My Name JOANA

My Name JOANA
12



Nero yang semakin dibuat penasaran oleh siapa Joana, ia berjalan mengikuti Joana pulang dengan alasan, ia takut Joana kenapa napa..


tapi Joana menolak dengan lembut karna ia masih ada urusan


"kamu aku antar saja ya, sampai rumah, aku takut kenapa napa" kata Nero


"aduh kak terimakasih banyak kakak, tapi Joana ada urusan lain"


"oh"


"jadi kakak kan capek, istirahat saja ya kak"


"emm, beneran kamu tidak apa apa?"


"iya" jawab Joana tersenyum lebar


beberapa hari berlalu, seringnya mereka bersama, sekilas tidak ada lagi yang bisa buat Nero terganggu dan fokus dengan topik selain Joana..


yaaap, Nero selalu menunggu Joana, menemani Joana, ia tidak lagi ada waktu untuk yang lain, selain ia memperhatikan Joana..


Nero yakin, sangat yakin, Joana adalah orang yang pas untuk karna kepolosannya..


itu juga membuat Joana cepat dikenal kalangan anak perikanan dan kelautan, ternyata Joana mampu membuat banyak orang kagum dengan sifat dan sikap yang ia keluarkan apa ada nya dan polosnya


tapi semua menyayangkan ketika Joana malah dekat dengan Nero, ahh siapa yang tidak kenal Nero, pria api yang selalu terbakar bakar emosinya


beberapa hari sejak sekolah, tidak ada teman Joana yang main dirumah, karna memang Joana tidak punya teman sejak Nero terus membuntutinya karna semua murid takut berurusan dengan Nero tapi kecuali salah satu teman Joana dikelas nya


ia tidak begitu kenal Nero karna ia juga baru, tapi bukan karna Joana berteman dengan fuckboy nya kampus tapi karna Joana memang sangat lembut


gadis itu bernama Wita Anggraini


"hai Jo, kamu sudah tugas tugasnya?" tanyanya


"eh hai Wita, sudah, ini, tugas dari dosen minggu lalu?"


"iya, ahh rapi sekali kerjaanmu"


"hahah, terimakasih"


yaa, tapi kelamaan juga banyak yang menyapa juga didalam kelasnya itu yang mau mengobrol dengan Joana karna tuntutan tugas dan Nero tidak bisa melarangnya..


sepulang kuliah, Nero sengaja menunggu kepulangan Joana..


jam berakhir, Joana pun keluar dengan beberapa temannya


"kamu aku antar saja" kata Nero tiba tiba menyapanya


"tapi aku pulang naik angkot" kata Joana


"loh, naik motorku"


"ah? aku tidak bisa naik motor"


"loh kenapa?"


"aku takut tidak bisa seimbangnya"


semakin dibuat penasaran, mengapa Joana tidak bisa naik motor, Nero menemui temannya untuk membawakan motornya, ia pulang akhirnya naik taksi


"ehh ya udah ayo, motor sudah kutitip kan teman ku, naik ini saja aku bayarin" kata Nero


"waah beneran kak naik taksi?"


"iya lah, ayo"


"gak mahal kak?"


"enggak, aku yang bayari kan"


"oh iya"


lagi lagi, menunjukkan kepolosannya jika naik angkot itu mahal


sesampainya dirumah Joana, Joana bukan orang miskin yang kemana mana naik angkot, mobil ada dua, motor juga ada satu, rumah juga cukup terlihat mewah dan luas


setelah ia masuk dan disambut Melanie, ibu Joana


"iya maa, ini teman Joana namanya kak Nero, kak Nero anterin Joana ke kelas nya Joana" kata Joana


"oh makasih ya nak (kepada Nero) , kamu sana ganti baju (kenapa anaknya)"


"iya ma, kak tunggu aku ganti baju dulu ya"


setelah Joana masuk, Melanie pun menjelaskan tentang anaknya..


dimasa lalu nya yang mana Joana adalah gadis yang sebenarnya buta sejak lahir dan ia mendapatkan donor matanya diusianya 15 tahun, bisa dikatakan baru saja ia melihat


mendengar itu, Nero sudah tidak lagi penasaran, ternyata Joana memiliki cerita nya sendiri mengapa ia begitu sangat polos terlihat..


Melanie sendiri memberitahunya karna ia pikir Nero orang pertama dari teman sekolah baru anaknya..


kini Nero pun yakin jika ia benar benar menginginkan Joana


"oh.. jadi gitu" kata Nero


"jadi kalau kamu dapetin dia aneh, sikap unik, tolong ya bantu saya jagain dia, jangan malu sama sikap anak kecilnya juga" kata Melanie


"loh tapi dia kenapa bisa sekolah? apa dia sudah tau beberapa warna dan tulisan tulisan?"


"kalau angka hingga huruf dan semua tulisan ia tau lah, sama dengan anak lainnya makanya ia sempat sekolah malah kan, tapi untuk benda benda unik yang belum dia tau bisa saja dia akan begitu antusias" kata Melanie


"oh gitu"


"iya"


sejak penjelasan itulah, Nero cukup mengerti kondisi Joana, menghindari? tidak! justru semakin penasarannya


tak lama Joana datang dengan baju berbeda dan mereka mengobrol dirumah Joana dan mengobrol dengan Nero diruang tamunya


ini hal pertama kalinya dimana Nero bertamu dengan adat kesopanan kerumah seorang gadis


hari berlalu, ketika Joana sedang dikelasnya, guru pembimbing membatalkan kelas hari itu, jadi semua murid berhamburan pulang, tak lama Dori, salah satu dosen menyapa Joana dikelasnya


"Joana"


"siang pak, panggil saya?"


"iya, ini bisa ya kamu antarkan ke ruangan para dosen, di fakultas telekomunikasi ya"


"oh siap pak, ini ruangannya yang mana?"


"tanya anak disana aula tertutup, nah nanti tau aula disebelah mana, ruangannya pas disamping kirinya itu"


"siap pak"


karna baru salah selesai jam kelas Dori, dan akan melanjutkan kelas berikutnya tapi batal jadi Dori meminta tolong untuk Joana mengantarkan ke ruang guru beberapa berkas itu


Joana pun pergi, ia berjalan kearah gedung fakultasnya teknologi dan komunikasi


saat jalan, dengan santai nya Joana melewati segerombolan murid di depan gedung itu


"permisi kakak" sapa Joana ke beberapa orang disana yang berkerumun


dan dengan santainya Joana menyapa dua pria yang sedang bertatapan tajam disana yang akan bersiap bertarung


"permisi kakak" ucap Joana melewati mereka


semua heran dan aneh, dengan santai nya gadis itu menyapa kedua pria itu, yaa karna Joana tidak tau, ia pikir orang orang itu murid juga kan


kedua pria itu menatap tajam kearah Joana yang terus menyelonong jalan melewati mereka hingga saat jalan, ia bingung harus kemana, jadi ia melihat kesalah satu orang yang berdiri tak jauh dari gerombolan murid diluar tadi


"kakak, permisi, saya mau tanya aula tertutup disebelah mana?" tanya Joana


seketika pria itu tidak menjawab, hanya menatap tajam ke arah Joana, tapi Joana terus nenanyakan dan nyerocos terus


dua orang dibelakang pria tadi juga saling bertatapan heran karna baru Joana inilah yang berani menyapa seorang Elyas


"nona, bisa kamu pergi dari sini, baik tangga itu kelantai atas baru naik lagi hingga ke lantai tiga ya, lurus aja dari ujung tangga ketiga, nah, paling ujung itu ruangan aula tertutup" jawab salah satu teman dari pria yang ditanyai oleh Joana itu


"iya kak, terimakasih kak, kalau begitu saya permisi dulu ya" jawab Joana