
akhirnya ia menanyakan kepada segerombolan murid yang ada diluar tak jauh dari pintu keluar fakultas keguruan
"kak kak, saya boleh tanya dimana ruangannya pak Dori?" tanya Rahayu
"oh itu, lurus saja, itu disebelah toilet dosen sekitar dua ruangan ke selatan, itu ruangannya" jelas salah satu murid disana
"oh ya udah makasih kak"
"yaa, eh ya, nama mu siapa?" tanya murid itu
"Ayu kak"
"ahh salam kenal ya, aku Nero"
"yaa kak, salam kenal balik"
"sayaaaang?" ucap Fadia
"ahh iya iya, jangan cemburu biar aku jelaskan" jawab Nero
murid yang ditanyai oleh Rahayu itu adalah Nero dan gadis yang cemburu karna melihat Nero menatap Rahayu dengan sangat lekat itu adalah Fadia
mereka sedang menikmati masa lalu di sekolah kampus itu, jadi mereka sengaja datang dan duduk berkumpul dengan teman teman yang lainnya, teman lama Nero dan Fadia saat sekolah
Nero menjelaskan agar Fadia tidak salah paham kenapa ia menanyakan nama gadis itu, betapa ia teringat bagaimana pertemuannya dengan Joana pertama kali, sama dengan yang baru saja dialaminya
dan beberapa teman Nero disana membenarkan jika Nero memang teringat ketika awal kenal Joana yaitu ketika Joana menanyakan dimana ruang pribadi Dori, makanya Nero teringat dengan Joana, disini lah baru Fadia memahami dan tak lagi cemburu
"udah? masih cemburu kalau Joana?" tanya teman teman Nero kepada Fadia
"haha tidak tidak, tapi eh gimana kabar Joana ya? aku malah ikut kangen dia" jawab Fadia
"iya ya, kemarin katanya datang dari amerika?" tanya yang lain
"iya datang, seminggu" jawab Fadia
"ketemu?"
"ketemu, tapi bentar, kami sibuk" jawab Fadia
"dia kan lama ya di amerika, tiga tahun, masak balik seminggu"
"ya kesibukannya disana nungguin dia kali, udah lah jangan bahas Joana, doain dia terbaik saja" kata Nero
sementara Rahayu setelah sampai diruangan Dori, ia mengetuk, Dori membukakan dan menerima beberapa laporan tugas dari kelas Rahayu
"pak ini ada serahan dari dosen" kata Rahayu
"kenapa kamu? kemana ketua kelas di prodimu?"
"gak papa pak, ketua kelas sudah pergi duluan mungkin ada urusan lainnya"
"ahh, mirip dengan murid kesayangan saya, selalu mau saja disuruh padahal bukan urusannya dan bukan tugasnya" jawab Dori
Rahayu hanya tersenyum saja, lagi lagi ia mendengar kata sebuah rindu..
"ada apa dengan hari baruku di kampus baruku?" gerutu Rahayu bingung situasi banyak rindu
saat keluar, Rahayu melewati ruangan dosen utama sekaligus pemilik kampus, siapa yang tidak kenal dengan Dipo
saat bersamaan dengan Rahayu lewat, Dipo dan anaknya yaitu Feris keluar dari ruangan itu untuk ikut rapat yang sebelumnya didatangi oleh dosen Rahayu yang menyuruh Rahayu antar tugas ke ruangan Dori
Rahayu menyapa keduanya dengan sopan karna sudah bukan rahasia lagi jika Dipo dan Feris adalah ayah dan anak pemilik kampusnya
"kamu yang dari ruangan Dori?" sapa Dipo
"iya pak, saya, sudah bertemu tadi sama pak Dori nya"
"oh ya, kamu murid baru di kedokteran kejiwaan itu kan? Rahayu bukan? saya bisa tolong kamu katakan kepada setiap anak jaga di perpustakaan untuk rapikan semua buku buku, akan ada pendataan dari pihak buku dunia" kata Dipo
bukan tidak kenal, Dipo tau lebih dulu dari siapapun soal Rahayu karna ia memegang semua data masuk dari murid baru masuk, dan dia juga sebagai dosen humble selalu menyapa ramah kepada siapapun termasuk Rahayu, jadi Dipo tau jika Rahayu bisa membantunya urusan perpustakaan karna Rahayu tercatat paling sering masuk perpustakaan dan meminjam beberapa buku selama beberapa bulan jadi murid baru dikampusnya
"yaudah, Feris, kamu bisa sama Rahayu ini, antarkan dia juga, kamu yang bertugas saya perintahkan kan" kata Dipo pada anaknya
"yaa pa" jawab Feris
Dipo pun pergi ke rapatnya sementara Feris jalan bersama Rahayu, mereka berkenalan disana, tapi Feris memang sedikit dingin meskipun tidak sedingin Egar, jika Egar memang sudah sikapnya yang dingin tapi jika Feris karna ia menjaga perasaan Elva dan hubungannya yaa sebenarnya sama juga karna Egar juga menjaga agar perasaannya tetap utuh bersama Joana
namanya orang, kan beda beda, beda juga orangnya beda juga cara menjalani kehidupan mereka nantinya
saat jalan..
"kamu Rahayu? anak baru kedokteran?" tanya Feris
"iya pak"
"kenapa kedokteran kamu ambil?"
"keluarga saya basic medis"
"oh ya? emm, dokter apa?"
"jiwa pak"
"jiwa? ahh, keren"
"keren? memang keren segitu nya ya pak masuk fakultas kedokteran, karna beberapa murid senior lainnya juga bilang begitu"
"yaa karna di fakultas itu benar benar harus kuat mental dan fisik, karna disitu tingkatan kedokteran paling susah, karna mengurus pasien jiwa"
"iya sih pak, justru itu alasan saya masuk kedokteran jiwa"
mendengar jawaban itu lagi dan lagi, sama saja, Feris dengan yang lain memiliki alasan sama mengapa sedikit ada celah dimana Rahayu dan Joana terlintas hampir mirip
"kenapa diam pak?" tanya Rahayu
"ahh? tidak, aku hanya teringat seseorang saja"
"bapak sibuk?"
"gak kok, santai, saya tidak ada jadwal mengajar" jawab Feris
padahal Feris hanya merasa ia sedang seperti bicara dengan Joana, karna melihat sikap dan attitude Rahayu memang mirip dengan mantannya itu
"oh ya pak, kan pak Feris anak nya pak Dipo tadi kan?" tanya Rahayu
"yaa"
"apa pak motivasi buat banyak perpustakaan, kan disini banyak tiap fakultas beda beda gedung dan tiap gedung selalu ada perpustakaan"
"oh yaa karna biar lega aja, jadi gak kumpul banyak murid di perpustakaan umum, itu dulu sejarahnya juga masukan dari murid kejiwaan"
"oh ya? waaah, masukan diterima ya? hebat dong, tapi emang sangat bermanfaat setiap fakultas ada perpustakaan, bagiku lebih nyaman ketika ada keperluan yang gak harus keluar dari gedung"
"kamu sudah ke perpustakaan?"
"sangat suka pak, saya suka membaca, seperti sahabat saya membaca, hiburan saya membaca"
"emm"
jawaban yang mungkin sama ketika itu ditanyakan kepada Joana, dimana buku dan membaca sudah jadi jiwa Joana, bahkan membuat Feris semakin dibuat rindu sosok Joana ketika Rahayu mengatakan alasannya mengapa ia menyukai membaca, dan beberapa jawaban yang lain
karna sebagai mantan pacar Joana, terbilang Feris lah paling lama berpacaran dengan Joana dibandingkan Joana dengan mantan mantan nya yang lain, untuk itu bagaimana Feris begitu mengenal sosok Joana luar dalam dan ketika mendengar ucapan Rahayu seperti jawaban yang menyetrum otaknya untuk mengingat kembali sosok Joana
"diam lagi pak? kita sampai?" sapa Rahayu
"ahh iya, jadi bengong saya, gak fokus"