
"capek bicara sama kamu, aku bilang juga berapa kali? aku balik, aku balik kok" jawab Joana terus meyakinkannya
"gak ada, tetep gak bisa, walaupun kamu mau bilang dan ancam aku untuk cerai, itu tidak mungkin terjadi, kau tau siapa aku" kata Samuel
"Baaaaay"
Joana memberikan pengertiannya, ia memberikan janji akan balik, ia benar benar bersumpah akan kembali, tak mudah membuat Samuel percaya tapi akhirnya Joana dapat izin pergi sendirian
"ya Bay?" tanya Joana menatap mata Samuel
"iyaa" jawab Samuel
"makasih Bay" ucap Joana
Joana memeluk Samuel lalu menatap wajah Samuel sambil tersenyum, lalu mencium bibir Samuel dengan senang hati
"emm? Bay? tumben kamu cium?" tanya Samuel
"salah ya?"
"gak lah Bay, aku heran saja, kamu gak pernah gini, kamu selalu kupaksa untuk aku cium, kamu gak pernah cium"
"iyaa karna kamu sudah mengizinkan aku pergi sendirian" jawab Joana
Joana melepaskan pelukan Samuel tapi Samuel menariknya lagi dan memeluknya lagi
"sayaaaang awas kalau seminggu gak datang ya, kamu tau ya akibatnya apa" kata Samuel
"iyaaa aku janji kok"
"iya udah"
persiapan selesai, hari itu, diantarkan Ravansa dan Delvin untuk mengurus penerbangannya, Joana pun memutuskan untuk pergi ke bandara dan jadi pergi sendirian
sesampainya.. mereka pun turun dan Joana siap terbang
"Vansa, Delvin, ini aku kasih buat kalian ya, selama seminggu aku tinggal" kata Joana
"wooh apa ini nona, kenapa banyak sekali sampai satu tas?" tanya Ravansa
"tidak satu tas juga kok, itu isi tujuh juta, jatah buat kalian berdua dan juga Benjie dan Albern, bagi rata" kata Joana
"nona, gak usah deh sebaiknya, kita kan sudah gak ada nona gak ada kerjaan, ngapain masih kasih"
"aku kasih karna mau kasih kerjaan kalian, Benjie dan Albern kan masih stay jaga rumah, nah kalian bersihkan rumah atas bawah setiap paginya ya, aku tidak mau rumah kotor meski aku tinggal" kata Joana
"kalau itu tugas darimu, kami lakukan kok nona tanpa bayaran ini" jawab Delvin
"no, kamu ambil, ini jatah makan kalian berempat" jawab Joana
Joana terus memaksa keduanya mengambil uang itu dan mereka mengambilnya juga karna paksaan
"sudah, buat kalian makan, aku tidak mau kalian bekerja untuk aku tapi mengesampingkan kesehatan, jadwal makan itu penting, paham" kata Joana
"ya nona makasih nona" kata Delvin
"nona, semoga perjalanan mu lancar" kata Ravansa
"yaaa makasih ya Vansa, Delvin" jawab Joana
disini Ravansa dan Delvin saling bertatapan ketika Joana sudah jalan akan menuju pesawatnya
"benar benar tidak ada obat untuk kebaikannya" kata Ravansa
"dia benar benar hebat dari banyak gadis kukenal" kata Delvin
setelah Joana masuk pesawat tak lupa Joana mengirim kepada suaminya, Egar..
Egar sendiri mendapatkan itu langsung beresin rumah sampai bersih sampai wangi, setelah beres semua, Egar niat menunggu beberapa jam di bandara, tapi ia teringat untuk mengabari dulu keluarganya yang lain dengan menelfonnya satu persatu
dan yang pertama ia telfon adalah Melanie..
"halo ma?" sapa Egar
"ya Egar, kenapa?" tanya Melanie
"loh kok kenapa ma? ini Joana mau datang hari ini"
"waah jangan deh ma, urus pasien dulu gak papa" jawab Egar
lalu menelfon Amir, karna keduanya kan orang tua kandung Joana yang berhak dapat kabar pertama soal anaknya
"halo, pa?" sapa Egar
"ya Egar"
"papa dimana? ini kan Joana mau datang?"
"waduh, papa gak bisa pulang, nanti malam baru bisa, gimana nih ya?"
"waduh Malan juga gak bisa ada operasi"
"lah itu dah, gimana? papa juga ada jadwal rutin kontrol pasien, ini terakhir lagi, jadi harus datang" jawab Amir
"yaudah urus pasien saja pa, gakpapa kan ada Egar kok" kata Egar
baru lanjut kabari Enggar dan terakhir Meliana, sayangnya Enggar dan Meliana juga tidak bisa hadir karna Enggar ada pengajaran di sekolah farmasi dan Meliana juga ada rapat pembahasan praktik murid disekolah kampus ia mengajar
alhasil keduanya tidak bisa hadir dan Egar menyambut Joana sendirian di bandara, sebenarnya yaa keempat orang tuanya bahagia lah jelas, tapi pekerjaan mereka tidak bisa mereka tinggalkan, jadi menyambut kedatangan Joana mereka tidak bisa
sesampainya dibandara, Egar menunggu hingga Joana sampai dan ketika Joana telah sampai di indonesia, Joana menghirup aroma udara yang ada diindonesia yang bertahun tahun sudah ia tinggalkan
"terimakasih ya Tuhan" ucap Joana mengungkapkan perasaannya bisa menginjak lagi kakinya di tanah kelahirannya meskipun sebentar
setelah turun dari pesawat dan menuju ke dalam bandara indonesia, Joana mencari Egar hingga ia tak jauh dari tempatnya datang, ia melihat suaminya itu dan suaminya pun menyadari keberadaannya
mereka berjalan saling mendekati dan berpelukan..
"gimana perjalanan Moy?" tanya Egar
"lancar Poy, hehe, akhirnya ya Poy"
"iya Moy, ayo langsung balik kerumah, kamu perlu istirahat"
pertemuan yang tidak begitu menggebu gebu karna enam bulan lalu sudah pernah bertemu, dan mereka pergi kerumah mereka
diperjalanan..
"mama papa kemana semua gak datang?" tanya Joana
"mereka ada kesibukan Moy, Malan operasi pasien, Pamir kontrol terakhir pasien" kata Egar
"Paeng sama Malia?"
"Paeng ada jadwal mengajar di sekolah farmasi, Malia juga ada rapat buat praktik sekolah kampus nya"
"ahh, sibuk" ucap Joana menunduk
mendengar itu Joana antara kecewa tapi yasudah lah biarkan saja, toh kesibukan mereka dibutuhkan orang lain
setelah sampai, Joana memang tidak ragu atas kerapian dan kebersihan suaminya itu, bahkan ketika masuk, Joana merasakan aroma begitu menenangkan pikirannya
Joana masuk kamar nya dan melihat kamar begitu rapi, ia pun duduk diatas kasur itu
"kenapa Moy?" tanya Egar
"emm, ini aku senang akhirnya aku bisa tidur lagi disini, bertemu kamar ini, wangi dan bersih Poy, kamu tidur dimana setiap harinya?"
"disini, kecuali week end itupun kalau aku free work, ya gantian keruma Paeng dan Pamir"
Egar membawa masuk tas pakaian Joana dan meletakkannya dekat lemari lalu melirik arah Joana dan ia pun mendekati Joana dan memeluk Joana disana lalu meminta Joana untuk istirahat dulu
"istirahat, kamu sudah jalan jauh" kata Egar
"iya aku mandi dulu saja"
"yasudah"
Joana pergi mandi dulu barulah ia kembali duduk disamping Egar dan memeluk Egar
"Poy, makasih ya masih menjadi suami siaga untukku meskipun kita ldr" kata Joana
"iya lah, waktu dan jarak tidak merubah apapun perasaan ku kepada kamu, dan siapapun orang berusaha membuatku meninggalkanmu, tidak akan bisa menghilangkan cinta ku"