My Name JOANA

My Name JOANA
32



Dipo akhirnya mengakui siapa Feris dan siapa dirinya untuk pertama kalinya hanya kepada Joana, murid dikampus itu, ia menceritakan semua hal terkait perubahan anaknya


"pak, soal berubah itu dari diri orangnya, saya hanya berusaha menjadi orang baik kepada siapapun dan tanpa terkecuali untuk kak Feris" kata Joana


"yaa saya tau, tau lepas semua apapun alasannya, kamu adalah orang yang berhasil membuat anak saya menjadi lebih baik"


"syukur pak kalau memang seperti itu"


"saya boleh tanya sesuatu?" ucap Dipo menatap kedua mata Joana


"yaa?"


"kenapa kamu mau berpacaran dengan Feris?" tanyanya


"emm, karna.."


"dipaksa?"


"tidak pak"


"saya tau Feris itu bagaimana, saya pikir jamu jujur saja"


"saya tidak tau pak mau bahasnya dari mana, tapi saya mau menjalani ini sama kak Feris karna saya memang ingin saja"


"Joana, sekali lagi saya tanya, apa yang membuat kamu mau menerimanya? dipaksa? jawab saja, saya tau siapa Feris sebelum kamu tau siapa dia, dan saya memang baru kenal kamu tapi saya tau kamu"


karna didesak, mau tidak mau ya harus dikatakan saja, Joana berpikir jika Dipo kakaknya saja, jadi pasti tidak masalah ia mengatakan


"Joana" ucap Dipo lagi


"baik pak, saya minta maaf, tidak ada maksud saya menyinggung atau menjelekkan kak Feris ya pak"


"emm, katakan"


"kak Feris bilang jika saya mau jadi pacarnya, Ello akan menjadi ketua Bem utama kampus pengganti kak Galen, dan saya tau Ello adalah sahabat saya, jika ia sangat ingin menjadi diposisi itu" kata Joana


"ooh jadi ini" ucap Dipo dalam hati


Dipo berpikir, pantas saja semua ketentuan kemenangan hanya untuk Ello, dimana skor Ello dengan kandidat pemilihan ketua bem memang sangat tipis jaraknya meskipun Ello yang menang


"pak, saya pikir kalau mau salahkan, jangan kak Feris, itu saya yang salah" kata Joana


"Joana, kenapa malah kamu bilang itu? jelas disini yang salah adalah Feris"


"iya pak, tapi saya mohon biarkan saya dengan kak Feris berjalan seperti ini saja" kata Joana


"hemm baiklah Joana, saya pikir kamu lebih tau soal kehidupan diri kamu, semoga kamu terus bisa membuat anak saya jauh lebih baik"


"iya pak"


"sudah, bisa kembali, terimakasih waktunya"


"iya pak, saya permisi pak"


"iya"


"oh ya pak, saya bisa minta soal ini tidak ada yang tau pak? karna saya menutupi semuanya membohongi banyak teman saya, saya tidak mau karna saya mereka kecewa" ucap Joana


"saya jadi teman kamu, saya bangga Joana"


"hehe terimakasih pak"


"oh ya kalau ada perlu apapun tinggal bilang saya, saya akan bersedia membantu kamu"


"baik pak, terimakasih tawarannya"


Joana pun pulang, sesampainya dirumah, ia istirahat dan malamnya ia makan lalu tidur malam, sebelum tidur, biasanya belajar lebih dulu, jadi ia membaca baca saja


semalaman ia tidak bisa tidur, ia tidak tau kenapa, tiba tiba, ia teringat tentang Nav, ia berjalan kearah kamar lama nya dimana ia pakai simpan banyak barang barang lamanya termasuk Nav


tapi saat ia memegang pegangan pintu disana, tiba tiba ia teringat tentang siapa Nav di masa lalu nya


ia yakin betul, jika Nav dulu bisa bicara, ia yakin betul karna ia mendengar sendiri Nav menjawab apapun yang ia ceritakan jadi ia tidak jadi membukanya dan kembali ke kamarnya lagi


tapi masih sama, ia tidak bisa tidur dan hingga pagi tiba, terik sinar matahari yang terbit mulai menerangi ruangan kamar Joana


melihat jam di kamarnya, ia harus pergi kekampus lagi, ia bersiap siap pergi, lalu sampai didepan gerbang, tak sengaja ia barengan dengan Mikail


"Joana" sapa Mikail


"hai Kak Mikail, waah sendirian?"


"iya"


"iya, tapi sepertinya baru pulang pagi ini dari rumah sakit" kata Mikail


"yaaah, pagi ini ya? aku ada kelas lagi, aku pengen jenguk sih, eh iya kak Mikail sendirian?"


"iya sendirian"


"mau kekelas bareng?" tanya Joana


"emm boleh" ucap Mikail terhenti


"oh ya, kakak kesini belum makan kan?"


"kok kamu tau?" tanya Mikail


"kebiasaan anak laki laki begitu, kalau ada kerjaan pagi bukannya makan dulu, ini aku ada kalau kamu mau ambillah"


"apa ini?"


"roti isi daging mayo sama keju, enak kok, buatan mama ku, buat kakak"


"tapi nanti"


"aku sudah makan pergi kesini, itu saku buat aku nanti istirahat saja sih tapi ambil kak, aku bisa makan dikantin nanti sama Vera dan Ello"


"ohh makasih Joana"


hanya karna makanan lagi, Mikail bersaksi jika tidak akan ada pria yang tidak luluh dengan sikap kebaikan Joana


"pantas saja bos tergila gila" ucap Mikail dalam hati


tiba tiba saja Feris datang dan membawa Joana pergi, Feris melirik tajam kearah Mikail yang juga meliriknya balik


Joana berpamitan dan pergi bersama Feris, lalu mereka sampai dikelas Joana, tapi sudah ada Egar didalam kelas itu bersama Wita dan Nanda


Feris menatap kearah Egar dengan heran, karna bagaimana tidak kesal, Egar bukan dari kelas itu, tapi sudah ada dikelas itu sepagi itu, apa lagi kalau bukan karna ingin dekati Joana


alhasil, Feris tidak mau pergi meskipun dosen sudah masuk dan padahal Egar juga sudah keluar


akhirnya Feris duduk dibelakang sendiri dan menemani Joana saat ada kelas disana


setelah kelas selesai, baru Feris duduk lagi disamping Joana dan menatap wajah Joana yng sibuk menulis


"apa kak?" tanya Joana


"emm"


"kamu apa, kenapa melihatku sebegitunya?"


"aku bangga bisa pacaran sama kamu"


"ahh bisa saja"


Feris menyentuh tangan kiri Joana dan menggenggamnya, sementara tangan kanannya masih sibuk dengan menulisnya


betapa bangganya Feris mendapatkan gadis ia sukai itu yang awalnya ia hanya iseng dan ingin bermain main saja


malamnya, saat di rumah Feris, Feris sedang duduk didepan meja televisi, Dipo menyapanya


"kamu ngapain?" tanyanya


"emm, belajar pa, besok aku ada ujian harian dari dosen" kata Feris


"ouhh" jawab Dipo


Dipo duduk disana memerhatikan anaknya, dan ia kepikiran ingin menyenangkan hati anaknya dengan mengundang makan malam Joana, ia berpikir, Feris akan senang jika mengundang Joana makan malam


"Feris, kalau sudah selesai, ada yang mau papa katakan" kata Dipo


"sudah kok pa, katakan saja" jawab Feris sambil menata bukunya


"papa suruh istri papa masak buat undang makan malam bersama dengan Joana, gimana?"


"ahh papa serius pa?" tanya Feris menatap kedua mata ayahnya disana


"iya, dia pacar mu kan, masak gak pernah kami ajakain kerumah, sekarang undangan saja buat Joana makan disini"