
dimana Alisia adalah pasien paling berbahaya tingkatan stress nya
"Joana, kamu resmi keluar dari ruangan sempit ini, jangan disini lagi" kata Ridha
"saya balik lagi keruangan umum ya"
"bukan, kamu saya kasih ruangan sendiri, buat kamu pribadi, yang lebih luas dan nyaman"
bahkan dokter utama disana yaitu Ridha, memberikan Joana ruangan kerja setelah Joana resmi memperpanjang kontraknya untuk 6 bulan kedepan lagi yang artinya akan bekerja setahun lagi baru Joana diangkat jadi staff tetap disana
"ini bener ruangannya buat Joana bu?"
"iya lah, dan jabatan baru, bacalah"
"serius bu?"
"iya serius kamu ini tanya terus deh, selamat bekerja"
Joana mendapatkan jabatan baru juga, yaitu dokter pengawas, bukan lagi dokter merawat pasien tertentu tapi mengawasi semua staff suster yang bekerja dan membantu yang kesulitan saja
gaji tentu naik, ia langsung dapat bonus bulan itu dan melihat rekeningnya banyak, ia langsung tanpa ragu mengambil cukup banyak, lalu membeli makanan banyak dan pulang disana membawakan bahan masakan banyak
"Joana banyak sekali" kata Lestari
"aku punya bonus dari kantor jadi aku belikan semua bahan masakan buat makan malam nanti ya buk, aku telfon paman Dimas dan bibi Melin juga" kata Joana
"okeh siap, kita makan makan nanti malam?"
"iya makan makan malam"
Joana melihat Alisia dikamar tamu dan sedang bermain laptop, ternyata laptop milik Sherla dipinjamkan oleh Sherla
"main laptopnya siapa?" sapa Joana
"Joana? ini aku dipinjami sama Sherla, aku dikasih buat bermain, aku senang dia baik"
"kemana Sherla?"
"dikamarnya katanya belajar"
"eh nanti makan makan sama keluargaku, kamu nanti ikut, makan bersama kita"
"boleh aku ikut memang?"
"boleh dong"
malamnya..
makan malam siap juga, semua sudah ada dirumah, Joana juga sudah mengenalian Alisia kepada Dimas dan Melanie, dan keduanya menyambut dengan baik juga
setelah acaranya selesai, Sherla yang melihat Alisia belum tidur dikamarnya..
"kamu belum tidur?"
"belum Sherla, aku masih menikmati rasanya punya keluarga, aku bahagia hari ini, semua berkat Joana"
"aku hidup sekarang juga berkat dia"
"hidup?"
"jika Tuhan tidak mempertemukan aku dengan Joana, aku mungkin mati" kata Sherla
Sherla menjelaskan semuanya tentang dirinya, Alisia kaget karna ia pikir Sherla keluarga asli dirumah ini, dan kaget mendengar penjelasan Sherla siapa dirinya sebenarnya
"bukan hanya kalian berdua, saya juga memiliki hutang nyawa kepada Joana" kata Lestari masuk kamar Alisia
"buk Tari" ucap Alisia
"kalau bukan karna dia, aku mati juga kali, karna makan sampah, makan sisa sisa orang"
Lestari menjelaskan dirinya juga siapa dan disini lah, Alisia kaget bukan main, ternyata 2 orang dalam rumah itu yang tidak sedikit pun terlihat seperti orang lain dari keluarga ini tapi seperti terlihat keluarga sendiri
"kebaikan mereka tidak main main ya" kata Alisia
"bener, mereka tidak main main kebaikannya, aku tidaj tau harus bagaimana" jawab Sherla
"buktikan, kepada mereka, kalian bisa membuat mereka bangga, itu saja, masa depan kalian panjang nak" kata Lestari
semua terharu dan keduanya memeluk Lestari disana...
esoknya, Joana pergi ke Netra, seperti biasa, saat semua memberikan selamat atas peningkatan pekerjaan Joana, Wita baru sempat menemui Joana
"Joanaaa" teriaknya
"eh Wita?"
"aku dengar semuanya soal kamu dan Aal, selamat ya, aku bangga deh, maaf baru temui kamu, setiap kali aku sibuk dan setiap aku senggang kamu sibuk"
"haha iya lah santai"
"aku bangga"
yap, Fero, dimana Fero datang dan Joana menjelaskan semua tentang pasien survivalnya dan Fero bangga disana
melihat itu, Wita hanya diam, karna memang pantas Joana mendapatkan banyak pujian termasuk dari Fero
ketika Wita pulang dan malam nya janjian keluar dengan Galen, mereka pergi ke tongkrongan Galen dan mengobrol disana, seketika Wita teringat soal kedekatan Joana dan Fero
Wita memberikan masukan agar Egar cepat menyatakan perasaannya
Wita tau semua tentang Egar sejak ia berpacaran dengan Galen, Galen menceritakan semua kepada Wita, toh Wita kan juga sahabat Joana
karna itu juga Egar mulai terbuka juga kepada Wita soal perasaannya kepada Joana dan Wita mendukung
Wita menjelaskan jika semua teman dekat Joana akan mendukung Egar jika mendekati Joana
"udah daripada telat, kalah start kalau sama dokter Fero bukan kalah start pacaran lagi ya, tapi kalah start fatal malah, menikah bagaimana" ucap Galen
"husss, Galen" ucap Egar
"loh serius ini, bener Galen" kata Wita
"iya bener aku" jawab Galen
"terus aku gimana?"
Wita mengarahkan harus apa harus bagaimana, melakukan apa untuk mendapatkan Joana, dan mulai mengerti akhirnya Egar mulai menyusun rencananya mendekati Joana lebih intens lagi dan lebih berani dari sebelumnya
hari berlalu, seiring berjalannya waktu, ketika Joana tidak ada kerjaan di hari week end nya, ia hanya dirumah
saat dirumah, menonton televisi pagi, sekitar jam 10, bersama Lestari dan Alisia, tapi Sherla pergi, karna ada urusan tugas nya bersama teman teman kampusnya
"Joana pamit dulu" kata Sherla
"oh iya Sherla, byebye" jawab Joana
"iyaa bye, eh iya kunci mobil di meja kamar, ambil saja, aku naik taksi, taksinya temanku didepan kok, bye"
"byee"
tertinggal Lestari, Joana dan Alisia, Joana pergi kedapur membuat makanan camilan, karna ia lapar ringan, haha
tak lama suara bel berbunyi, melihat Lestari karna cukup tua, jadi Alisia yang akan membukakan nya saja, dan saat Alisia membukanya itu adalah Fero
"selamat siang" sapa Fero
"ya, siang, ada apa ya pak?"
"saya mau.. em ketemu sama Joana"
"Joana? oh bentar, ada urusan apa ya, biar saya sampaikan"
"emm ini, bunga"
"bunga? oh buat Joana?"
"bukan, buat kamu ini"
"hah? aku?"
Joana sendiri yang selesai didapur sejak tadi, melihat tidak ada Alisia, dan Lestari mengatakan ada yang datang, Alisia yang membukakan jadi Joana mendekati arah pintu
"pak Fero?" sapa Joana
"emm hai, Joana, hai" sapa Fero
"Joana ini bunga" kata Alisia
"bunga? bunga apa ya pak?"
"emm itu buat.. saya kasih ke Alisia, tapi.. hehe" kata Fero
"ah astaga, kasih kamu ini, buat kamu Aal" ucap Joana
"Joana gak marah?" tanya Fero
"marah? bah kenapa? seneng malah"
Joana mengajak Fero masuk dan duduk diruang tamu, lalu menigngalkannya dulu bersama Alisia untuk ia buatkan minuman, dan kembali lagi membawa minuman itu
"pak dokter, ini minum" sapa Joana
"makasih Joana"
"makasih bunganya buat Alisia pak"
"Joana, memang kita pernah kenalan ka?" tanya Alisia berbisik
"pernah ketemu kamu pas masih di Netra"