My Name JOANA

My Name JOANA
116



disana Feris masih memerhatikan Elva, Elva bukannya merasa itu adalah perhatian untuknya tapi nengira itu adalah perhatian Feris untuk Sherla


"dasar mata keranjang" ucap Elva dalam hati


selesai acara itu, semua santai duduk bersama sama, Sherla juga bersama Elva dan Joana disana bersama, Joana melihat sejak tadi tidak ada Egar


"Ello, Egar gak datang?" tanya Joana


"datang, dia ada kelas, nanti sore baru ia lepas"


"ahh, kasian gak bisa lihat acara"


"tapi sejak pagi dia disini kok, mengikuti acara"


"ahh"


hingga sore, waktu menunjukkan jam 3, Joana dan Sherla pamitan pulang tapi Galen memanggil Joana untuk memberikan uang bayaran atas terimakasih nya kepada Sherla sudah mengisi acara itu, tapi karna Sherla sudah mengisinya bersama Elva, dengan baik hatinya Sherla memberikan setengahnya atau 70 ribunya kepada Elva


Elva menolak, tapi Sherla juga menolak tapi akhirnya Elva mengembalikan 30 ribunya, ia hanya ambil 40 ribu saja, agar Sherla mendapatkan uang 100 ribu full


dan karna terus dipaksa akhirnya ia mau..


sepulangnya Joana, baru saja pergi, palingan Joana sampai depan gerbang kampus, Egar datang


"hai, masih kan?" tanya Egar


"masih kalau acaranya, kan sampai jam 5 sore" jawab Galen


"Ello, Joana gak bisa datang?"


"datang, kau terlambat, dia lama tadi disini ya kan kak Galen" sapa Ello


"iya Joana sama sepupunya, tadi mengisi acara malah, kamu nya sibuk mulu" jawab Galen


"ya maklum, banyak kerjaan, bah gak ketemu Joana"


"salah kita gitu?" tanya Ello


"bukan sih, salah Joana gak nunggu gue"


"sih lo siapa?" tanya Ello


"calon"


"calooon, calon apa?"


"suami lah"


"dih suami, situ nyatain perasaannya aja gak berani, pake mau bilang calon suami" jawab Galen


"perasaan? Maksudnya?" tanya Ello


"Ello tidak tau? soal dia sebenernya suka sama Joana?" tanya Galen


"oh, itu, ya tau, banyak orang ngira gitu, tapi dia selalu membantah kan" jawab Ello


"kemarin ngakuin ke aku" jawab Galen


Ello dan Galen menceritakan banyak hal disana, Egar terus merasa malu karna ia dibicarakan, apalagi mendengar langsung jika Ello benar benar akan merestui Joana dengan Egar, bukan dengan siapapun pria diluar sana


Ello mengatakan Vera dan Wita sama dengannya, tau semua tentang perasaan Egar, akan 100 persen mendukung sepenuhnya


"aku gak mau pacaran, aku mau langsung ajak dia menikah" kata Egar


"lah iya, kamu ajak dia menikah juga gakpapa, tapi kasih tau dia, nyatain dulu, biar dia tau perasaan lu" jawab Ello


"memang harus gitu?"


"ya lah, kalau gak kehilangan lo" kata Galen


setelah acara disana selesai, hari kembali berjalan, saat Joana melanjutkan urusannya, ia pergi ke tempat nya kkn, Sherla juga ke sekolahannya, sementara Lestari yang tidak ada kerjaan dirumah memutuskan pulang kerumahnya


Lestari tidak punya rumah, tapi ia pernah mengontrak di rumah nya dulu masih saat anaknya hidup, dan memiliki banyak tetangga yang sering membantunya untuk makan dan kebutuhan lainnya karna Lestari dulunya sangat kekurangan


bagaimana pertama bertemu dengan Joana kecil saja ia saat baru selesai makan dari makanan sisa yang dibuang di tempat sampah dekat rumah Joana


karna dirumah tidak ada orang, Egar yang datang tidak mendapatkan siapapun dirumah itu, beberapa kali digedor dan dipanggil tidak juga ada sahutan


akhirnya Egar pulang, sejak itu pula Egar jarang bertemu dengan Joana karna Joana sangat sibuk urusannya


saat Egar selesai urusan di tempat kkn nya, ia pergi ke kampusnya dan duduk ditaman belakang kampusnya sambil ia bermain hapenya


"Elva, kamu mau kuantar pulang ke kontrakan?" tanya Sahid


"emm, eh kamu duluan deh" kata Elva


"oh bener? terus kamu?"


"aku ada urusan dulu"


"oh, mau kuantar tidak?"


"bah, maksudnya aku mau ke toilet"


"oh astaga, yaudah, gak perlu ditunggu saja?"


"gak deh"


"yaudah"


Sahid pun pergi, Elva melihat Sahid sudah jauh, baru ia mendekati Egar yang duduk sendirian disana lalu menyapanya


"kak Egar" sapa Elva


"eh Elva, hai, ada apa Elva?"


"tidak, aku kebetulan lewat dan lihat kakak, kakak kok sendirian?"


"iya, lagi baru datang dari kkn dan kesini, bosan di rumah"


"ohh"


mereka duduk berdua disana, ingin sekali rasanya Elva untuk menanyakan soal apa hubungan dan perasaan Egar kepada Joana. tapi ia takut, takut jika Egar perasaan (tersinggung) jadi ia membatalkannya


"kamu kenapa?" tanya Egar


"emm?"


"kenapa? kok kaki getar?"


"ehh tidak, dingin saja kena angin"


"oh, ini pakai jaket, kamu saja pakai celana tipis"


"iya kak"


lagi lagi Elva duduk disana bersama Egar tapi Feris lewat dan melihat mereka juga


Feris memerhatikan Elva disana, ia melihat bagaimana tatapan Elva kepada Egar berbeda, Feris tau jika Elva terlihat dari tatapan saja sudah membuatnya yakin jika Elva suka sama Egar padahal disana Egar sibuk dengan hapenya


setelah diam beberapa menit, Egar ada telfon dan ia mendapat kabar baik jika akan pergi ke rumah sakit Netra untuk melihat dan untuk wawasan mereka saja, apalagi di Netra ada murid kkn dari kampus Egar juga


"oh baik pak, saya akan kesana sore ini, baik pak, siap siap" ucap Egar dalam telfonnya


setelah menutup telfonnya, Egar berpamitan pergi kepada Elva


"ada kepentingan ya kak?" sapa Elva


"eh iya, ini mau persiapan buat ke rumah sakit Netra, besok akan ada kunjungan dan wawasan kesana"


"RS Netra?"


"emm, iya tempat Joana kkn, makanya aku harus pergi ikut" jawab Egar


Egar pamitan lalu pergi dari sana, sedangkan Elva sendirian, tak lama Elva berdiri dan berjalan masuk gedung kampusnya dan ia kaget karna Feris memerhatikannya dari area gedung fakultasnya


"oh, kamu suka sama Egar? aduh kenapa nekat sih anak kecil" ucap Feris


"pak Feris? ngapain pak, bapak kok disini? oh jangan jangan"


"iya, saya mengawasi kamu, kamu duduk disana sama Egar toh? saya tau, kamu suka ya sama Egar"


"suka? ah kata siapa? mengarang"


"mengarang apa? saya sudah pengalaman jauh sebelum kamu, kau bilang saya ngarang, kamu itu yang ngarang, suka bilang tidak"


Elva berjalan akan pergi tapi Feris menahannya...


"lebih baik lupakan Egar, kamu bukan levelan dia, levelnya dia jauh dari sosok kamu, daripada sakit hati sebelum mendapatkan, lebih baik mundur" kata Feris


Feris berjalan melewati Elva disana, Elva berdiri, tanpa berkata dan mematung menatap tajam kearah mata Feris