My Name JOANA

My Name JOANA
11



"eeehh tunggu, kamu murid baru, siapa nama mu" tanya salah satu anak disana


"Joana kak, salam kenal" sapa Joana dengan polosnya memberikan jabatan tangan


lelaki itu hanya melirik kearah teman teman nya dengan bingung, karna mereka heran, harusnya, gadis itu tau dari penampilan mereka adalah "preman"


harusnya, gadis itu menghindar sebisa dia untuk tidak berkenalan, tapi ia malah mengenalkan dirinya


"Joana? fakultas?" tanya salah satu mereka


"spesialis ilmu kedokteran kejiwaan" kata Joana


"waah sebelahan, kenalkan, saya Nero" kata lelaki itu


"iya kak Nero salam kenal" sapa Joana lagi dengan polosnya


Joana kembali jalan..


Nero terkesan pada Joana di awal ia melihat, ia tak henti hentinya menatap wajah cantik Joana yang terlihat begitu polos


"kamu" kata teman nya


"aku suka dia, terlihat polos, dia pas buat aku, buat jadi pacar Nero, butuh yang polos seperti itu" kata Nero


"ah lu, lu pacari gadis polos bakalan lu rusak"


"ya dia mau, lihat dia kan, sok apa enggak jual mahal nya" kata Nero


"jangan dia Ner, kasian" jawab temannya yang lain


"aaassshh dia bukan adik lu kan"


"ya karna dia bukan adik gue, gue merasa punya adik seumuran dia jadi kasian"


"asssh, sudah, kau tenang saja, aku kali ini benar serius suka sama dia"


"iya sih, lu pikir aja deh, tampilan kita begini nih, semua orang dikampus bakalan menghindar dong tau kita ajak kenalan, dia apa? dia ngenalin dirinya sendiri bahkan tanpa kita minta" jawab Titto


Nero pun berdoa komat kamit agar Joana kembali lewat depannya nanti, ia terus menunggu disana, bahkan tidak masuk kelas nya karna hanya ingin menunggu ketemu gadis itu lagi


"ngapain lu" tanya Manda, teman Nero juga


"semoga anak itu lewat, semoga anak itu lewat, semoga anak itu lewat" kata Nero mengulanginya


"astaga, luuuu..." teriak Manda


tak lama Joana kembali lewat depan Nero dan teman temannya lagi


"hai kak, makasih ya, aku sudah ketemu sama pak Dori tadi" sapa Joana tersenyum ramah


"wiih jodoh gue kan" kata Nero dalam hatinya


"Nero, Nero" bisik teman temannya


"ssst, dia beneran jodoh gue, gak bisa, gue gak bisa lepasin dia" jawab Nero


Nero mengejar Joana tapi ia melihat Galen menyapa Joana


"Jo" teriak Galen


"hai kak Galen" sapa Joana


"gimana? ketemu pak Dori?"


"iya, ini sudah kan"


"oh iya"


sementara Nero melihat itu hanya diam, dan memerhatikan dulu mereka


"waah pesaing nya berat sih mabroo" jawab Manda


"apasih? udah gue gak takut" jawab Nero


tapi Nero tidak mau kalah dengan Galen


ia mendekati Joana dan Galen disana


"hai.. Joana kan?" sapa Nero


"kakak tadi kan, ada apa kak?" tanya Joana


"tidak ada, kamu mau kemana?" tanya Nero


"saya mau balik ke tempat ospek kak"


"oh iya, kapan kamu jadwal awal masuk"


"besok masih ada ospek kak, lusa nya libur kan baru tiga hari lagi masuk" jawab Joana


"ahh"


"baiklah" kata Nero


Joana pun jalan bersama Galen, dan Nero menatapi arah Joana, ia yakin Joana gadis benar benar polos


hari berakhir Joana kembali kerumah, esoknya ia datang lagi ke kampus untuk pertama kalinya sebagai murid sekolah itu


saat ia masuk, Galen menyapanya


"hai" sapa Galen


"hai kak Galen" sapanya balik


"mau aku antar ke kelasmu?"


"gak usah, dia pergi sama aku" jawab Nero yang tiba tiba datang


"oh iya, sama kakak ini saja, kakak ini kan dekat dengan gedung fakultasku ya kan kak? jadi aku akan pergi dengannya, makasih tawarannya ya kak Galen" sapa Joana


Joana jalan bersama Nero, dan Nero melirik dengan penuh kemenangan pada Galen


mereka pun jalan, sesampainya di gedung fakultas kedokteran spesialis kejiwaan, ia masuk dan diantarkan ke kelas


"kamu kelas berapa?" tanya Nero


"1.2"


"oh disana, bentar lagi sampai" kata Nero


setelah sampai di kelas, Joana berterimakasih dan akan masuk tapi Nero memanggilnya


"kak, terimakasih ya, sudah antarkan aku, jadi tidak enak merepotkanmu" kata Joana


"iyaa gakpapa, santai saja"


"yasudah aku masuk ya"


"emmm Joana, aku boleh meminta nomor ponsel mu?" tanya Nero


"nomer ponsel? aku tidak punya ponsel"


"ah? serius? kamu menelfon teman, menelfon guru keperluan tugas, bagaimana?" tanya Nero


"aku kasih nomor papa" kata Joana


"kenapa kamu tidak beli ponsel? itu sangat perlu di jaman sekarang ini" kata Nero


"aku tidak mau karna memang aku tidak bisa memainkannya" kata Joana


karna dosen datang, Joana pun harus masuk kelasnya, dan Nero berjalan ke gedung fakultasnya dengan berpikir keras


pikirannya tertuju kepada Joana yang tidak punya ponsel, bukannya diusia Joana semua sudah memegang ponsel? lalu orang tuanya terlihat cukup berada, karna menyekolahkan anaknya disini butuh banyak biaya, Joana sendiri, cukup dibilang masih muda, kenapa tidak punya ponsel?


itu saja yang terpikirkan dalam otak Nero, ia semakin dibuat penasaran dengan Joana, karna jarang ada gadis tidak punya telfon dan tidak ada rahasia tentunya dengan orang tuanya karna ia akan memberikan nomor telfon ayahnya pada teman teman dan orang sekitarnya


setelah beberapa jam, baru ia datang ke kelas Joana lagi, tapi jam kelas Joana selesai beberapa menit sebelum jam kelas Nero berakhir


"kamu melihat gadis dari kelas ini bernama Joana?" sapa Nero


"Joana? oh Joana? tadi aku lihat dia masuk ke ruangan perpustakaan" kata salah satu murid dikelas itu


Nero berjalan dan masuk ruang perpustakaan dan mendapati Joana


"hai kak, kok disini?" sapa Joana


"aku takut kamu tidak bisa pulang karna tidak tau jalan"


"astaga, tadi aku sudah mengingat nya saat kamu mengantarkanku" kata Joana


"oh"


"bentar kak, aku mau cari buku buku, untuk beberapa kebutuhan ku nanti belajar" kata Joana


"oh okeh"


demi Joana, ia rela diam di perpustakaan dan menunggu beberapa menit, ia menunggu didekat meja penjaga perpustakaan, banyak murid disana melihat betapa aneh nya seorang Nero diam diperpustakaan


bahkan disana penjaga perpustakaan yang mengenali Nero berpikir pasti Nero menunggu pacarnya


karna Nero bukan orang yang suka berhubungan tanpa status dan berteman dengan perempuan kecuali berpacaran


"sudah?" sapa Nero


"sudah, kak ini saja ya, saya bawa dulu, atas nama Joana, dari kelas 1.2" kata Joana


"oh iya, biar saya data dulu ya" jawab penjaga perputakaan itu memerhatikan Joana


dan betapa kagetnya ketika tau yang ditunggu Nero terlihat gadis polos, sangat polos, terlihat Nav adalah gadis sangat poloa