
"iya? terus?" tanya Rahayu
"padahal bukannya rumah mu sederhana? kenapa tidak mencermin kan penampilan sama ekonomi kamu?" tanya Egar
"kaaak, gini ya, sekarang jamannya teman itu pilih pilih, kalau kita penampilan buruk, mereka gak ada yang mau berteman sama kita" kata Rahayu
Rahayu tidak tersinggung atas pertanyaan dari Egar, ia tau siapa Egar, ia tau bagaimana Egar bersikap diluar sana pada gadis lain bisa lebih kejam ucapannya dibanding ia dengar saat ini, jadi Rahayu tidak tersinggung
"emm kok pikiranmu begitu? aku kan temanmu, aku gak masalah kalau kamu sederhana" jawab Egar
"iya itu kamu kan? buktinya beberapa temanku begitu kok kak"
"iya itu menurutku, kamu lihat saja bagaimana Joana, Joana bahkan jauh dari kata stylish kan? tapi dia banyak juga teman" kata Egar
"itu kan kak Joana, dia baik, dia cantik, good attitude pokoknya, beda lah sama aku"
"sama sebenarnya kalian itu, kebiasaan, hobi, dan banyak kalian kesamaan kok" kata Egar
"ahh beda lah kak, beda intinya aku sama kak Joana"
"apa bedanya?"
"kak Joana supeeeer duper baik, kaaak" jawab Rahayu
"kamu juga baik"
"ya intinya beda kok"
"tapi dulu nya sama kok sama kamu, Joana biasa saja, ya itu style nya, rok panjang, lengan panjang, kacamata, rambut terurai, biasa saja, dibanding kamu tidak ada apa apa nya dia"
"terus kenapa kakak menikahinya?"
"karna cinta"
"alasannya cinta?"
"ya gak ada alasan nya kalau cinta, kalau ada ya dibuat buat kan?"
"ya udah, sama ma aku, aku juga cinta sama gaya style ku begini, aku nyaman, aku bebas, apa masih butuh alasan untuk hal lain?"
"ya juga sih"
mereka pun masuk, Egar duduk didepan rumah Rahayu karna tidak ada ruang tamu tapi ada kursi duduk diluar jadi ya menunggunya di depan teras rumah itu
"bentar ya kak, aku ganti, aku cuci muka saja" kata Rahayu
"iya siap" jawab Egar
saat Rahayu masuk, ibu Rahayu menyapanya
Rahayu tinggal dirumah itu dengan kedua orang tuanya, dan Rahayu anak tunggal jadi tidak ada kakak atau adik Rahayu, sementara ibu Rahayu bernama Hartatik dengan sapaan bu Tatik dan ayah Rahayu bernama Suryono dengan sapaan pak Yono
"kamu sudah pulang?" tanya Tatik
"iya ma, oh ya ma, didepan ada temanku, bisa minta tolong sapain ma? kasihan sendirian ma" kata Rahayu
"oh dimana? diteras?"
"iyaa ma"
"iya udah"
saat keluar, Tatik menyapa teman anaknya yang dikiranya adalah perempuan
"nak? temannya Ayu?" sapa ibu Rahayu
"eh iya buk"
"saya ibunya"
"oh salam kenal bu, saya Egar"
"salam kenal juga, saya Hartatik"
"salam kenal bu, saya Egar, teman kampusnya Ayu"
"yaa"
Egar berkenalan dan mengobrol kecil dengan ibu Rahayu itu..
tak lama Rahayu datang dan siap untuk pergi..
"maa, aku pamit dulu ya" kata Rahayu
"kamu mau pergi lagi?"
"iya ma, ini sama kak Egar"
"kemana?"
"hati hati"
"buk, saya permisi ya" ucap Egar
"oh iya nak, titip Rahayu ya"
"iya buk, nanti juga akan saya antar, kan saya yang bawa jadi saya bertanggung jawab" kata Egar
"oh begitu? iya sudah makasih nak"
baru akan pergi, malah Suryono datang, ayah Rahayu, menyapa Rahayu dengan istrinya
"kamu mau kemana lagi?" tanya Yono, ayah Rahayu
"eh pa, ini pa aku udah pamitan kok sama mama, mau pergi ada undangan makan sama temanku"
"ini?"
"oh ya, ini kak Egar, teman Ayu di kampus"
"salam kenal paman, saya Egar" kata Egar
"saya Yono, papa nya Ayu"
"oh salam kenal paman" ucap Egar dengan ramah
mereka berkenalan singkat disana, baru Rahayu dan Egar pergi, masuk mobil mewah, ayah ibu Rahayu mengira itu pacar anaknya bahkan mereka berharap jika itu memang pacar anaknya
"pacarnya buk?" tanya Yono
"tidak tau pak? itu kan baru ibuk tau, baru hari ini kok datang kesini"
"tampan juga ya? bermobil, mobilnya mahal sih itu buk"
"bukan mobilnya dong pak dilihat, itu orangnya, orangnya gak kalah baik kan? mana putih, bersih, wangi, emm"
sebenarnya orang tua Rahayu bukan tipe mata duitan atau melihat orang dari cover tapi melihat sosok Egar, mereka malah merasa cocok dan pas jika memang itu pacar Rahayu
sementara Egar Rahayu pergi, diperjalanan..
"itu ayah ibu kamu saja sederhana?" tanya Egar
"iya mereka sederhana memang, aku mah gak bisa"
"emmm, belajar lah sederhana"
"ahh kak, aku saja yang begini jomblo, gak ada tuh yang mau, apalagi biasa biasa gitu?"
"gak selalu begitu sih" kata Egar
"yaa males deh kak, udah nyaman gini"
"iya sih, yaa aku masukan saja, maaf kalau gak berkenan"
"bukan gak berkenan gitu kak, aku memang gini, aku style begini yaudah"
"iya iyaa"
saat di lampu merah, mereka saling diam, Egar belum bisa berpikir jernih soal Rahayu, Rahayu sekeren ini, pakaian keren keren tapi padahal dari keluarga sederhana, dulu saja Joana terbilang bukan dari orang biasa biasa saja, karna ayah, ibu, bibi, paman, semua orang dikeluarga nya adalah guru, dosen juga dokter spesialis
tapi penampilan Joana berbeda terbalik, malah tidak terlihat jika sebenarnya Joana anak dari keluarga yang bukan termasuk kata biasa saja
tapi masih mau memakai pakaian sederhana, mau bersosialisasi, berpakaian sopan yang jauh dari kata mewah
jika diperhatikan sekarang pun sama tapi pembeda nya mungkin karna sekarang Joana memegang kendali uang miliyaran setiap bulan, jadi untuk perawatan ya tidak akan terlupakan kan
disini Egar pun kepikiran, kalau sampai Rahayu adalah anak dari keluarga biasa saja, bahkan basic nya sama sekali bukan pekerja kesehatan, bagaimana bisa berkuliah di kedokteran?
"kamu kuliah di kedokteran biaya full tanggungan orang tua kan? apa ada bantuan dari keluarga lainnya?" tanya Egar
"gak ada, gak ada bantuan orang tua atau keluarga ku lainnya, aku dapat beasiswa kepintaran"
"wooh? serius?"
"iyaa serius makanya aku berani ambil kedokteran karna kampus memberikanku full beasiswa asal ambil fakultas kedokteran dengan spesialis apapun"
"sama tau ma Joana, Joana juga, tapi Joana memang dari keluarga kesehatan, ayah ibunya dokter juga mengajar, bibinya juga mengajar, pamannya guru"
"oh ya? tapi kan memang ada buat biaya kuliah dari keluarganya kak Joana"
"gak ada, mereka juga sama ma orang tua mu, gak bayar apapun perkuliahan Joana"
"oh ya? kak Joana terus kuliah?"
"ya sama ma kamu, beasiswa, asalkan kedokteran, jadi gratis, spesialis kejiwaan karna keluarganya sudah spesialis lainnya"