
disini Efrain menanyakan Joana, karna ayah nya tau anak nya memang mafia yang sering mengambil anak orang untuk dipakai sebagai tanda pelunasan hutang yang tidak bisa dibayarkan
tapi melihat Joana, cantik tapi polos, semua keluarga nya merasa kasihan, tapi masalah nya mengapa ada Motheo juga? itu penyebab dirinya tanya kenapa dengan gadis itu
mereka akhirnya menuruti saja dan Joana pun masuk kamar yang sudah Samuel tentukan
malamnya..
Motheo tidak bisa datang, ia ada urusan jadi ia pergi bersama 4 anak buah nya
sementara Joana yang sedang di balkon kamar disana, membaca buku sembari memandang langit malam gelap yang sekarang sama dengan pikirannya, sama gelap
ia duduk tak lama Samuel masuk, melihat Joana tidak di dalam kamar, ia berjalan kearah balkon
"sayang" sapa Samuel
"heem" jawab Joana hanya singkat
"kamu mau ngapain?"
"membaca saja, sambil santai, di balkon ini bagus pemandangannya"
Joana membaca dan menikmati angin malam, tapi Samuel terus menatap wajah Joana tanpa henti dan tanpa berkedip
"kamu cantik" kata Samuel
"makasih" kata Joana tersenyum
Samuel langsung menutup wajah Joana dengan buku yang ada di meja diantara kursi mereka duduki
"kenapa sih" ucap Joana kaget
"jangan senyum, kamu membuatku semakin jatuh"
"jatuh?"
"jatuh hati"
"hemmm" jawab Joana menarik napasnya
kembali Joana membaca, Samuel juga kembali memerhatikan Joana, Joana tau ia diperhatikan jadi ia hanya diam dan tidak memengaruhi atau melarang Samuel melakukannya
selang beberapa menit..
Samuel menarik rokok nya, lalu menyalakan korek nya dan mengisap rokoknya, lalu berkata..
"Joana, kenapa kamu susah sekali sih? bukannya kamu tinggal jawab kan? mau dengan aku atau Theo, dan kau akan bebas" kata Samuel
"tidak, itu malah pilihan yang membuat ku masuk kandang kematian" jawab Joana
"apa maksudnya? kamu akan bebas, aku akan berikan apa saja kamu minta, aku belikan mau semahal apapun, mau sesulit apapun didapat, aku cari" kata Samuel
Joana diam, lanjutkan membacanya lagi..
"Joana, pilih lah satu, biar selesai diantara aku dan Theo, agar tau siapa yang dipilih, tolong pilih aku" kata Samuel
Joana menarik napasnya sambil memejamkan matanya, lalu menghembuskan perlahan dan menutup buku yang ia baca lalu menatap arah Samuel
"kaaaak, berapa kali aku bilang? aku tidak akan memilih satu diantara kalian, percuma, aku tidak simpan hati untuk kalian atau satu dari kalian, suamiku pemiliknya" kata Joana
"suami mu bisa apa? dia sampai detik ini saja tidak datang"
"oh jangan ragukan dia, karna aku saja tidak meragukannya"
"okeeh" jawab Samuel
Samuel kembali diam, ia menghabiskan rokoknya, dan melihat situasi memungkinkan, ia langsung Menarik Joana paksa dan mengangkat tubuhnya lalu membawanya ke kasur
"kak Sam" teriak Joana menolak
Samuel menahan tubuh Joana dengan menduduki bagian pahanya, lalu menahan leher Joana dengan lengannya dan memaksa Joana
"lepasin gak" teriak Joana lagi
"kenapa sih, kan kamu pernah melakukan sama suamimu? aku hanya minta jatah sekali, dan itu bukan perawan" kata Samuel
"tidak, aku tidak mau, jangan paksa kaaak, jangan" ucap Joana
"kenapa tidak mau, kan kamu sudah lama tidak melakukannya kan?" tanya Samuel
dari luar pintu, Fabian akan memberikan makan malam yang tadi disuruh oleh Samuel, melihat posisi yang seperti tadi Samuel dan Joana diatas kasur, Fabian langsung menutup kembali pintunya dan membalikkan badannya
tak lama Nico dan Morza menyapanya
"kapan datang? mana punyaku?"
"ini punya kalian, kalian bawa saja, punya bos bawa dulu" kata Fabian
"ohh kenapa sama punya bos? salah memang kamu salah beli?" tanya Morza
"bukan.."
"bos didalam kan? masuk gih, keburu lama, kena semprotan" sambar Nico
baru Fabian akan menjawab tapi ia langsung mendengar suara jeritan Joana minta tolong untuk Samuel berhenti karna sakit
"tolong... enggak, sakit ini ih, kak" ucap Joana
mendengar itu, seketika Morza dan Nico paham apa yang membuat Fabian tidak jadi masuk
"waah jadi pengen nih, ngajak siapa dah" kata Morza
"mereka lagi ngapain dah ya?" ucap Nico
"Nico, yang enak itu loh" jawab Morza
mereka salah paham, padahal yang terjadi dimana ketika Joana memukul lengan Samuel dan mendorongnya dengan kuat sampai terjatuh dari kasur tidur
Joana benar benar berontak, yang tadinya ia aman dan tenang menjadi akan kabur, tapi Samuel menarik tangan Joana dengan kasar membuat Joana kesakitan
"kak, aduh kak, ini sakit loh" kata Joana
"jangan kemana mana, aku sudah bilang berapa kali? turuti aku, aku tidak kasar" jawab Samuel
"enggak"
Samuel semakin keras meremas lengan Joana jika Joana menolak dan menolak
"lepaaaas, kak, aduh sakit" teriaknya
itu membuat anak buah Samuel tidak jadi masuk memberikan makanan, mereka pergi menuju depan televisi yang sudah ada Ravansa, Nico pun menjelaskan pada Ravansa
"wooh iya kah? ya enak itu" kata Ravansa
"enak lah, bos kan pinter main begitu" jawab Nico
"gaya apaan ya?" tanya Morza
disaat semua heboh membicarakan, Fabian hanya diam, ia tidak tau mau jawab apa dan bagaimana
sedangkan Samuel yang kesal Joana menolak dengan gigihnya, akhirnya ia keluar dan mengunci Joana didalam kamar itu
Samuel berjalan kearah depan televisi yang sudah ada tiga anak buahnya tadi dan duduk disalah satu sofa panjang dan bernapas terengah engah
lagi lagi membuat keempatnya salah paham dimana mereka mengira Samuel lelah karna habis "bermain" tapi padahal Samuel lelah karna ia terus meminta tapi terus ditolak
"Joanaaa" teriak Samuel kesal
tapi lagi lagi lagi dan lagi, mereka berpikir bosnya meneriaki nama Joana karna baru saja main, padahal karna Samue kesal tidak bisa bermain
"udah bos istirahat saja, kamu makan, itu makanan mu dan Joana" kata Ravansa
"hemm, biarkan dia, tidur dia, tidak akan makan" kata Samuel
semakin yakin keempatnya yang dimaksud bosnya karna Joana tidur kelelahan, padahal memang maksud Samuel tidak memberikannya makan
ia pun makan, setelah tengah malam, Samuel meminta untuk Fabian belikan dan antarkan makan malam untuk Joana di jam 9 malam
"kamu belikan makanan baru buat Joana, pergi kerumah makan yang paling enak" kata Samuel
"makanan apa bos?"
"apa ya, terserah, enak dan mahal udah"
Fabian pun pergi mencari makanan lalu kembali kerumah itu, saat fabian akan masuk kamar Joana, Joana pun menyadari jika ada yang masuk, Joana yang kesal memutuskan turun dari kasur nya dan pindah di sofa yang ada dikamar itu padahal ia tidak tau itu Fabian
Fabian diam disana, ia membiarkan dulu Joana tidur lelap