apa kamu baik baik saja?" tanyanya
"iya baik baik saja kok Faren, kamu tenang saja" kata Joana
"aku kuatir Joana, apa yang terjadi malam kemarin?"
"tidak ada kok, oh ya, kamu aman juga, aku sudah bikin persyaratan tertulis dengan kak Theo, untuk tidak akan mengganggumu, jadi kamu aman"
serius? aku bisa ketemu?"
"kapan?"
"kamu kapan bisa? kalau hari ini gimana?"
"bisa hari ini"
"okeh deh, kirim aku alamatnya dimana"
tidak jadi pergi, Joana pun memutuskan untuk menunggu kedatangan Faren, tak lama ia datang dan menyapa Joana
lalu Joana memberikan surat perjanjiannya dengan Motheo kemarin, disini, Faren mulai bisa merasakan napas leganya, ia bisa pergi dengan bebas tanpa takut sama siapapun yang mengenalinya dari komplotan Motheo
setelah dari sana, mereka pulang masing masing, Joana juga pulang kerumah dinas nya