My Name JOANA

My Name JOANA
104



"iya cerita pertama saja buatku suka, sama novel ini, ini inggris"


"boleh deh, kamu simpan saja, kasih kan ke kak Nan tadi didepan ya, yang kusapa tadi"


"beneran? bayarnya?"


"nanti bayarnya bilang aku bayar"


Sherla pergi dan kedua teman Joana hanya mematung melihat Sherla disana, terutama Ello, sebagaimana Ello tidak pernah melihat gadis yang paket lengkap seperti itu


diakui memang standart wajah Sherla terbilang cantik dengan wajah cantik dan bibir kecil seksi, wajah mulus dan seluruh badan mulus putih bersih, mana wangi dengan berani berpakaian seseksi itu, waah sungguh terlihat sempurna


begitupun Vera, dimana ia merasa kali ini Nandito tidak mengerjainya soal ini, benar benar ada gadis itu


"aku bicara kalian diam" ucap Joana


"sori Joana, eh itu siapa dah Joana? kamu kenal?" tanya Ello


"itu, oh yang baru saja itu? namanya Sherla, dia sepupu ku" jawab Joana


"sepupu? aku baru tau kamu ada sepupu?" jawab Vera


"yaa sepupu jauh, tidak pernah ketemu"


"terus ini?"


"disini dia tinggal sama aku, karna keluarganya sudah tidak ada, jadi biar sama keluargaku"


"emang dimana sebelumnya?" tanya Ello


"di amerika"


"ahhh baru tau aku" jawab Ello


"iya sama" jawab Vera


sementara Sherla yang pergi kearah meja Nandito, bagaimana ia membuat 4 pasang mata disana membelalak terpesona melihat Sherla yang menyapa Nandito, bahkan Nandito merasa hampir pingsan ketika Sherla menyapanya sayang nya ia tidak paham bahasa inggris


"kak, ini berapa ya aku mau beli?" tanya Sherla


"ahh. emmm..." ucap Nandito kebingungan


"ini, dua buku, satu komik satu novel, aku beli, masukkan ke dalam bon pembayaran" kata Sherla


"ahh"


Sherla bingung karna melihat Nandito hanya diam dan kebingungan, dan beberapa mata juga melihat kearahnya


karna kesal, Sherla meneriaki Joana dari sana...


Joana mendengar itu seketika langsung berdiri dan mendekati Sherla, ia baru ingat jika Sherla kesulitan berkomunikasih disini


"ehhmm kak Nan, ini dia mau beli ini, mau dibayar dibawa pulang, kakak catat ya, biar nanti aku bayar pakai kartu member ku" kata Joana menjelaskan


"ahh astaga, okeh siap"


"ah dari tadi juga, susah amat bicara" kata Sherla menggerutu


Joana meminta agar Sherla tidak pergi lagi dari sampingnya agar ia bisa membantu urusan Sherla, saat Joana akan pergi, Nandito menahan tangan Joana


"Joana siapa nama nya? aku boleh berkenalan"


"oh astaga iya aku lupa kenalin kepadamu"


Joana mengenalkan Sherla kepada Nandito dan mengenalkan juga kepada Ello dan Vera disana, dikenalkannya sebagai sepupunya saja


Joana membawa kembali Sherla untuk duduk bersamanya, dan diam disampingnya untuk tidak kemana mana, karna memang tidak semua orang di Indonesia mahir atau sekedar bisa bahasa inggris


Sherla pun duduk bersama Joana, disana Vera memerhatikan Ello, ketika Ello tidak berhenti melirik arah Sherla, Sherla sibuk membaca melanjutkan komik yang ada ditangannya


setelah hari itu selesai, mereka pun pergi masing masing, saat baru keluar toko buku, Vera pamit duluan, disusul juga Ello, tertinggal Joana dengan Sherla


"Joana, pergi kemana lagi?" tanya Sherla


"kamu masih mau pergi?"


"iya, ayo lah menonton"


"yaa, yaudah jalan jalan saja kek"


"yaudah ayo, ke market, aku juga mau beli beberapa kebutuhanku"


"okeh"


mereka berdua jalan dan membeli kebutuhan mereka sehari hari, Joana juga membelikan untuk kebutuhan yang akan Sherla ambil, yaa namanya juga Sherla masih baru dan belum memiliki uang sepeser pun diindonesia, jadi Joana membayari semuanya


setelah selesai semua, Joana dan Sherla kembali kerumah mereka. karna sudah sore menjelang malam, mereka mandi, lalu siap siap pergi makan malam, dan malamnya mereka makan malam bersama


setelah makan malam bersama, Joana masuk kamar nya tapi tak lama Sherla masuk kamar Joana


"ngapain" sapa Sherla


"belajar, ada apa?"


"tidak ada, aku hanya ingin duduk disini" kata Sherla


"yasudah, aku sambil belajar kan gakpapa ya"


"iya"


memerhatikan Joana belajar serius, Sherla menyapa Joana


"kamu kan sudah pintar, memang masih butuh belajar ya?" tanya Sherla


"iya lah, meskioun pintar kalau gak di asa itu percuma"


"iya juga sih, tapi kan sudah pintar"


"kamu tau darimana aku pintar?" tanya Joana


"buktinya pertukaran pelajar ke amerika, pintar lah"


melihat sikap Joana, benar benar merasa paket lengkap, cantik, baik hati dan sopan, bahkan periang, plus pintar, siapa lelaki menolak, pantas saja Motheo dan Samuel menyukainya tapi itu pemikiran Sherla


padahal pemikiran Joana ya sama dengan teman teman Joana yang baru bertemu Sherla, cantik, seksi, wangi, putih bersih


ya namanya manusia, selalu ada saja merasa orang lebih baik darinya, dirinya jauh lebih kurangnya


"aku turun menonton televisi saja deh, kurasa kamu butuh waktu sendirian"


"iyaa"


Sherla duduk didepan televisi dan melihat acara acara, tapi ia menemukan talkshow amerika, ia tidak suka talkshow, membosankan tapi hanya itu channel yang ia mengerti pembahasannya


tak lama Melanie dan Melinda juga melewati ruang televisi dan melihat ada Sherla, mereka mendekati Sherla dan duduk bertiga disana


"Sherla kok sendirian, Joana mana?" sapa Melinda


"eh bibi, Sherla dikamarnya, tadi belajar, kau takut ganggu jadi kesini"


"emm, kami bisa ya duduk disini, kami ingin mengobrol lebih dekat" kata Melanie


"iya bi, bisa"


mengobrol bersama Sherla disana, mendalami sisi dari Sherla, Sherla terlintas gadis yang cepat tangkap, artinya cukup pintar, dan pengalaman disana membuat keduanya merasa Sherla pantas lanjutkan sekolah


karna Sherla menceritakan ia hanya sekolah sampai SMP saja karna sejak lulus SMP, orang tuanya mati dan ia tidak lanjutkan sekolah karna dikejar oleh Motheo dan anak buahnya itu


malam nya setelah jam tidur, Melaie masuk kamarnya dan melihat Amir duduk diatas ranjang sambil main hapenya, Melanie menceritakan soal Sherla dari apa yang ia dengar dari Sherla


"kasihan anak itu" kata Melanie


"ma, gimana kalau sekolahkan dia saja? kita lanjutkan sekolah SMA nya disini, kasihan loh dia masak hanya sampai SMP" kata Amir


"ahh setuju pa, terus selepas SMA, kita tawarin sekalian kuliah gimana?"


"iya bener, yaudah nanti besok malam kita bahas sama Melinda baru keputusan Melinda apa kita lanjut ke Sherla nya"


"iya pa"


hari berlalu, esok malamnya, karna permintaan dari kakak kakaknya, Melinda menginap kembali dirumah Amir, saat malamnya, Melinda masuk kamar Amir yang sudah ada Amir dan Melanie


mereka mengobrol disana membahas soal sekolah untuk kelanjutan Sherla dan ternyata Melinda sangat setuju, ia mendukung keputusan kedua kakaknya dan bahkan meminta agar menyumbangkan juga pem-biaya-an nya