My Name JOANA

My Name JOANA
181



"doakan Egar" jawab Fero


"duh cepat dah, kalau doa mah jangan kuatir"


"kak Egar apa dah" ucap Alisia malu


Alisia pun masuk, Fero berpamitan, Egar duduk lagi di kursi depan rumah itu sembari membaca majalah, kebiasaan Joana sudah merasuki dikebiasaan Egar yaitu membaca, apalagi tentang kasus penyakit dan masalah kejiwaan


tak lama Sherla datang dengan tas gitar di punggungnya dan duduk menyapa Egar


"Egar" sapa Sherla


"Sherla, kenapa dah harus ngagetin?"


"habis, masak kamu tidak dengar aku buka pintu gerbang?"


"aku baca majalah, ada pria bermasalah dengan pacarnya ditinggal nikah malah bunuh diri"


"dih, iya banyak sih, diamerika kasus begitu biasa, disini saja kasus gitu ditindak lanjuti, di amerika kaga ada celah berhentinya, kalau gak mati ya gila" jelas Sherla


"hemm, eh kamu dari mana?" tanya Egar


"biasa Egar, dari mentas di cafe"


"emm, enak punya duit sendiri sekarang"


"iya, eh aku mau bilang sesuatu tapi biar nanti deh, sekalian sama mama dan papa"


"soal apa?"


"soal tawaran konser, aku kan ada produser sekarang, udah masuk setengah bulan, 2 mingguan, dan sebulan nanti mau ngadakan konser tipis tipis saja, mau izin sama mama papa"


"oh yaudah nanti kan malam mama datang"


"iyaa"


mereka pun masuk, sekitar jam 7 malam, Amir dan Melinda yang datang..


"pa, bibi, kok berdua? mama mana?" tanya Egar


"eh Egar disini?" tanya Melinda


"iya sejak tadi"


"mama masih ada ketemu pasien paling jam 8 baru sampai sini"


mereka pun makan malam disiap kan oleh Lestari, tapi semua berkumpul makan, malah Egar masih duduk diruang tamu


"Egar ayo, kenapa gak makan?" tanya Lestari


"biar sekalian nunggu Malan" kata Egar


"Melanie ada ibuk, ibuk makan selalu terakhir kok"


"iya gakpapa, nanti biar bareng ibuk sama mama"


"yaudah"


disinilah mengapa keluarga Joana yakin terhadap anak nya menikah dengan Egar, karna sikapnya kepada orang tua Joana sama dengan kepada orang tua kandungnya


setelah Melanie datang...


"maa" sapa Egar


"hai, Egar"


"baru datang ma?"


"iya, aduh kerjaan mama, banyak, kamu sudah makan?"


"belum"


"nunggu apa?"


"nunggu kamu dia, kasihan kamu katanya kepikiran" jawab Amir


"astaga Egar, iya tunggu mama mandi dulu"


"iyaa" jawab Egar


baru mereka makan bertiga, karna sisanya sudah makan lebih dulu tadi, selesai makan, Melanie menemani suaminya menonton televisi


"ma, pa" sapa Egar


"Egar, sini duduk" kata Melanie


Egar duduk di samping Amir, Lestari ikut datang membawakan 2 gelas minuman susu untuk Melanie dan Amir, lalu mereka pun mengobrol, Egar membahas soal Joana


ia jelaskan apa yang menjadi Joana tidak bisa pergi pulang kampung, mendengar itu, Melanie dan Amir kaget, ia bingung bagaimana bisa pasport terblokir begitu saja?


tapi bagaimana lagi? mereka tidak bisa membantu apa apa untuk Joana selain doa yang terbaik


esoknya, saat Egar bangun pagi tapi tidur lagi, Melanie dan Amir tidak ada jadwal keluar rumah jadi diam dirumah, saat makan pagi, Sherla mengatakan untuk konsernya nanti dan keduanya memberikan izin kepada Sherla


seiring hari berlalu, Melinda dan Dimas bingung kenapa tidak ada kabar Joana balik? padahal mereka tau jika Joana janji balik setiap 2 bulan sekali


Melinda keluar dari kamarnya dan menyapa kedua kakaknya yang duduk santai depan televisi


"bang, kak, kok Joana gak ada kabar balik?" tanya Melinda


"eh iya, semalam dijelaskan sudah sama Egar tidak bisa pulang, karna paspor nya terblokir" jelas Melanie


"terblokir?"


"iya, kan harus mengurus dulu, jadi paling tidak jatah liburnya dia selanjutnya baru bisa" kata Melanie


disini, Melinda melirik kearah Dimas, ia mulai curiga jika ada yang tidak beres dengan ini, jadi ia berpikir untuk menanyakan langsung kepada Joana


saat mereka didepan rumah itu, Melinda menelfon keponakannya itu, dan Joana langsung angkat, tapi ketika ditelfon bibinya itu, dirumah Joana ada 2 ketua terkejam itu


Joana sedang makan didapur dan mereka sama sama diruang tamu, sembari memainkan hape, mendengar Joana dapat telfon, mereka merasa penasaran


tapi Joana menspeaker telfon itu karna ia sedang makan, jadi tidak mungkin pegang hape sambil makan


"halo bi?" sapa Joana


"Joana, kamu tidak jadi pulang?" tanya Melinda


"iya bi, tiket sudah aku beli sampai di 3 bandara, tapi paspor ku terblokir"


"apa memang terblokir? apa yang terjadi?" tanyanya


"aku juga tidak tau"


"lalu gimana itu? coba deh kamu mengurusnya di pemerintahan, atau minta bantuan siapa yang paham" kata Melinda


"iya, nanti aku akan temui pemerintahan deh sepertinya, aku juga kepikiran itu bi, cuma aku lanjut kerjaan saja"


"okeh deh kamu kabari lagi gimana selanjutnya sama bibi ya" kata Melinda


"ya bi" jawab Joana


Melinda menutup telfonnya dan Dimas menyentuh tangan istrinya, ia tau istrinya kepikiran, tak lama Alisia berpamitan akan pergi hari itu


"bibi, paman, Aal pamit pergi dulu ya" kata Alisia


"loh, kamu ada kerja week end gini?" tanya Melinda


"tidak sih bi.. tapi.. emm"


"hang out sayang, kamu jangan tanya lagi deh, tuh pacarnya datang" ledek Dimas


"ahh astaga, iya iya paham bibi" jawab Melinda


"apa paman, aku tidak pacaran kok"


"iya, tau tau menikah" jawab Dimas


"pamaaaan"


"paman, selamat pagi" sapa Fero


"pagi Fero"


"Fero mau jalan ya?" sapa Melinda


"iya bibi, ajak Aal dulu ya"


"iya, hati hati ya"


mereka pun pergi, dan Fero membawa Alisia pergi, mereka ternyata menuju salah satu rumah baru


"ini rumah siapa dokter?" tanya Alisia


"rumah aku, aku ajak kamu buat lihat lihat, mau kan?"


"boleh"


mereka masuk, dan saat didalam setelah melihat lihat, Fero menyentuh tangan Alisia, Alisia kaget tapi ia diam, ketika Fero menjelaskan rumah itu sengaja ia beli untuk masa depannya dengan Alisia


Fero menyatakan perasaannya juga untuk mengajak Alisia menikah, dan Fero mengatakan agar Alisia bisa tinggal disini selamanya sebelum pernikahan mereka bahkan


"dokter, jangan bercanda deh" kata Alisia


"aku serius Aal, aku beneran, aku mau ajak kamu serius, aku akan menyiapkan pertunangan, apa kamu mau?"


"dokter?"


"tidak jawab sekarang tidak masalah kok"


"aku mau kok dokter" kata Alisia


"beneran?"


"iya serius"


Fero akhirnya memberikan cincin untuk Alisia dan diterima oleh Alisia, mereka akan mengadakan pertunangan, sembari itu mereka mengurusnya bersama sama, keduanya mengatakan kepada orang tua mereka untuk rencana itu


Alisia diantarkan lagi pulang kerumah, lalu Fero pamit pergi